
Dalam perjalanan pulang, kupukul stir dengan marah. Bodoh memang! Melakukannya bodoh! Menolaknya lebih bodoh! Hasrat, hati, dan pikiranku sama sekali tak sejalan.
Well, karena mengebut laju mobilku, aku berhasil memangkas perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu dua puluh menit hanya dalam waktu sepuluh menit, dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Aku berbaring di ranjang, menatap langit-langit, menyimpan pikiran itu, sebagaimana adanya. Bagaimana caraku meluruskan pertemanan kami, atau apa pun yang terjadi di antara kami.
Kupejamkan mata, tapi membukanya kembali beberapa detik kemudian. Aku melompat turun dari ranjang dan berjalan ke nakas. Kuambil ponsel yang bergetar dan memeriksa nomornya untuk memastikan siapa yang menelepon. Dari Stella!
Ya ampun.
Oke, baiklah. Aku menerima panggilan telepon itu setelah lima kali ponselku bergetar.
"Apa aku mengganggumu?"
"Hm, bisa dibilang iya."
"Sori...."
"Ada apa? Ada yang ingin kamu bicarakan?"
"Em, ya. Soal tadi."
"Aku bukannya menolak, hanya saja...."
"Aku mengerti."
Aku memejamkan mata. "Aku akan tetap menjaga komitmenku. Aku masih suami orang dan masih terikat dalam hubungan pernikahan. Aku harap kamu mengerti. Aku tidak akan--"
"Apa itu artinya... emm... setelah resmi bercerai, kamu tidak akan menolakku lagi? Kau mau kalau kita...?"
Kubuka mataku. "Mungkin. Siapa yang tahu."
"Bisa kita berandai-andai?"
"Mengandaikan apa?"
"Seandainya kamu sudah resmi menduda, dan...."
"Dan?"
"Seandainya aku di sana bersamamu...."
"Mmm-hmm?"
"Kamu mau memelukku? Seperti tadi?"
__ADS_1
"Mungkin. Bisa jadi lebih dari itu."
"Menciumku lagi?"
"Mencium di mana?"
"Di bibir."
"Lembut atau keras?"
"Mula-mula lembut, lalu keras."
"Lalu?"
"Tanganmu."
"Em, di mana?"
"Di berbagai tempat menarik."
"Di mana tepatnya?"
"Dadaku. Sebagai permulaan."
"Lalu di pahaku. Di bagian dalam."
"Ooh, oke. Tentu saja. Di bagian dalam."
Stella *endesah. "Eumm... ooh, tanganmu naik... semakin tinggi. Perlahan-lahan...."
"Kamu menggodaku lagi."
"Bukan, aku merasakanmu, Rangga."
"Oh, waw!"
"Aku bisa merasakanmu... kamu masuk... eum... ke dalamku. Di dalam, Ngga. Di dalam. Ugh!"
Sinting! Ini gila!
Tut! Sambungan telepon terputus.
Drrrt....
"Kamu masih di sana?" tanya Stella.
__ADS_1
"Masih," kataku.
"Bagus. Sampai di mana kita tadi?"
"Ini sudah malam...."
Stella mengembuskan napas di telepon. "Ayolah... kamu sudah masuk. Sudah di dalam, Ngga. kita sampai di titik yang membuatmu tidak bisa tidur malam ini. Bayangkan aku, please...." Dia kedengaran kehabisan napas.
"Katamu, kamu bisa menungguku, Stell."
"Ya, tapi...."
"Hormati prinsipku."
"Em, oke."
"Jadi, berhubung hari sudah malam--"
"Selamat malam, Ngga."
Tut! Stella menutup sambungan telepon.
"Eh? Tumben. Tapi baguslah."
Drrrt... drrrt... drrrt....
Ponselku kembali bergetar.
Mama Rhesmi memanggil....
Huh! Aku baru menyadari kalau aku belum mengganti nama kontak ibu mertuaku. Aku mengabaikan panggilan telepon itu. Bisa kutebak dia ingin menanyakan perihal keberadaan Rhea.
"Oh, ya, Rhea. Apa kabarnya perempuan itu?"
Kutaruh ponselku dan aku pergi ke kamar utama. Sesampainya di sana...
Di mana dia?
Suara gemericik air dari kamar mandi menjawab pertanyaanku, dan... dalam sekejap pintu kamar mandi terbuka. Rhea, istriku yang cantik, berdiri di sana dengan tubuhnya yang polos.
Seksi sekali.
Rhea tertegun menyadari keberadaanku berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. Dia lupa membawa handuknya ke kamar mandi. Tentu saja, dia harus melewatiku untuk mengambil handuknya di ruang ganti.
Well....
__ADS_1