
Bagaimana?
Untuk sesaat aku tak bergeming. Terpaku oleh hasra* dan, juga pertentangan dari akal sehat yang belum kehilangan kendali sepenuhnya. Aku ingin, tetapi juga tidak ingin.
"Please, aku membutuhkanmu," rayu wanita itu lagi.
Dia kembali bangkit, lalu menarikku ke lantai dan menunggangiku. Dalam keraguan, aku membiarkannya membuka kemejaku dan menciumi dadaku. Lalu ia turun, membuka dan menarik turun celanaku hingga ke lutut.
"Ukh...!"
Ya Tuhan...!
Munafik kalau aku tidak merasakan apa pun. Jelas ini sangat terasa. Begitu nikmat ketika dia memonopoli diriku dengan keahliannya. Aku tak hanya sekadar mengalami ketegangan sempurna, tapi juga siap tempur. Tetapi...
Ah, tidak!
Kau benar-benar kacau, Rangga. Apa yang kau lakukan? Ini sebuah kesalahan....
Bahkan dalam panasnya suasana, kalimat itu melintas di benakku. Aku pusing. Seluruh ruangan seperti berputar. Tidak mungkin lebih kacau dari ini.
Pikirkan lagi, Rangga. Pikirkan!
Tiba-tiba saja, aku mendengar deringan di atas meja. Aku butuh waktu sejenak untuk mengetahui bunyi apa itu.
Ternyata ponselku.
"Abaikan saja. Nikmati aku, please...?"
Stella beringsut, menyilangkan lutut di atas pahaku. Tangannya mengepalku dan mengarahkan aku kepadanya.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi.
"Hentikan!" bentakku. "Hentikan!"
Aku berusaha bangkit dan mendorong perempuan itu. Ia terlentang dan nyaris membentur dinding. Dengan susah payah aku bangkit, mengenakan kembali celanaku. Kusambar jas dan ponselku, kemudian keluar dari sana.
__ADS_1
Aku harus pulang.
Tanpa sadar dengan kancing-kancing kemejaku yang terlepas, aku masuk ke mobil dan melajukannya seperti orang kesetanan. Waktu tempuhku jauh lebih singkat dari biasanya. Aku pun sampai di rumah.
Kau tahu bagaimana rasanya menahan hasrat karena obat-obatan? Itu yang kurasakan. Jika kau tidak tahu, bayangkan saja sebisamu.
Aku lari, menaiki tangga dan membuka pintu kamar utama dengan tak sabar.
"Rhea!"
Tidak ada jawaban.
"Rhea! Di mana kamu?" aku berteriak seperti orang sinting.
Rhea membuka pintu kamar mandi, ia nampak ketakutan. "Kenapa berteriak? Ada apa?"
"Sini, bantu aku!"
Dia bingung. "Bantu apa?"
"Jangan bodoh! Naik ke ranjang!"
Dia menggeleng, enggan.
Aku berjalan, dan menyeretnya ke tempat tidur. "Jangan bantah aku!" Kudorong dia dengan kasar hingga terlentang.
Sewaktu aku membuka pakaiannya dengan paksa, ia berusaha menahan mati-matian.
"Lepas!"
"Tidak!"
"Jangan pancing aku!"
"Baik, dengan satu syarat?"
__ADS_1
Heh! Aku tertawa. "Siapa dirimu? Beraninya mengajukan syarat padaku."
"Ya sudah. Jangan sentuh aku!"
Aku geram. "Oh, kamu ingin aku kasar? Hmm? Baik."
Aku turun, mengambil dasiku dan mengikat kedua tangannya.
"Lepaskan aku...!"
Saatnya untuk tidak peduli. Kurenggangkan kakinya dan aku menancapkan diri -- masuk.
"A!"
"Berengsek!"
"Pelan-pelan!"
"Sakit!"
"Ranggaaa...."
Dia menangis. Aku menghunjamnya dengan marah, kasar, kuat, sampai tubuhnya terguncang-guncang. Pasti itu sangat menyakitkan. Mungkin.
Setelahnya aku merasa iba. Dia sampai kelelahan.
"Kamu bisa bangun?"
Dia menggeleng, mulutnya terbuka tapi tak ada suara.
"Istirahatlah."
Kubetulkan posisinya dan menaruh bantal di bawah kepalanya. Setelah menyelimuti tubuhnya yang polos dengan selimut, aku masuk ke kamar mandi dan bersih-bersih.
"Perempuan sialan! Dia pikir dia bisa menjebakku dan akan mengaku hamil anakku? Aku bukan lelaki sebodoh itu. Tunggu saja, Stella. Aku akan segera membalasmu! Kamu bermain-main dengan orang yang salah."
__ADS_1