Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Sesak


__ADS_3

Kuanggukkan pelan kepalaku. "Jadi, mengenai Stella, apa yang lu tahu tentang dia?"


"Widiiih... ada yang penasaran...."


"Ray... please...."


"Hah!"


"Dia kenapa?"


Raymond tertawa menyadari rasa penasaranku, lalu ia berdeham. "Oke, gue cerita. Dia itu waktu kecil dulu korban tindak asusila." Raymond melempar pandangan ke luar jendela sejenak. "Nyokapnya meninggal sewaktu dia masih kecil. Terus... bokap tirinya yang membesarkan Stella. Nggak perlu gue cerita sepenuhnya, lu pasti tahu, kan, bagaimana kelanjutannya? Bisa ditebak. Bokapnya itu gila judi. Penjudi berat. Kalau dia kalah taruhan, dia bukan bayar pake uang."

__ADS_1


Ya ampun, rasanya ada bersak-sak semen menimpaku. Kenapa semua hal yang kudengar hari ini begitu mengejutkan?


Kutelan lagi ludah yang sebenarnya tidak ada. "Maksud lu... pakai tubuh Stella? Begitu, Ray?"


Raymond mengangguk. "Stella cuma berusaha bertahan untuk hidup. Dia pikir dia tidak punya pilihan, dan berpikir belajar untuk memuaskan lelaki itu adalah caranya untuk tetap hidup. See, dia mahir, kan? Dia terlanjur sakit di dalam. Sakit secara mental, sakit juga secara kelamin. Itu semua membuat dia tidak bisa mengendalikan hasrat untuk mencobai lelaki yang dia inginkan."


"Tidak masuk akal."


Bibir Raymond sedikit mencebik dan kedua bahunya terangkat. "Ya, bagi orang normal itu tidak masuk akal. Tapi bagi seseorang yang punya trauma dari tindakan asusila, apa pun bisa terjadi. Malah bisa lebih parah. Ini gue bukannya ngomongin aibnya Stella, ya. Gue cuma pingin lu nggak menganggap dia semacam lalat hina tanpa lu tahu latar belakangnya."


"Yang dia alami itu sama seperti gue, kalau sudah tertarik dengan lawan jenis, rasa penasaran pingin nyoba tu benar-benar sampai ke ubun-ubun. Untungnya gue masih bisa mengendalikan diri, gue bertekad nggak akan pernah menyentuh gadis perawan. Tapi untuk istri, itu pengecualian, ya. Gue sadar, gue pribadi yang rusak, tapi gue nggak mau kalau harus merusak anak gadis orang. Tapi Stella beda, Man. Dia nggak pandang mau cowok perjaka atau berpengalaman, bahkan sekalipun itu suami orang. Parah, sih. Tapi kita tidak bisa menyalahkan dia. Itu salah satu bentuk protesnya pada kehidupan karena dari kecil dia sudah dilecehkan oleh orang yang sudah membesarkannya. Begitu di usia balig, keperawanannya dirampas paksa oleh bokap tirinya. Bayangkan, dia baru dua belas tahun waktu itu. Setelah itu, malah dijadikan bahan taruhan di meja judi."

__ADS_1


Dan sekarang gue yang sudah menyuruh orang untuk menggilirnya. Jahat sekali, lu, Ngga. Benar-benar jahat. Lu binatan*!


Aku tidak tenang. Leherku terasa semakin tercekik. Bagaimana aku bisa menebus rasa bersalahku pada Stella? Itu yang saat ini kupikirkan. Aku tidak menyangka, akulah yang jahat. Benar-benar jahat.


"Lu kenapa? Kok jadi aneh?" tanya Raymond.


Aku hanya menggeleng. Mana mungkin aku bisa mengatakan yang sebenarnya. Meski pada Raymond yang sudah menceritakan aibnya sendiri, aku tidak bisa membuka aibku pada siapa pun.


"Minum, gih. Lu seperti orang yang lagi ketakutan, tahu!"


Kutelan ludah dan merasa sesak. Lu benar, gue lagi takut. Takut akan kesalahan diri sendiri.

__ADS_1


Sambil meneguk soft drink, diam-diam aku berharap Stella bersedia memaafkan aku jika aku meminta maaf padanya suatu saat nanti.


Semoga saja....


__ADS_2