Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Aku bergidik membayangkan diriku harus tinggal di tempat semacam ini, bahkan pos security di rumahku jauh lebih baik. Sebentar, memangnya aku akan tinggal di mana? Simon dan Jody saja terpaksa tidur di mobil semalaman. Memangnya Suci akan memperbolehkanmu tinggal di pondok itu bersamanya? Hah?


Kau bermimpi, Rangga!


Well, Bibi Merry sudah meminta Billy menyiapkan tenda dengan segala keperluan berkemah. Lagi, sesuai permintaan Simon dan Jody. Mereka sudah menghampiri kami sewaktu Leo mematikan mesin mobil dan kami pun melangkah keluar.


"Bagaimana? Bisa tinggal di tempat seperti ini, Tuan?" tanya Simon dengan gayanya yang khas. Selengekan.


Aku hanya menyeringai tanpa menyahut. Aku sedang memikirkan aku harus mandi di mana dan buang air di mana seandainya... ah, kau tahu maksudku.


"Apa pun demi cinta," imbuh Jody.


"Kau meledekku?"


"Mana saya berani, Tuan." Dia terbahak.


Tapi benar, apa pun akan kulakukan demi Suci. Demi cintanya, dan demi cintaku kepadanya. Cinta yang teramat dalam.


"Dia ada di dalam?"


Simon mengangguk. "Nona hanya keluar beberapa kali, paling untuk mengambil kayu bakar atau sayur di pekarangan belakang."


Kuhela napas dalam-dalam kemudian melangkah dan menaiki sederetan anak tangga. Lalu...

__ADS_1


Tok! Tok!


"Siapa?"


Jantungku seakan baru berdegup kembali ketika mendengar suara itu. Suara yang sangat kurindukan.


"Saya tidak akan membukakan pintu kalau Anda tidak menjawab."


Lidahku kelu. Aku hanya mampu berdeham serak. Aku tahu, dia pasti mengenali suaraku. Dan...


Kemudian...


"Maaf, saya tidak menerima tamu. Silakan pergi."


Nyesss...!


"Tolong, buka pintunya," teriakku seraya menggedor-gedor pintu itu dengan kuat. "Kita harus bicara...."


Tapi dia tidak menyahut, hanya ada isakan tertahan yang samar-samar kudengar dari luar. Ingin sekali rasanya aku mendobrak pintu itu. Tapi hati kecilku melarang. Aku tidak ingin Suci histeris dengan tindakanku yang gegabah.


Sabar, Rangga. Beri dia sedikit waktu untuk menerima kehadiranmu di sini.


Aku kembali ke mobil sewaan itu dan mendapat tatapan iba keempat lelaki yang bertampang seperti preman.

__ADS_1


"Jangan menatap saya seperti itu! Kerjakan saja tugas kalian," sungutku.


Jelas aku merasakkan sesak.


"Oh, Bos kita sangat sensi saat ini," lagi-lagi Simon berkomentar.


Aku mengusap-usap wajahku sejenak dengan telapak tangan lalu berkata, "Saya bahkan bisa menembakmu kalau mulutmu terus mengoceh."


Mereka hanya tertawa sambil terus mempelajari cara memasang tenda yang benar. Sialnya, tidak seorang pun dari kami pernah berkemah sebelum ini. Dan seandainya kami tidak perlu menyetok banyak barang di dalam mobil, alangkah enaknya jika tidur saja di dalam mobil tanpa harus repot-repot menjadi peserta kemah dadakan seperti ini.


"Woi, kalau mau buang air, kalian ke mana?" tanya Leo.


Simon nyengir. "Ke balik semak-semak."


"Serius?" tanyaku.


"Hanya bercanda, Bos," sahut Jody.


"Iya, Bos. Kita bisa menumpang di kamar mandi Nona di belakang sana."


Awalnya aku bereaksi biasa, tapi... "Kalian tidak pernah mengintipnya, kan?"


"Mana berani, Bos!" kata mereka hampir bersamaan, sementara Leo dan Diego cekikikan.

__ADS_1


Awas saja kalau berani, batinku. Lalu aku kembali ke pekarangan rumah Suci dan memutar ke area belakang. Ada banyak sayuran yang ditanam di pekarangan belakang itu, dan ada tumpukan kayu bakar yang cukup banyak. Dan, yang dibilang kamar mandi oleh Simon dan Jody itu hanyalah sumur tua dengan sepetak kecil ruangan di belakangnya. Pintunya yang terbuat dari kayu yang sudah sangat usang dan ubin yang dipenuhi lumut. Tapi aku yakin, Suci bukanlah gadis manja yang sulit beradaptasi dengan semua itu. Buktinya, sampai saat ini dia masih hidup dan mampu bertahan di sini.


Bagaimana denganku?


__ADS_2