Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Sedikit Melunak


__ADS_3

"Kenapa bicara seperti itu? Kita sudah sepakat malam itu, kan? Aku yang akan melunasi semuanya. Kenapa kamu malah pergi?"


Dia menggeleng. "Tidak ada gunanya membahas tentang malam itu. Semuanya sudah terjadi."


"Tapi kita masih bisa memperbaiki semuanya," kataku seraya memegangi kedua bahunya. "Aku akan melunasi semua hutang keluargamu. Aku bisa mendapatkan kembali rumah itu untuk mamamu. Adikmu bisa pulang, bisa tinggal lagi bersama mamanya. Dan kamu, kita pulang ke Jakarta. Kita menikah. See, semuanya masih bisa diperbaiki, ya kan?"


Dia kembali menggeleng. "Aku akan merasa berdosa kalau aku bahagia bersamamu. Perasaan bersalah atas kematian Papa dan ibuku akan semakin menyiksaku, Mas."


"Jangan bodoh!" kali ini suaraku cukup tinggi. "Dengar aku, pikirkan dengan akal sehat. Ibumu dulu menyerahkanmu pada keluarga Nugraha supaya kamu mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dia terpaksa, itu juga merupakan pengorbanan yang besar yang dia lakukan demi menjaga huhungannya dengan kakekmu, supaya hubungan mereka tidak terputus. Dia juga tidak sepenuhnya kehilanganmu, masih bisa memantau pertumbuhanmu meski dari jauh. Iya, kan? Nah, sekarang, ibumu di atas sana, pasti juga ingin kamu melanjutkan hidupmu dengan baik. Dia tidak akan senang melihatmu seperti ini. Papamu juga tidak akan senang. Kamu mau mereka sedih di atas sana? Hmm? Tidak, kan? Satu hal lagi, seandainya rumah mamamu yang di Bogor itu juga disita, mamamu akan tinggal di mana? Hmm? Kamu memikirkan hal itu? Kamu mau adikmu terus-terusan luntang-lantung di Jakarta menjual diri? Kamu mau itu, Sayang? Katakan, kamu mau kehidupan mereka bertambah hancur daripada sekarang? Begitu? Pikirkan, Sayang."


Kurasa kata-kataku sudah memengaruhi pola pikirnya. Aku menatapnya dengan penuh harap. Tapi dia masih tetap diam dengan air mata yang mengalir deras.

__ADS_1


"Pikirkan semua orang, Sayang. Pikirkan papamu dan ibumu di atas sana. Mamamu dan adikmu, rumah mereka. Juga aku. Aku sakit tanpamu. Kehilanganmu membuatku menderita."


Tapi dia malah semakin terisak. "Kamu akan lebih baik tanpa aku. Persahabatanmu, kehidupanmu, semuanya akan tetap harmonis tanpa aku."


"No! Persetan dengan Raymond kalau dia mau memusuhiku. Pikirkan banyak orang daripada hanya memikirkan hubunganku dengan Raymond. Please, aku tahu Suci-ku sosok perempuan yang bijak."


Dia melunak, lalu mengangguk. "Beri aku waktu. Tolong, kamu kembali dulu ke Jakarta."


"Aku akan tetap di sini, sampai aku bisa membawamu pulang ke Jakarta bersamaku."


Aku tidak ingin mendengar celotehan Suci lebih lanjut, sebab itu aku memilih keluar, mengambil pakaian ganti dan pergi ke kamar mandi. Tapi sebelumnya...

__ADS_1


Aku mesti mengiba dulu kepadanya, "Aku lapar. Kasihani aku, ya? Buatkan aku sarapan. Tolong, ya?"


Ah, dia masih mencintaiku. Lihat saja, senyum manisnya mengembang meski ia tidak menyahut.


Benar saja, setelah aku selesai mandi, dia menyiapkan sarapan untukku dan empat pengawal yang masih molor di dalam tenda. Yeah, meski hanya sekadar bubur instan dan telur rebus. Aku sangat puas.


"Maaf, ya. Aku tidak punya apa-apa untuk dimasak," katanya.


Aku hanya manggut-manggut. "Terus nanti siang kita makan apa? Apa ada warung makan di sekitar sini?"


"Tidak ada. Tapi aku punya beras. Ada banyak sayur dan telur. Tapi kalau Tuan Rangga mau lauk, maka silakan cari sendiri. Ada banyak ikan di rawa-rawa."

__ADS_1


Dahiku mengernyit. "Aku?"


__ADS_2