
"Aku tidak butuh mahar. Tapi aku ingin mengajukan beberapa syarat."
Syarat?
Kurasa ini obrolan yang cukup panjang, sehingga kurasa tidak nyaman kalau dibicarakan sambil berdiri, maka dari itu aku mengajak Suci kembali ke ranjang dan memintanya untuk duduk di pangkuanku. "Katakan, apa saja syaratnya? Aku akan berusaha memenuhi apa pun permintaanmu."
"Aku... aku mengharapkan kehidupan yang lebih baik," katanya. "Ini bukan tentang materi, tapi tentang kedamaian. Aku ingin kamu menjanjikan keamanan untuk kita, hidup yang tenang dan damai untuk keluarga kita. Memang mustahil, tapi minimal... tolong kamu jangan lagi berjibaku dengan dendam. Jangan saling balas-membalas lagi. Jika memang yang meneror itu Mas Roy, please, maafkanlah dia. Usahakan juga kamu mendapatkan maaf dari Stella, mungkin sulit, tapi kamu jangan berhenti mencoba. Bisa?"
Aku tidak bisa menyahut rasanya. Itu rasanya sulit sekali. "Aku... aku akan coba. Dan aku janji, aku tidak akan membalas Roy."
"Oke. Aku anggap kamu setuju. Kalau dengan Mas Raymond? Kamu mau, kan, berusaha menjaga baik-baik hubungan kalian?"
Aku mengangguk, setuju. "Aku memang berniat menjelaskan hubungan kita secara baik-baik pada Raymond. Semoga dia mau mengerti. Tapi kalau tidak bisa, bukan salahku seandainya dia memilih memusuhiku. Iya, kan?"
"Ya, aku mengerti. Aku senang kalau kamu mau bicara baik-baik pada Mas Raymond. Dan... hal berikutnya...."
Aku mengernyit. "Apa?"
"Aku... mau minta ke kamu untuk... memindahkan makam ibuku ke Jakarta. Emm... kalau memungkinkan. Apa bisa, Mas? Aku merasa berat meninggalkan tempat ini kalau makamnya masih di sini. Aku mau mengurusi makamnya. Mau sering-sering berziarah. Kalau makamnya di sini...."
Oh, batinku. Itu yang dia pikirkan. "Akan kuusahakan," kataku. "Pasti bisa. Apa ada lagi?"
__ADS_1
"Em, yang terakhir, tentang amanah ibuku. Sebelum meninggal, ibuku sempat menulis surat. Dia...."
Di saat mengatakan itulah Suci mulai meneteskan air mata dan suaranya mulai tercekat. Aku berpikir, apa gerangan yang membuatnya sampai menangis begitu sedih? Dia tertunduk dengan tangis yang terisak.
Kunaikkan dagunya dengan jemariku dan kucoba menghapus air matanya, tapi sia-sia, tangisnya semakin pecah.
"Kenapa?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Ibu...."
"Apa?"
Dia memberanikan diri menatapku. "Ibu minta aku untuk menikah dengan lelaki yang baik."
"Kamu baik. Tapi...."
"Emm?"
Untuk sejenak, Suci memejamkan mata, lalu berkata, "Ibu mau aku menikah dengan lelaki yang bisa membimbingku mengenal Tuhan. Bukan yang malah menjerumuskan aku...."
Aku meneguk ludah dengan susah payah. Kalimat itu rasanya seperti jarum-jarum kecil yang ditancapkan ke hatiku satu persatu, sakitnya tak terputus. "Aku paham kataku." Lalu... tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku sadar diri dengan betapa buruknya aku kalau dinilai dari sisi religius. Aku ini nol besar.
__ADS_1
Lalu, Suci menggenggam tanganku. "Kalau aku memintamu untuk berubah dan lebih religius, apa kamu bersedia? Kita belajar memperbaiki diri bersama-sama. Kamu mau, kan?"
Aku tidak tahu apa aku bisa, tapi aku mengangguk, mengiyakan dan berjanji pada Suci. Aku mau berubah.
"Terima kasih. Aku lega. Aku bisa bersamamu, sekaligus bisa menuruti permintaan ibuku. Aku janji, aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu."
Aku hanya bisa tersenyum, aku tahu mataku berkaca. Apa yang kusetujui ini adalah hal yang cukup berat untuk kupertanggungjawabkan mengingat jejak-jejak hidupku di masa lalu yang sangat kacau balau. Tapi akan kulakukan. Mungkin untuk saat ini demi Suci, tapi semoga ke depannya nanti, aku bisa menjalaninya karena hati, dan tentu -- karena Tuhan.
"Mas?"
"Emm?"
"Kenapa bengong? Ada yang kamu--"
"Nothing. Hanya sedang berpikir, kapan kita akan menikah?"
Suci tersenyum dengan matanya yang berbinar. "Dua hari lagi. Tepat di hari ulang tahunku ke-dua puluh satu. Say yes, please...?"
Dua hari lagi, tiga kata yang membuatku tersenyum. Aku mengangguk dan mengeratkan genggaman tanganku, dan berharap genggaman ini tak akan berakhir hingga raga berpisah dengan jiwa.
Masa berkabung telah usai. Tuhan memang baik. Dia sudi memberikan satu keberuntungan lagi untukku.
__ADS_1
Akhirnya, hari ini pun tiba: hari di mana aku mendapatkan kembali cintaku. Gadis impianku. Terima kasih, Tuhan....