Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Keguguran


__ADS_3

Ceklek!


Pintu ruang pemeriksaan sebuah puskesmas kecil terbuka dan seorang dokter perempuan parubaya keluar diikuti seorang perawat di belakangnya. "Dengan keluarga Bu Mayang?"


"Saya, Dok."


Sang dokter mengamatiku dengan seksama, mungkin karena pakaianku yang basah kuyup dan noda darah mewarnai kaus putihku. "Anda suaminya?" ia bertanya.


Untuk sesaat aku terdiam, bukan karena tidak mau mengakui apalagi menolak, tapi karena kenyataan -- faktanya aku bukan -- tepatnya belum menjadi suami Suci. Tapi pada akhirnya aku mengangguk dan mengiyakan. "Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?"


"Mari ikut saya, Pak. Ada yang harus saya jelaskan."


Aku mengangguk lagi, lalu menoleh pada Jody yang berdiri kaku tiga meter dariku. "Kamu tunggu di sini dan jaga Suci baik-baik."


"Ya, Bos."


Aku melenggang pergi mengikuti dokter ke ruangannya. Benakku mengatakan ini berita buruk, tapi hatiku terus mengharapkan yang terbaik. Tepatnya, aku seakan berusaha membodohi diriku sendiri.

__ADS_1


"Silakan duduk."


Aku mengangguk, lalu duduk di kursi di depan dokter yang seakan memegang bom waktu dengan detik-detik yang bergerak lambat -- siap menghancurkanku menjadi serpihan-serpihan kecil tak bernyawa.


"Maaf, Pak. Saya harus menyampaikan--"


"Ada apa, Dok?" tanyaku tak sabar.


"Maaf, Bu Mayang mengalami keguguran."


Deg!


"Maaf, Pak. Sepertinya hal ini membuat istri Anda sangat tertekan. Ibu Mayang tidak merespon apa pun sewaktu tenaga medis mengonfirmasi beberapa pertanyaan mengenai riwayat medisnya. Beliau hanya terus menangis dan menolak diberi pertolongan. Untuk hal ini, peran keluarga yang sangat penting. Untuk sementara, kami sudah menyuntikkan obat penenang dan meresepkan beberapa obat yang harus ditebus di apotek," ujarnya, lalu menyorongkan secarik kertas bertuliskan resep obat di atas meja ke arahku. "Kami berharap pihak keluarga bisa bekerja sama untuk menjaga ketenangan pasien."


Aku menerima secarik kertas resep itu dengan perasaan hancur. Tapi aku berhasil menyimak setiap kata yang dokter sampaikan padaku dengan baik. "Baik, Dok. Saya permisi."


Aku bangkit dengan langkah kaki goyah. Kenyataan ini seperti karma yang mencambukku. Suci memang belum sempat dilecehkan, tapi anakku sudah menjadi korban bahkan sebelum aku bisa mendengarkan detak jantungnya.

__ADS_1


Apa Kau menghukumku, Tuhan? Kenapa tidak langsung padaku? Kenapa harus melalui Suci? Kenapa harus merenggut anakku?


Yeah, waktu itu batinku bergejolak. Aku marah. Tapi pada akhirnya kusadari, siapa aku? Hanya manusia biasa yang begitu banyak dosa. Aku memang pantas dihukum, tapi bukan Suci. Aku mencintainya -- bukan untuk menjadikannya tumbal yang menanggung hukuman atas kesalahan-kesalahanku di masa lalu.


"Bos," panggil Simon sewaktu aku kembali ke ruang tempat Suci mendapat penanganan. Dia segera berdiri dari duduknya dengan gusar.


Aku mengangkat kepalaku, menatapnya dengan pandangan kabur. Kuhela napas dalam-dalam sembari menghapus air mata. "Tebus resep ini di apotek."


Dia menerimanya, tapi tak beranjak. "Ada yang mesti gue laporin."


Aku kembali menatapnya. Wajahnya sekaku batu, tapi itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya. "Ada apa?" tanyaku.


"Mayat itu sudah dikubur. Semua jejak juga sudah dibersihkan. Tapi Diego dan Leo tidak berhasil mengejar pelaku yang satunya."


Amarahku memuncak. "Bodoh!" desisku dengan gigi-gigi terkatup. Aku marah.


"Ada mobil yang membawanya kabur. Dan sepertinya... mereka sengaja menargetkan Nona."

__ADS_1


Apa, tercetus tanpa suara. Aku tercengang.


__ADS_2