Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Suntuk


__ADS_3

"Lu masih mau dengar hal lain lagi?"


"Apa?"


"Soal lady di kandang kuda."


"Kenapa? Apa yang terjadi padanya?"


Raymond menegakkan punggungnya, dan kedua lengannya bertelekan di atas meja. "Sekali lagi gue tegaskan, kita bukan bergosip, hanya menceritakan sesuatu yang sifatnya 'Apa yang terlihat, belum tentu itu yang sebenarnya,' di mata masyarakat dia seperti sampah, tapi tidak bagi tujuh anak yang ia beri makan. Gue bukan membenarkan apa yang dia lakukan, ya. Mungkin bagi kita, dia masih punya pilihan, bisa mengerjakan apa saja yang penting halal. Tapi bagi dia, kehidupan bagaikan jalan buntu."


Aku mengangguk. "Apa itu anak-anaknya?"

__ADS_1


Raymond menggeleng. "Bukan. Mereka semua keponakannya. Anak saudari-saudarinya yang menghilang."


Spontan dahiku mengernyit. "Menghilang? Menghilang ke mana?"


Raymond tertawa dengan sedikit goyangan kepala. "Menikah dengan lelaki lain, cabut, minggat, nggak ada kontak lagi, sementara anak-anak mereka... ditinggal begitu saja. Lady tidak sanggup kalau harus kerja yang halal untuk menghidupi ketujuh anak itu. Ya itu, itu pilihannya. Gue nggak bilang ini benar. Tapi gue juga nggak bisa menyalahkan Lady. Itu jalan yang dia pilih."


Aku mengangguk, dalam pikiranku terlintas: harusnya cek yang kuberikan kemarin itu sudah jauh lebih dari cukup, bahkan sangat lebih untuk mereka. Lagi, aku berharap sesuatu yang baik -- semoga dia bisa berhenti menafkahi anak-anak itu dengan cara menjual tubuhnya.


Kuanggukkan lagi kepalaku. "Itu gunanya teman. Trims juga buat semua cerita lu hari ini. Itu ngebuka mata gue, Ray."


Sekaligus membuatku merasa sesak. Aku bersalah.

__ADS_1


Dan karena rasa bersalah itulah aku merasa suntuk, kemudian memutuskan untuk minum.


Kami pun pergi ke sebuah bar yang barangkali merupakan bar paling meriah di ibukota. Udaranya berkabut akibat begitu banyak asap rokok, dan tempat itu penuh sesak dengan campuran orang-orang yang kepingin ngetop dan sudah ngetop. Begitu kata Raymond.


Sejujurnya, aku bukan tipe lelaki yang asing dengan dunia malam. Hanya saja, aku juga tidak begitu sering mendatangi tempat-tempat semacam itu karena menurutku -- seorang suami yang baik lebih baik menghabiskan waktu luangnya bersama keluarga, bukan kelayapan tak jelas dan pulang pagi dalam keadaan mabuk. Tetapi, status kelajanganku, juga beban pikiran yang menumpuk membuatku merasa depresi dan tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakan Raymond. Aku ikut bersamanya untuk sekadar melupakan beban pikiranku -- walau sejenak. Tanpa A U I E O, kami langsung duduk di meja bar.


Bartender membuatkan pesanan kami. Dia sudah tahu apa yang diinginkan Raymond: wiski tanpa es. Sedangkan aku memesan anggur putih.


Aku hanya membisu selama si bartender mengisi gelas-gelas kami. Raymond menghabiskan minumannya dalam sekali tenggak, kemudian memesan segelas lagi, sambil matanya terus menatap lekat si gadis seksi yang tengah menggila di lantai -- menikmati musik. Setelah menghabiskan gelas wiski kedua, dia berkata, "Gue mau gadis itu."


Aku tetap membisu, meski aku mendengar dan paham maksudnya. Dia menginginkan berarti dia ingin membawa gadis itu ke ranjang dan bertarung semalaman dengannya hingga lelah dan puas, lalu, selanjutnya mereka akan tidur bersama dalam keadaan polos di bawah selimut yang sama.

__ADS_1


Yap, dialah sang petualang ranjang.


__ADS_2