
Lambat laun, para pria yang mengenakan setelan bisnis telah berlalu. Begitu pula para wanita yang makan siang. Hanya tersisa kami dan beberapa pasang muda-mudi yang tak kami pedulikan keberadaannya. Tanpa terasa, senja sudah menghiasi cakrawala.
Aku meraih ponsel dan kunci mobilku dari atas meja, lalu menoleh pada Stella. "Sudah sore. Ayo pulang," kataku yang langsung disambar celotehan teman-temanku.
"Wo, wo, wooo...."
"Mantap, Bos...."
"Yoi, man... Pak Bos udah berani ngajak pulang."
Pikirkan saja olehmu ketiga dialog itu keluar dari mulut siapa saja. Mereka bertiga mencoba untuk memprovokasi komitmenku. Aku tidak akan menyentuh wanita mana pun selagi aku masih berstatus sebagai suaminya Rhea.
"Gue yang jemput Stella, masa iya gue minta Raymond yang mengantar pulang," kataku, menjelaskan hal yang sebenarnya tidak perlu kujelaskan. Sangat tidak perlu. "Ayo, Stell."
Tanpa protes, Stella mengikuti langkahku. Aku tidak berniat menjadi lelaki romantis yang berjalan di sampingnya, apalagi menggandengnya. Kubiarkan dia berjalan dan tertinggal di belakang. Tapi itu sama sekali tidak membuatnya gentar. Dia terus maju pantang mendekatiku.
Kami berjalan menuju mobilku yang diparkir di luar restoran. Kubuka pintu dan aku masuk ke mobil duluan, duduk di belakang kemudi, disusul Stella yang membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Kami mengenakan sabuk pengaman dan mesin mobil kuhidupkan, menderumkannya beberapa kali sementara persneling masih netral. Lalu mobil kulajukan.
"Aku memperhatikanmu tadi," kata Stella tiba-tiba.
Aku menoleh sekilas. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Yeah, aku tahu kamu menonton pertunjukan Raymond."
Senyumku merekah. "Aku tidak tahu kenapa. Tapi itu terasa menyenangkan untuk saat ini."
"Bagaimana denganmu?"
"Apanya?"
"Kamu kepingin?"
"Sebagai lelaki normal tentu iya. Tapi...."
"Kamu mau?"
"Aku tidak keberatan jika kita melakukannya."
Oh My God! Spontan aku menginjak rem dan Stella pikir aku tertarik, dia salah mengartikan keterkejutanku dan malah langsung melepaskan sabuk pengamannya dan tiba-tiba mendekatkan tubuh seksinya kepadaku, lalu seketika kusadari -- tangannya lagi-lagi parkir di atas pahaku. Aku menolaknya, dan itu harus. "Stell, please, kita hanya berteman."
"Apa salahnya, Ngga? Ini tidak salah. Kita sudah dewasa. Kita bisa melakukan itu atas dasar suka sama suka. Tidak ada yang melarang. Dan, aku sama sekali tidak keberatan, aku juga tidak akan menuntut lebih. Sesimpel itu. Please...?"
Aku menggelengkan-gelengkan kepala, lalu menginjak pedal gas. Stella yang kaget langsung kembali ke posisi semula dan memasang kembali sabuk pengamannya. "Sori. Tapi aku sudah berkomitmen, aku tidak akan menyentuh perempuan lain selagi aku masih terikat hubungan pernikahan."
__ADS_1
"Oke. Aku mengerti. Tapi lain kali...."
"Stell...."
"Oke, oke. Tidak bahas ini lagi."
"Bagus. Kendalikan dirimu."
"Hm."
"Sebaiknya lain kali jangan minum anggur."
"Iya. Tapi setelah ini jangan cuekin aku, ya?"
"Sori, aku tidak bisa berjanji untuk itu."
"Minimal jangan abaikan teleponku. Oke?"
"Yaaa... asal jangan mengganggu jam kerjaku."
"Siap, Rangga. Tidak akan."
__ADS_1
"Sekarang bisa diam, kan?"
Sebenarnya ini sungguh menggugah, seorang wanita cantik menawarkan diri dan mengajakku bercinta. Naif jika seorang lelaki normal menolak tawaran yang menggiurkan ini. Tapi tidak, aku harus berusaha menahan diri, aku masih terikat hubungan pernikahan kendati istriku sudah berselingkuh. Rasa sakit hati ini tak lantas menjadikan aku sosok yang sama. Aku bukan seorang pengkhianat.