Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Resah


__ADS_3

Aku melangkah keluar dari pancuran air dan mengusapkan punggung tanganku ke cermin yang berkabut, hingga bisa melihat diriku sendiri balas menatapku. Aku menggeleng. Menggeleng lagi.


Kucondongkan tubuhku ke depan dan menatap diriku dengan teliti, mengatakan kepada diri sendiri bahwa aku sudah tak terkendali. Aku harus bertindak. Aku telah menjerumuskan diriku sendiri ke dalam api, panasnya mulai terasa. Aku mulai terbakar. Aku perlu menjauh. Melompat keluar dari kobaran yang membakar jiwaku.


Tenangkan dirimu, Rangga.


Well, kuselesaikan mandiku dengan cepat. Keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian ganti. Hanya kaus santai yang tipis. Kudorong kursi di meja kerjaku dan menarik napas dalam-dalam. Aku merasa gelisah. Lalu menarik kembali kursiku dan langsung duduk.


"Terlepas dia gadis di dalam mimpiku atau bukan, aku harus meminta maaf dan bicara baik-baik padanya."


Kulangkahkan kaki, kembali ke kamar utama.


Gadis itu belum beranjak dari tempatnya, dia masih di atas tempat tidur. Hanya saja, sekarang ia tengah duduk dengan kedua kaki ditekuk dan terbungkus selimut. Ada Bibi Merry di sampingnya. Dan sepertinya, mereka sudah mengobrol cukup banyak. Gadis itu sudah cukup tenang.

__ADS_1


"Kalau dia pria baik-baik, kenapa dia melakukan itu pada gadis malang seperti saya?"


Bibi Merry melirik ke arahku yang berdiri di pintu. "Setahu saya, semalam Tuan Rangga menggendong Nona yang tengah mabuk. Dan, maaf, sepertinya di bawah pengaruh obat. Saya sempat mendengar Nona kepanasan, dan... maaf, Nona merintih minta tolong. Saya yakin, hal ini terjadi di luar kesadaran kalian berdua."


"Jadi, ini kesalahan saya sendiri?"


Bibi Merry menggeleng. "Keduanya salah," sahutnya. "Kesalahan ini tidak bisa dilimpahkan hanya pada satu pihak. Tapi... Nona tenang, majikan saya orang yang bertanggung jawab."


Deg!


Aku tiba-tiba menolak kenyataan dan melupakan semua janji yang kuikrarkan semalam -- hanya karena dia buta. Aku menyadari itu.


Tak pelak, dalam sekejap -- aku sudah menduplikat semua sikap berengseknya Raymond.

__ADS_1


"Kamu sebaiknya mandi dulu," kataku datar. "Bibi tolong bantu dia mandi. Dan nanti, ambil pakaian dari ruang ganti untuknya."


Bibi Merry mengangguk. "Ayo, Nona."


Dengan bantuan Bibi Merry yang membimbingnya, dia turun dari tempat tidur membawa serta selimut yang membungkus tubuhnya.


Ah, sial. Bercak darah merah kehitaman yang mewarnai seprai putih itu langsung terpampang. Dan itu -- seakan mengancamku dengan telak. Jangan sampai ada yang melihatnya, pikirku. Aku cepat-cepat menariknya dan menyembunyikannya di salah satu laci di ruang ganti.


Tenang, Rangga. Tenanglah, oke? Hanya Bibi Merry yang melihatnya. Gadis itu buta. Lagipula, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Semua yang terjadi atas dasar saling membutuhkan, aku sama sekali tidak memaksanya. Dia sendiri yang akan malu kalau hal ini sampai tercium publik. Tunggu dulu, tercium publik? Oh, jangan sampai.


Rangga Sanjaya. Seorang usahawan muda, pemilik hotel terkenal dan perusahaan property, melakukan tindakan asusila terhadap seorang gadis buta.


Ah, membayangkan pemberitaan seperti itu saja aku ngeri. Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi?

__ADS_1


Hmm, gadis buta. Mudah saja mengelak, dia buta, bahkan dia tidak tahu bagaimana wajahku. Hanya satu hal yang harus kupastikan, dia tidak boleh dibawa ke rumah sakit, apalagi sampai divisum. Waspada, Rangga. Jangan sampai ada kesalahan.


__ADS_2