Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Panik!


__ADS_3

Drrrt....


"Wait, ada pesan masuk. Whatsapp ni dari si Roy. Katanya... sekarang dia lagi menamani Stella, doi masuk rumah sakit."


What? Ya Tuhan, ada apa dengan perempuan itu? Bagaimana ini?


"Woi! Lu kenapa? Kok diem?"


Aku menggeleng. "Nggak apa-apa. Emm... Stella... kenapa sampai dirawat di rumah sakit?"


"Cieee... ada yang khawatir ni ceritanya."


"Bukan. Gue cuma kepingin tahu."


"Mana gue tahu. Kan lu yang sekarang dekat dengan Stella."


Aku menelan ludah. Entah khawatir, entah kenapa, tapi aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya. Bukan karena ada perasaan, tapi aku takut kalau itu terjadi karena aku -- karena perbuatanku dan orang-orangku. Kutarik dasiku dan membuatnya sedikit longgar. Leherku tiba-tiba rasanya seperti tercekik.

__ADS_1


"Yeee... malah melamun lagi. Lu ada rasa, ya? Lu benar-benar pakai hati sama Stella? Hmm?"


Lagi, aku menggeleng. "Nggaklah, Ray. Emm... itu, si Roy, apa dia memang sedekat itu dengan Stella?"


"Lah? Lu nggak tahu, Ngga? Serius?"


"Serius...."


"Mereka itu berteman dari kecil. Teman akrab. Sangat akrab malah. Kan mereka dulu bertetangga waktu di kampung."


What? Kok bisa? Pupil mataku melebar dan alisku spontan terangkat. Aku gusar. Bagaimana kalau Stella menceritakan soal tempo hari kepada Roy?


"Ngga."


"Emm?"


"Soal... gue tadi, tolong, lu jangan bilang siapa-siapa. Bisa janji?"

__ADS_1


Aku menganguk. "Tenang, gue nanya karena gue peduli. Bukannya mau ngebully. Tapi... lu mau, kan, lepas dari hal ini?"


"Emm... kalau soal itu... gue nggak bisa janji, ya. Ini zona nyaman buat gue. Gue nyaman-nyaman aja menjalani hidup kayak gini."


Miris. Tapi aku tidak bisa memaksanya. Semua orang punya kehidupannya masing-masing. Aku juga tahu, bahkan aku sangat sadar kalau aku pun dalam posisi seorang munafik, aku naif. Sok mengarahkan seseorang untuk kebaikan, sementara diriku sendiri masih terus berjibaku dengan dendam dan sakit hati. Hasrat untuk membalas orang-orang yang menyakitiku dan orang-orang yang menggangguku -- aku bahkan tidak bisa menghentikan diriku sendiri.


"Mungkin belum sekarang, tapi gue berharap lu bisa berubah suatu saat nanti. Gue pingin kita semua bisa hidup dengan lebih baik."


Raymond tersenyum. "Mungkin. Tapi jelas tidak semudah itu, Ngga. Paling tidak... lu tahu, segala sesuatu itu ada sebab-musababnya. Segala sesuatu itu ada alasannya, ada penyebabnya kenapa hal itu sampai terjadi. Dan itu-lah yang menjadi dasar kesalahannya. Seperti gue, bahkan seperti Stella."


"Stella?"


Dia mengangguk. "Yeah. Lu pasti mikirnya dia itu wanita murahan, binatan* jalan* atau apalah istilahnya, ya kan? Jujur saja. Gue tahu lu mikirnya begitu."


Aku berpikir sejenak. Tapi untuk apa aku menutupi kalau aku memang berpikir seperti itu tentang Stella? Akhirnya aku mengiyakan dengan anggukan pelan.


"Lu pasti mikir begitu juga, kan, tentang gue? Ya itu wajar, sih. Namanya juga manusia, mereka hanya menelan mentah apa yang dilihat oleh matanya, lalu menghakimi sesukanya. Padahal diri mereka sendiri...? Siapa yang tahu?"

__ADS_1


Fix! Aku merasa tersindir. Tapi kuakui aku memang salah. Aku hanya melihat dari kaca mataku saja.


__ADS_2