
Aku hanya perlu waspada. Untuk sementara tidak pergi ke bar, juga tidak memesan makanan dari luar, juga tidak akan mempercayai siapa pun untuk semua makanan dan minuman yang masuk ke tubuhku -- selain makanan dan minuman di dalam dan dari rumah: masakan Bibi Merry dan Anne.
Setelah menemui Stella dan pulang dalam keadaan kesal plus rasa bersalah yang merongrong atas melayangnya nyawa janin yang tak berdosa, siang itu aku pergi ke kantor, menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaanku, memeriksa semua pekerjaan yang beberapa hari kemarin kuserahkan pada Billy. Dan semuanya bagus. Kecuali satu: mantan sekretaris Roby yang memakai pakaian anak SD, alias kurang bahan.
"Mulai besok, ganti pakaian Anda dengan pakaian yang lebih tertutup."
Gadis itu melongo mendapat teguran dariku. Kemudian ia mengamati dirinya sendiri. Mungkin baginya aku aneh menolak pemandangan indah yang ia suguhkan di depan mataku. Entahlah, mungkin juga itu hanya ada di pikiranku. Bisa jadi, baginya penampilannya itu adalah hal yang wajar dan biasa bagi seseorang gadis yang berprofesi sebagai seorang sekretaris pribadi.
Namanya Karin. Dan seperti seorang sekretaris pada umumnya, dia cantik, dari segi wajah ia terlihat sangat anggun, sebenarnya penampilannya begitu rapi dan elegan, juga dengan barang-barang branded, dia sangat modis. Sayangnya, pahanya cukup terekspose. Aku tidak suka. Aku lelaki normal, mungkin terlalu normal hingga takut jikalau paha yang putih mulus itu memancing pikiran kotor bagi otakku. Tapi lebih baik mencegah, bukan?
Dia mengangguk. "Baik, Pak," sahutnya.
"Kalau kamu masih belum mengerti maksud saya, belajar dari Jessy. Jika perlu pakai rok longgar yang panjangnya di bawah lutut."
Sekali lagi ia mengangguk. "Saya mengerti, Pak. Besok saya akan berpenampilan lebih baik."
__ADS_1
Bagus. Memang seperti itu baiknya.
Setelah semua pekerjaanku selesai, aku lekas-lekas pergi. Tidak ingin ke mana-mana. Aku hanya ingin pulang ke rumah dan menelepon Suci-ku, yang ternyata sedang ngambek di rumahnya.
"Kenapa?" tanyaku.
Dia terisak. "Tidak apa-apa. Aku hanya cemas karena kamu tidak ada kabar seharian."
Ya ampun... gadis ini. Hmm... risiko menjalin cinta dengan gadis belia. Aku tahu, dia takut jika aku seorang penipu yang hanya mempermainkan hatinya. Lelaki yang memberinya harapan, dan meninggalkannya begitu saja tanpa kabar.
"Aku hanya sibuk di kantor, Sayang. Ini aku baru saja pulang ke rumah."
"Aku menjanjikanmu selamanya. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Jangan cengeng. Kamu kan sebentar lagi jadi seorang istri."
Terdengar suara tawa pelan di seberang sana. "Iya, Mas. Maaf, ya, atas rasa parno-ku."
__ADS_1
"Iya, tapi jangan sering-sering."
"Iya, Mas. Aku usahakan."
"Omong-omong, apa orang tuamu sudah pulang?"
Ia berdeham. "Ya," katanya. "Tapi aku belum bisa menceritakan tentang hubungan kita. Soalnya... aku bingung bagaimana memulainya. Aku takut kalau Papa tanya aku kenal kamu sejak kapan, kenal di mana. Aku tidak pandai berbohong. Tapi aku tidak mungkin jujur dengan cara pertemuan kita...."
"Aku ngerti. Bagaimana kalau aku--"
"Mas, tidak bisa begitu. Please, kamu ngerti."
"Hmm... oke. Mana yang terbaik menurutmu saja. Aku ikut."
Lagi-lagi desaha* Suci terdengar jelas di ujung telepon. "Aku minta maaf, ya?"
__ADS_1
Maaf.
Kata itu hampir setiap malam kudengar. Kami hanya mengobrol via telepon, hanya saling mendengar suara dan cerita satu sama lain. Tanpa kemajuan.