
Ugh! Jangan bicara sembarangan, Rangga. Aku menggeleng. "Bukan. Tidak sama sekali. Saya tidak tahu kalau Anda tidak bisa melihat. Maksud saya, semalam itu saya tidak tahu. Please. Ini kesalahan, ini harusnya tidak terjadi seandainya...."
"Sudahlah. Klarifikasi apa pun tidak ada gunanya, kan? Siapa yang tahu kebenarannya? Intinya semua sudah terjadi. Setidaknya... terima kasih, Anda tidak membuang tubuh saya seperti sampah, atau meninggalkan saya sendirian di tempat yang lebih berbahaya. Kalau yang membawa saya orang jahat, bisa saja saya dibuang ke hutan, atau dibuang ke laut."
Oh, dia sudah bisa berpikir normal ternyata.
"Ya, saya kira tidak ada lagi yang perlu dibahas. Please, tolong anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Atau setelah hari ini kita pura-pura saja tidak saling mengenal."
Rasanya berat. Tapi...
"Em, baiklah."
Dia nampak lega. "Jadi, bisa tolong antarkan saya pulang, please?"
Aku tidak mungkin membiarkan dia keluar dari rumah ini, paling tidak untuk beberapa hari ke depan.
"Maaf, tapi saya harap Anda bersedia tinggal di sini untuk beberapa hari."
Keningnya mengerut. "Maaf, Tuan. Tapi saya rasa, saya tidak bisa. Saya harus pulang. Saya tidak mau keluarga saya mengkhawatirkan saya. Apalagi semalam saya tidak pulang. Sekali lagi maaf, dan terima kasih untuk tawarannya."
__ADS_1
Glek!
Apa yang harus kukatakan sekarang?
"Tuan?"
Aku tidak bisa menjawab, aku tidak bisa menjelaskan apa pun. Pada akhirnya aku mundur, keluar dari kamar itu dan menguncinya.
Di belakang sana, gadis itu mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres, aku tidak tahu bagaimana, tapi ia sampai ke pintu dan menggedor-gedor. Ia pun menyerukan namaku beberapa kali.
"Tuan, tunggu! Anda tidak bisa mengurung saya di sini...."
Aku berbaring di ranjang, menatap langit-langit. Berpikir. Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki segala kekacauan yang telah kubuat? Yang lebih penting lagi, bagaimana caraku membuat gadis itu tenang, dan mau memahami keadaanku, untuk menjaga segalanya supaya tetap baik-baik saja dan sebagaimana mestinya?
Sewaktu aku hendak memejamkan mataku, suara ketukan di pintu melerai.
"Nak, boleh Bibi masuk?"
Aku bangkit dari tempat tidurku dan beringsut duduk. "Ya, Bi. Masuk."
__ADS_1
Pintu terbuka.
Bibi Merry melihatku dengan sirat kekhawatiran yang mendominasi di wajahnya. "Kenapa?" tanyanya.
Aku menggeleng, tapi mataku tidak mungkin bisa membohonginya.
"Kenapa kamu mengurung gadis itu, Nak?" tanya Bibi Merry. Ia duduk di sebelahku seraya mengelus punggungku.
Kupijat pelipisku sesaat. "Saya takut, Bi."
Bibi Merry menyeringai. "Takut? Takut dia lapor polisi?"
"Em, kalau dia melakukan visum dan terbukti, bisa hancur semuanya. Semuanya bisa kacau."
"Tapi semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Sepertinya dia tidak akan melakukan itu, Nak."
"Bisa saja, Bi. Dia buta, mana bisa saya mengakui hubungan itu atas dasar suka sama suka."
"Tidak... dia juga menyadari kalau ini juga kesalahan dirinya sendiri. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
__ADS_1
Aku menggeleng. "No, Bi. Bibi tidak mengerti. Mungkin dia dijebak oleh seseorang. Tidak mugkin dia minum obat itu sendiri, sementara dia sedirian sewaktu saya bertemu dia. Bisa jadi, mungkin saya juga yang nantinya akan disalahkan. Saya yang nanti dituduh sudah mencampurkan obat itu ke minumannya. Sumpah, saya tidak melakukan hal licik itu. Bibi percaya pada saya, kan? Saya berani sumpah, bukan saya."