
Dalam sekejap, semuanya terasa sangat kacau. Aku bingung. Kuangkat tubuhku perlahan, dan otomatis pinggulku pun terangkat.
"Ouch!" gadis itu kaget -- aku juga kaget. Bedanya, dia kaget karena pergerakanku yang ia rasakan, sementara aku kaget karena responsnya. Dan di saat bersamaan, aku langsung berhenti sebelum aku memisahkan diri sepenuhnya. Matanya seketika kembali terbelalak super lebar, dan tahu-tahu tangannya turun, meraba ke bawah dan menyentuh diriku. Setelah jemarinya merasakan dan otaknya menangkap informasi, dia spontan menarik tangannya. Dalam waktu yang bersamaan pula, tanpa sengaja sikunya menghentak tanganku yang sudah goyah. Alhasil, lenganku seakan lumpuh sesaat dan tubuhku praktis jatuh menindihnya. Tepatnya, aku kembali terhenyak kepadanya, terbenam.
"Ouch! Ssssh...!"
Ya ampun... dia refleks tersentak dan tak sengaja *endesah, plus, refleks menutup mulutnya dengan tangan. Berani sumpah, matanya kembali terbelalak dan aku melihat sirat nikmat terukir di wajahnya -- walau hanya sesaat.
"Kamu menginginkannya?" tanyaku, aku berbisik di telinganya, lalu menggigi* lembut bagian itu hingga ia gemetar.
Dia tidak menyahut, tetapi matanya otomatis terpejam dan pinggulnya melengkung lembut ke arahku. Yap, aku menyadari sesuatu. Tindakan persuasif ini membuatnya senang, dan aku sangat senang melihatnya senang. Di saat itulah, aku menciumnya dengan keras, menyerbu ke dalam mulutnya dengan bebas dan *iar. Seketika itu juga, gadis itu memperdengarkan *rangan manis. Dan kemudian ia menciumku balik. Tidak salah lagi. Dengan tubuh menggelenyar nikmat, dia menyapukan lidahnya dengan ringan ke lidahku, dan tanpa kusadari tangannya berada di bahuku, lalu meluncur turun, menuruni lengan hingga nyaris di pinggangku. Kaki kanannya mulai meluncur menggoda di atas kakiku.
"Katakan, kau menginginkan ini, please... katakan."
__ADS_1
Aku kembali bergerak perlahan. Dia menikmati. "Aku... aku... ouch! Eummmmm....."
"Nikmati saja," bisikku.
Aku bahkan sempat mendarat ke kehernya dan mengis* lembut di sana. Tetapi...
Sekejap kemudian, gadis itu memperoleh kembali kesadarannya. Ia menyentakkan lutut kirinya ke atas, bermaksud sepenuhnya untuk mengebiriku.
"Tidak!" teriaknya. "Ini tidak boleh terjadi! Tidak boleh! Lepas! Lepaskan aku! Lepas!"
Kusadari, rasa waswas yang luar biasa kembali menguasainya. Lalu, dia mencengkeram rambutku. Dia histeris dan mulai berteriak minta dilepaskan. Itu semua terlalu mencekam untukku. Cukup sudah. Cukup!
Adegan berulang. Aku hendak membekap mulutnya lagi dengan tanganku. Tapi, sebagai balasan, gadis berambut cokelat itu mencengkeram lalu menggigitku kuat-kuat. Kemudian kukunya menggores leherku. Aku lengah, dan mendapatkan kembali hadiahku: jambakan kuat dan entakan kulit kepala sekuat tenaga, plus satu jotosan keras ke sisi samping tulung rusuk.
__ADS_1
"Hentikan!" sergahku pelan. "Hentikan, oke? Tinggal bilang tidak, aku tidak akan menyentuhmu," kataku seraya menyanggah tubuh untuk mengangkat diriku dari atas gadis itu.
Pada saat itu, suara ketukan di pintu mengagetkan. Kepalaku tersentak ke arah pintu. Tubuh gadis itu berubah lunglai seakan merasa lega.
"Tuan, apa Tuan baik-baik saja? Tuan butuh bantuan?"
Oh, Billy. "Saya tidak apa-apa," teriakku dari dalam kamar. "Tolong panggilkan Bibi Merry."
Aku berdiri terhuyung-huyung dengan canggung. "Tenanglah, tenang," kataku pada gadis itu. "Aku akan meminta seseorang untuk mengurusmu. Kamu tidak perlu takut. Oke? Tunggu di sini."
Pada akhirnya, dengan kabut *afsu yang tak terlampiaskan, aku langsung berlalu. Ini sungguh kacau!
Well, kau sudah benar-benar melakukan kesalahan, Rangga. Sesuatu yang tidak seharusnya. Kau bahkan mengulangi hingga membuat keadaan bertambah parah. Sekarang kacau semuanya! Berengsek!
__ADS_1