
Hari sudah sangat senja sewaktu Suci menyibukkan diri di dapur untuk memasak makan malam. Tentu saja, aku tidak jauh-jauh darinya. Setidaknya aku membantunya sedikit, menyusun kayu bakar dan menyalakan tungkunya. Lalu kutanyakan kepada Suci apa lagi yang bisa kubantu.
"Sama sekali tidak ada," katanya, lalu ia mencium pipiku. "Aku bisa menangani semuanya. Dan omong-omong, terima kasih pisau barunya."
Aku mengangguk. "Lupakan tentang penusukan itu," kataku seraya memeluknya dan mencium keningnya. Kutempelkan bibirku sangat lama di sana. "Kembali menjadi Suci-ku yang ceria, oke? Gadisku yang cantik, manis, dan mempesona."
Aku pun berjalan ke jendela setelah ia mengiyakan, lalu duduk di tepi jendela dan memandangi langit senja.
"Aku juga suka langit senja," katanya. "Romantis."
Benar. Romantis.
"Apa itu kode untukku?"
"Kode?"
"Yap. Kamu mau kuperlakukan dengan romantis? Hmm?"
Ia terkekeh, pipinya merona merah. Cantik sekali. "Semua perempuan suka keromantisan, kurasa. Tak terkecuali aku. Tapi hanya untuk berdua, tidak di depan publik. Aku tidak suka pencitraan."
Maka itu kuanggap jawaban ya. "Bagaimana dengan pernikahan?"
"Pernikahan?" Dahinya mengernyit.
__ADS_1
"Ya. Sederhana atau mewah?"
"Hmm... kamu melamarku?"
"Kalau iya?"
Bibirnya maju dua senti. "Sungguh tidak romantis!"
"So, what? Aku tidak mengerti. Kamu mau dilamar dengan cara yang romantis?"
Dia menolehku lagi, lalu tersenyum. "Hanya pernikahan sederhana. Aku, kamu, dan keluarga kita. Selebihnya, silakan pikirkan sendiri."
Kode. Dia mau menerima lamaranku seandainya aku melamarnya. Tapi satu PR untukku, bagaimana cara melamarnya dengan romantis?
Dia menahan senyum sambil terus menyiapkan bahan-bahan masakan.
Makan malam terhidang kurang lebih satu jam kemudian. Aku beranjak untuk membantu Suci menghidangkan makanan di atas tikar anyam yang terbuat dari bahan -- aku tidak tahu apa namanya, tapi dia menyebutnya daun purun.
Setelah selesai, dia memanggil preman-preman yang tadi pagi belusukan di pasar untuk membeli ayam dan daging, mereka sudah bosan makan ikan dan makhluk-makhluk yang setiap hari mereka tangkap di rawa-rawa. Mereka juga membelikan semangka kesukaan Suci, hanya saja tidak dingin karena tidak ada lemari es. "Mari makan, terima kasih untuk semua bahan masakannya."
"Tidak perlu berterimakasih, Nona. Itu bukan hal besar." Simon memamerkan barisan giginya yang keemasan.
Aku mendelik tak suka padanya yang tersenyum pada kekasihku. "Makan saja yang banyak," kataku. "Kalian harus segera tidur dan bangun tengah malam."
__ADS_1
"Tenang saja, Bos. Bulan madu tidak akan terganggu."
Hah! Bulan madu? Untung saja Suci tidak keras kepala dan menyuruhku tidur di tenda lagi. Yeah, setidaknya dia membiarkan aku tidur tiga meter dari ranjangnya. Setidaknya, dia membiarkan aku berada di dekatnya, di dalam kamarnya, dan memastikannya tidur nyenyak sepanjang malam. Hingga keesokan paginya...
Dia terbangun dengan wajahnya yang fresh dan cantik, keindahan hakiki bagi mataku yang tak pernah bosan memandanginya. Dia menguap lebar sembari meregangkan tubuhnya, menggosok-gosok matanya dengan buku jari. Lalu...
Matanya membeliak lebar begitu menyadari sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Cincin yang sama yang pernah kuberikan -- yang sudah tertunda selama satu setengah bulan kembali ke jarinya.
"Oh, Mas...," *esahnya manja.
Keromantisan kecil itu membuatnya langsung bangkit dari ranjang, lalu ia berdiri dan seketika melompat ke pelukanku, nyaris membuatku kehilangan keseimbangan dan terjengkang ke luar jendela. Yap, nyaris. Tapi tak ada waktu untuk membahas itu. Aku senang melihatnya pagi itu, dia sangat bahagia. Dan...
Dia tersenyum. "Aku menerima lamaranmu."
Yap. Itu dia!
Pow!
Bingo!
Persis yang kuharapkan. Tetap kutahan dia di pinggangku dan memutar-mutarnya dua kali, kemudian mendekapnya dengan gemas. Bibir kami nyaris bersentuhan saat Suci menaruh telapak tangannya untuk menghalangi. "Sabar, Tuan. Belum saatnya." Lalu dia cekikikan.
"Hmm... baiklah, belum saatnya. Sekarang katakan, apa maharnya?"
__ADS_1