Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Sinting!


__ADS_3

Aku baru membersihkan layar ponselku ketiga kalinya dalam waktu dua puluh menit. Di sela-selanya aku menghitung jumlah jahitan pada bungkus kulit roda kemudi: 312, memprogram ulang posisi jok pengemudiku: agak naik dan sedikit lebih maju, lalu mempelajari tekanan optimal untuk jenis ban yang ada di BMW-ku: tiga puluh PSI di depan dan tiga puluh lima di belakang, menurut buku panduan di laci dasbor.


Rasa bosan pun muncul.


Mungkin seharusnya kutelepon dia terlebih dulu.


Tidak, aku memutuskan. Kemungkinan dia akan menghindar atau bahkan tidak akan mengangkat teleponku jika aku meneleponnya. Hari ini aku harus bertemu langsung. Bertatap muka. Bahkan dengan risiko pantatku tertidur sementara menunggu di mobil.


Di mana dia?


Sepuluh menit kemudian aku melihat dari balik kemudiku, sebuah sedan merah menyala memasuki jalan masuk rumah mendiang Erlan Nasution. Mobil itu berhenti di depan, dan perempuan itu pun turun.


Stella Nasution. Kurasa aku harus menambahkan, Wow! Seperti biasanya, selalu wow!


Ia membungkuk dan meraih ke jok belakang untuk mengambil kantung belanjaan. Seperti biasa, seksi. Dadanya nyaris tak tertutup, dan dengan spasi super lebar antara atasan yang seperti bra dan celana hot pants. Dia seolah baru saja pulang dari pantai. Tapi tidak mungkin, siapa yang mau ke pantai di tengah siang bolong yang panasnya ekstra luar biasa? Dia bukan tipe perempuan yang suka berjemur ala bule. Kulitnya putih, mulus, dan bersih -- khas perawatan dari klinik kecantikan yang super mahal.


Setelah itu, dengan kantung belanjaan di tangannya, dia menghampiriku. Aku pun keluar dari mobil. Dengan atau tanpa kacamata hitam, aku bisa melihat dia sedang menatap tajam padaku.

__ADS_1


"Ada urusan apa?" Dia melirik ke mobil Billy. "Bawa tim kesebelasan lagi?"


Dia membenciku. Mau bagaimana, kuakui: aku memang salah. "Hanya ingin bicara baik-baik. Bisa?"


"Untuk apa? Mau bahas apa? Hmm? Aku baru selesai dikuret, sedang tidak bisa dipakai. Ngerti?"


Aku tersentak, tepatnya jantungku. Terasa kena tonjokan keras.


"Kenapa? Kaget? Kamu merasa bersalah karena aku keguguran? Hmm?" Dia memindahkan belanjaan ke dalam pelukannya. "Oh ya, aku lupa. Seorang Rangga Sanjaya kan tidak punya hati. Pendendam. Bahkan siapa pun bisa mati kalau berani mengganggu. Bos besar berdarah dingin."


Kutelan ludah dengan getir. Seandainya yang menerorku itu benar-benar Stella, maka kuanggap wajar. Dia sangat sakit hati padaku. Gara-gara aku, dia jadi kehilangan calon anaknya.


Stella memiringkan kepala ke belakang dan tertawa ke angin. "Semudah itu?" teriaknya.


"Dengar," lanjutku, "aku tidak bermaksud sampai membuatmu keguguran. Aku hanya...."


Stella menekan gelak tawanya. "Kamu melakukannya. Bukan aku yang mati, tapi anakku! Anakku!" suaranya naik satu oktaf. "Aku hanya ingin punya anak, dan punya ayah yang baik untuk anakku. Apa salah?"

__ADS_1


Aku tidak bisa bicara, apalagi untuk mengungkit perihal peneror itu. Meski di dalam hati aku ingin mengatakan kalau dia memang salah. Bukan harapannya, tapi caranya -- caranya yang ingin menjebakku, itu yang salah.


Terlepas dari segalanya, Stella tertawa. "Well, well, well, kamu mau kumaafkan?"


Aku mendesa* lalu mengangguk. "Please?"


Hening sesaat.


"Ada syaratnya."


"Apa?"


"Kembalikan anakku."


Aku hanya bisa mengucapkan satu kata tanpa bisa melanjutkan. "Kembalikan...?"


"Hamili aku. Beri aku anak."

__ADS_1


Dasar sinting!


__ADS_2