
Seminggu berlalu dan aku belum mendapatkan informasi apa pun. Menurutku, aku sudah melakukan berbagai cara untuk mencari keberadaan Suci. Dimulai dengan menambahkan personil anak buahku yang menyebar di seluruh Singapura, tetap nihil. Aku bahkan menempatkan beberapa orang untuk mengawasi di sekitar rumah sakit selama dua puluh empat jam, terlebih pada hari ke-tujuh yang seharusnya jadwal check up mata Suci pasca operasi, tapi aku tetap tidak mendapat informasi apa pun. Bahkan, hanya dengan dugaan Billy yang kemungkinan Suci menyeberang via jalur laut, dari Singapura ke Batam, aku sampai menyuruh orang untuk mencari informasi di pelabuhan. Hasilnya nihil. Bahkan terpikir oleh kami, mungkin Suci melakukan penyeberangan tak terdata alias menyelundup atau penyelundupan penumpang oleh oknum-oknum tertentu, tetap saja tidak ada hasil saat aku menyuruh beberapa orang untuk menyisir semua area wilayah Batam. Begitu pun di Jakarta, anak buahku memantau rumah Suci dua puluh empat jam tanpa absen, hasilnya pun nihil.
Aku putus asa. Belum lagi kemungkinan yang dituturkan oleh Billy -- itu terasa menamparku. Dan apa yang kualami saat ini adalah teguran keras tentang bagaimana kejamnya aku menyelundupkan Rhea dan Biktor dari Bali ke Jakarta tanpa sepengetahuan siapa pun. Pasti ini kegusaran yang dirasakan Mama Rhesmi, pikirku. Anaknya hilang tanpa jejak, pasti seperti ini sakit dan kalutnya. Akhirnya aku merasakan apa yang orang lain rasakan atas kejamnya perbuatanku.
Apa ini karma? Apa Kau membalasku, Tuhan?
__ADS_1
Akhirnya, satu minggu telah benar-benar berlalu. Aku harus kembali ke Indonesia, memulai pencarianku di Jakarta dengan mengandalkan diri sendiri. Aku rasanya tidak percaya dengan kinerja anak buahku. Aku harus mencari keberadaan Suci dengan usahku sendiri.
"Maafkan aku, Sayang," kataku akhirnya dengan keputusasaan yang teramat. "Seandainya kamu masih di sini, aku minta maaf. Aku harus kembali ke Jakarta, aku harus mencarimu ke semua tempat. Aku tidak bisa bertahan di Singapura dengan harapan kosong. Seandainya kamu sudah berada di Indonesia, berarti keputusanku kembali ke tanah air, itu benar. Tapi kalau kamu masih di sini, maaf...."
Dengan berat, aku melangkahkan kaki ke bandara. Dalam beberapa menit kemudian, aku masuk ke pesawat dan tinggal landas.
__ADS_1
Tanpa terasa, air mataku menetes dengan sendirinya. Setelah terakhir kali menangis sendiri sewaktu aku kehilangan Rhea, kini aku merasakan lagi sakitnya kehilangan sosok belahan jiwa.
Setelah hampir dua jam kemudian pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandar Udara Soekarno Hatta. Aku bergegas secepat mungkin turun dari pesawat dan berjalan ke bandara. Setibanya di parkiran, aku menyuruh Billy langsung ke kantor mengurus semua pekerjaanku yang terbengkalai, sedangkan aku langsung melompat ke mobil dan melajukannya dengan kencang. Bukan ke arah rumahku, melainkan ke rumah Suci. Sori, perlu kuralat: rumah orang tua angkatnya.
Aku menatap rumah itu dengan perasaan tak karuan. Rumah itu tampak tak terurus. Pekarangannya kotor dan ditumbuhi rumput-rumput liar. Tanaman-tanaman yang dulu terpelihara rapi sekarang kuning, kering, mendambakan air. Jelas, rumah itu dalam keadaan kosong.
__ADS_1
"Berarti mereka tidak pulang ke sini, atau belum pulang? Tapi setidaknya, asisten rumah tangga harusnya ada di rumah, kan? Kecuali kalau rumah ini sudah benar-benar tidak ditempati. Seandainya mereka sudah pulang ke Jakarta, tinggal di mana mereka?"
Aku menghela napas dalam-dalam dan mencoba tenang. Aku kembali ke mobil, mengambil kertas dan pena. Dengan tangan gemetar, kutulis pesan untuk Suci dan meninggalkannya di pintu depan rumah Nugraha. Aku cukup yakin ia atau siapa pun akan menerimanya. Pertanyaannya adalah: kapan?