Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Jessy Yang Malang


__ADS_3

"Pesan makan saja dulu," akhirnya ia bersuara.


Aku mengangguk. Aku memesan semangkuk sup sayuran, kentang, burger, dan double cappucino. Aku butuh asupan makanan untuk tubuhku yang kelelahan karena kesalahan itu, belum lagi perutku sama sekali belum terisi makanan sejak kemarin siang, ditambah kurang istirahat plus beban depresi pada otakku yang terasa penuh. Sementara Roby memesan kopi hitam dan roti bakar yang disirami saus cokelat yang meleleh di atasnya.


"Are you okay?"


Dia mengedikkan bahu. "Seperti yang lu lihat. Kacau."


"Ada masalah apa? Soal Jessy?"


Dia mengangguk. "Lu bisa jaga rahasia, kan?"


Aku balas mengangguk. Saat itu aku berpikir yang ia maksud perihal kehamilan Jessy, tentang apa yang ia dan Jessy lakukan: hubungan diam-diam di belakangku. Hubungan kebablasan yang sampai hamil di luar nikah. Aku pikir dia akan membicarakan hal itu. Tentu saja, kau juga berpikir seperti itu, kan?


Tapi tidak. Bukan seperti itu. Bukan seperti apa yang kau dan aku pikirkan.


"Itu bukan anak gue."

__ADS_1


Cappucino-ku hampir menyembur. Aku terbatuk-batuk.


"Yap, bukan anak gue." Dia mendongakkan kepala. Aku melihatnya seperti orang putus asa atau patah hati.


Pikiran lain mulai merasuk: ternyata Jessy tidak terlihat polos seperti penampilannya.


"Terus? Kenapa lu yang kacau? Dia bukan siapa-siapa lu, kan? Lu cemburu? Atau patah hati?"


Dia menggeleng.


"Lalu?"


"Hah?"


Terasa seperti kena tonjok saking aku terkejutnya. Aku tidak ingin berspekulasi yang -- tidak-tidak dan yang lebih aneh lagi. Jadi kukatakan, "Cerita yang lengkap."


"Lu ingat dua bulan lalu kakak perempuannya meninggal pasca lahiran? Kakak iparnya tidak menyerahkan bayi itu kepada keluarga Jessy. Ya, itu memang haknya. Tapi itu malah jadi mala petaka bagi Jessy."

__ADS_1


Kusandarkan tubuhku di kursi, dan aku mendadak hilang selera. "To the point, Rob," kataku.


"Jadi begini, beberapa waktu lalu, bayi itu sempat sakit. Jessy dan ibunya terpaksa menginap di rumah kakak iparnya untuk mengurusi bayi itu. Nah, malam itulah kejadiannya. Dia dibekap, dibius sampai pingsan. Dan, yeah, terjadi."


Aku paham. "Kenapa tidak lapor polisi?" tanyaku. "Kan bisa divisum, terus pergi ke dokter untuk steril."


Ah, pertanyaan itu mengingatkan aku pada kelakuanku sendiri: bagaimana aku mencegah dan mengantisipasi gadis yang kunodai itu supaya ia tidak melaporkan tindakan jahatku kepada polisi. Bahkan sekarang aku seolah menjadikannya tawanan di rumahku. Tawanan baru.


"Jessy diancam. Lelaki bejat itu menyimpan foto polosnya."


Kepalaku mendadak sakit. Banyak sekali hal-hal buruk yang terjadi di sekitarku. "Dia menceritakan ini ke lu kemarin? Bagaimana dengan tunangannya?"


"Em, gue nggak tahu soal itu. Kemarin Jessy cuma bilang kalau dia sudah putus beberapa hari lalu. Gara-gara dia sudah tidak perawan, dia tidak mau tunangannya kecewa pas malam pertama nanti. Jadi, lebih baik putus dari awal katanya."


Sebentar, kata otakku pada diriku sendiri. "Jessy diperkosa kakak iparnya, dan dia sudah memutuskan hubungannya dengan tunangannya. Nah, kenapa lu yang kusut? Lu punya perasaan pada Jessy?"


"Tidak tahu. Tapi gue pingin menikahi Jessy. Lu nggak keberatan, kan? Atau... lu yang punya perasaan khusus pada Jessy? Kemarin gue lihat lu kayak orang shock berat pas tahu dia hamil. Bilang kalau lu keberatan."

__ADS_1


Sekarang gue lebih shock lagi denger lu mau menikahi Jessy. Jelas-jelas dia hamil dengan laki-laki lain. Kok lu bersedia?


__ADS_2