
Tapi sayang, kebersamaan kami tidak berlangsung lama. Malam itu, Suci mendapat telepon dari seseorang yang ia panggil mbok. Ia mengabarkan bahwa orang tua Suci akan pulang besok siang. Kebahagiaanku rasanya langsung memudar, dan langit seketik seakan mendadak mendung.
"Suci akan pulang besok pagi," ujarnya. "Mbok tenang saja, Suci akan sampai di rumah sebelum Papa dan Mama pulang. Oke? Jangan khawatir."
Dia pun menutup sambungan telepon. Dan, suasana menjadi canggung. Aku tidak rela dia pergi, pun dia -- kurasa, ia juga sama beratnya untuk berpisah denganku. Meski belum seminggu kami bersama, tapi aku bisa merasakan: dialah belahan jiwaku.
"Aku boleh pulang, kan?" tanyanya. "Kalau kamu tidak percaya padaku, kamu bisa menyuruh orang untuk mengawasiku. Kalau aku sampai ke kantor polisi atau ke rumah sakit untuk divisum, kamu bisa minta orang itu menghabisiku di tempat. Please, aku harus pulang sebelum orang tuaku sampai di rumah. Kamu bisa mengerti, kan?"
Dia berpikir berlebihan, tapi itu wajar, karena secara teknis -- kami memang belum saling mengenal lebih jauh.
"Aku percaya padamu."
"Jadi kamu akan mengizinkan aku pulang?"
"Iya. Kamu boleh pulang besok."
"Terima kasih, Mas."
"Jangan sedih begitu," Bibi Merry menyela. "Hanya terpisah jarak, bukan terpisah hati."
__ADS_1
Aku menggeleng -- menolak kenyataan yang dicetuskan Bibi Merry, padahal itu benar. Yap, tanpa dipublikasikan pun semua orang bisa menebak kalau di antara aku dan Suci telah terikat hubungan yang lebih serius.
"Mas," kata Suci, dia mengangkat tangannya -- mencari tanganku, hingga tangan kami saling menggenggam satu sama lain. "Kita bisa saling menelepon setiap saat. Aku janji, aku akan segera memberitahu kedua orang tuaku tentang kita. Kamu jangan sedih, aku mohon?"
Hatiku terenyuh. "Aku hanya takut melewati hariku lagi tanpamu."
"Hanya sesaat saja, Mas."
"Oke. Kamu lanjut makan, lalu istirahat."
"Em, kamu juga. Makan yang kenyang."
"Ya, Sayang."
Aku melirik ke Bibi Merry, memastikan ia tetap tutup mulut perihal vitamin dan suplemen kesehatan yang dikira Suci obat pencegah kehamilan. Bibi Merry hanya mengiyakan perkataan Suci tanpa banyak bicara.
"Aku rasa kamu tidak perlu obat itu," kataku. "Kan aku akan menikahimu, ya kan?"
Suci menggeleng. "Aku tidak mau hamil di luar nikah, Mas. Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Iya kalau kamu benar-benar jodohku dan hubungan kita sampai pernikahan. Kalau tidak? Aku perempuan. Aku yang akan menahan malu karena aibnya."
__ADS_1
"Ya, oke, aku paham."
"Ini juga untuk menjaga nama baik kita."
"Iya, Sayang. Sudah, ya. Ayo, makan lagi."
"Tapi kamu kedengarannya tidak suka."
"Bukan--"
"Setelah kita menikah aku bersedia cepat hamil. Ikut program hamil pun aku mau. Tapi nanti, setelah kita menikah. Oke?"
Aku mengangguk. "Ya," kataku.
Aku berusaha menjaga segalanya supaya nampak baik, padahal pikiranku agak terganggu. Aku masih menggantungkan harapan supaya Suci hamil anakku. Jujur saja, aku takut perpisahan di antara kami setelah dia pulang, menjadi pemisah yang sebenarnya antara kami berdua. Paranoid-ku mendadak kambuh.
"Kepalaku rada sakit. Nanti kamu ke kamar di antar Bibi atau Anne, ya. Aku mau ke kamar duluan. Mau minum obat dan langsung istirahat."
Semua orang terdiam, lebih tepatnya tercengang.
__ADS_1
"Mau aku pijat?" tanya Suci.
Aku menggeleng. "Tidak perlu," tolakku. Aku mencium keningnya sekali, dan langsung berlalu.