Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Mimpi Aneh


__ADS_3

Dalam bunga tidur itu, ada sosok asing muncul menemuiku. Seseorang yang menenangkan aku berkat kehadirannya, menghirup wangi kulitnya, menatap raut cantik yang bersinar di wajah lugunya.


"Hai. Aku menunggumu menemukanku."


"O ya? Tapi aku tidak mengenalmu."


"Hatimu mengenalku, dan peduli padaku."


"Maksudmu?"


"Kamu memikirkan aku seharian ini."


"Maaf, tapi aku tidak mengerti."


Dia tersenyum, wajahnya mendekat ke wajahku, napasnya dengan menggoda terasa hangat di bibirku. "Kamu pasti menemukanku. Aku, seseorang yang seharian ini terus kamu pikirkan."


"Tapi aku tidak tahu?"


"Kamu hanya lupa, kita pernah bertemu satu kali."


"Di mana? Dan di mana aku bisa menemukanmu lagi?"


Dia mengerjapkan mata, kemudian mengedikkan bahunya sekali. "Aku tidak tahu. Biarkan Tuhan yang mengatur."

__ADS_1


"Itu tidak membantu."


"Kamu masih sama."


"Sama?"


"Em, di mimpi pun kamu suka memarahiku."


"Hei, apa aku pernah memarahimu?"


"Mmm-hmm, kamu bahkan mengabaikanku."


"Omong kosong!"


"Terserah, kamu boleh menyangkal. Tapi... jika kita bertemu lagi, jangan lagi mengabaikan aku. Dan... jangan marah-marah."


Dia tersenyum lagi. Matanya penuh cinta saat dengan lembut dia mengelus pipiku dengan jari-jari selembut beledu sehingga aku langsung memaafkan omongannya yang tidak membantu. "Hatimu mengenalku. Jadi, ikutilah kata hatimu. Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Pasti."


Terbangun tiba-tiba, aku duduk lalu menatap fajar merah jambu keemasan yang merekah di antara celah tirai. Burung-burung sudah mulai bernyanyi di luar dan dunia mulai terjaga. Detak jantungku bergemuruh di telinga saat kenangan akan gadis di mimpiku itu kembali dengan hebatnya.


Siapa dia? Apa dia sosok yang nyata?


Tapi aku bahkan tidak bisa mengingat bayang-bayang wajahnya, jika benar aku pernah bertemu dengannya. Dan tentang seseorang yang kupikirkan, memangnya siapa yang kupikirkan?

__ADS_1


Ah, sudahlah. Itu hanya bunga tidur. Sibukkan saja dirimu dengan pekerjaan. Oke, rangga?


Tetapi tidak bisa. Aku terus saja teringat akan mimpi itu. Seperti pada siang harinya. Ponselku bergetar saat aku sibuk dengan tumpukan kertas di atas meja kerjaku. Nama Stella dan foto cantiknya menghiasi layar. Sudah cukup lama tidak berkabar setelah terakhir kali dia meneleponku dan memutuskan sambungan karena jengkel. Dua minggu lebih tanpa Stella membuatku berpikir untuk mengabaikan teleponnya saat ini. Tapi...


Lain kali jangan mengabaikan aku.


Kata-kata gadis di dalam mimpiku itu kembali terngiang. Secara tidak langsung aku memercayai mimpi itu, dan mungkin sosok itu Stella.


Eh?


"Kau gila, Rangga...," kataku tanpa sadar nyaris beteriak.


Kontan saja, Jessy kaget mendengar suaraku. "Ada apa, Pak?"


"Oh, no. Tidak ada apa-apa, Jess. Maaf sudah membuatmu kaget."


Dia pun mengangguk. "Sepertinya ada telepon masuk di ponsel, Bapak."


"Saya tahu," kataku. "Tolong buatkan saya kopi, Jess."


Dengan sigap, Jessy bangkit dari kursinya. "Baik, Pak." Dia langsung keluar.


Ugh! Aku nyaris gila! Tapi, yeah, saat ini, penting bagiku untuk tidak mengabaikan sosok perempuan yang ada di sekitarku. Entah mengapa mimpi itu sangat mempengaruhiku, tapi sayangnya clue yang diberikan gadis itu tidak bisa kutebak. Seseorang yang pernah bertemu denganku, yang pernah membuatku marah, yang pernah kuabaikan, juga yang kupikirkan seharian. Semua itu justru bertolak belakang.

__ADS_1


Siapa sosok yang pernah bertemu denganku dan kupikirkan seharian? Yang membuatku marah, tapi aku mengabaikannya?


No! Lelaki tiga puluhan tidak pantas memikirkan hal seperti ini, Rangga... kau mulai sinting!


__ADS_2