
Tapi itu tidak pernah terjadi.
Suci tidak pernah mengabariku. Dia hilang tanpa jejak. Ini kebodohan dan kesalahanku. Aku lengah.
Di hari pertama dia masuk ke rumah sakit, aku pun mendaftarkan diri di salah satu rumah sakit terbaik Singapura untuk membersihkan tatoku. Harusnya Suci sudah mengabariku keesokan harinya setelah perban matanya dibuka. Tapi nihil, tidak ada kabar sama sekali.
Aku masih mencoba untuk menenangkan diriku sendiri di hari itu, hingga malam datang aku bertambah gusar. Ponselnya pun tak bisa dihubungi. Aku pun mulai bertanya-tanya, dan mulai menerka-nerka, apa mungkin operasinya gagal? Tapi kalau memang benar, harusnya dia tetap mengabariku, pikirku.
Tidak bisa dibiarkan. Malam itu aku langsung bergerak. Aku mendatangi rumah sakit tempat ia dioperasi. Sekali lagi, nihil. Suci sudah tidak ada di sana. Aku hanya mendapatkan informasi bahwa operasinya berhasil dan pasien sudah pulang -- dengan status pulang paksa.
Ada banyak pertanyaan, tapi yang berada di urutan teratas adalah: kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi? Dia operasi mata, seharusnya paling tidak dia harus berada di rumah sakit selama satu minggu. Lantas, kenapa dia keluar dari rumah sakit?
Aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
Pertanyaan berikutnya muncul: ke mana dia? Apa dia kembali ke Indonesia? Kenapa tidak mengabarkan apa-apa padaku?
__ADS_1
Pikiran negatif pun ikut muncul: apa ada hubungannya dengan Raymond? Apa Suci memilih bersama Raymond? Apa Suci memilih meninggalkan aku?
"Tidak mungkin. Kalaupun iya, itu karena terpaksa. Ayolah, Rangga... apa pun yang terjadi, cari dan perjuangkan dia."
Aku pusing. Aku ingin pulang ke Indonesia, tapi bagaimana kalau Suci masih di Singapura? Bertahan mencarinya di Singapura? Tapi bagaimana kalau dia sudah kembali ke Indonesia?
"*hit!"
Aku menggeleng perlahan-lahan, kemudian mulai mondar-mandir, berusaha meredakan kemarahan. Ternyata amarahku tidak reda. Semakin lama aku mondar-mandir, kemarahanku semakin membara. Ketegangan mulai merayapi tubuhku, dan sebelum aku menyadarinya, semuanya sudah terkumpul dalam tinjuku.
Prak!
Tinjuku melayang. Billy kaget bukan main. Untung saja tanganku tidak patah, paling tidak menurut evaluasi medis yang kulakukan sendiri. Sebagai ringkasan tindak kekerasan, hanya satu pertanyaan yang perlu diajukan: Kau masih bisa menggerakkan jari-jarimu, Idiot?
Sambil menahan rasa sakit di tanganku. Aku menoleh ke Billy dan bertanya, "Bagaimana dengan Indie?"
__ADS_1
"Ponselnya tidak bisa dihubungi, Tuan. Dan setahu saya, dia sudah kembali ke Indonesia kemarin sore."
Berengsek!
"Kamu sudah cek informasi penerbangan? Dapat informasi apa?"
Billy mengangguk. "Hanya menemukan informasi tentang Tuan dan Nyonya Nugraha. Catatan keberangkatannya tadi sore. Sedangkan untuk Nona Suci Nugraha, tidak ada catatan keberangkatan atas namanya."
"Sialan!"
Aku nyaris tidak bisa berpikir, dan hanya bisa memandang ke langit.
Apa Kau mempermainkanku, Tuhan? Kau merenggut cintaku lagi?
Pada akhirnya aku kembali ke hotel. Sambil termangu-mangu, aku mengeluarkan ponselku. Memandangi foto Suci yang menghiasi layar. Dalam pikiranku, Suci masih berada di Singapura, sendirian tanpa keluarganya, atau bersama orang lain? Tapi, di mana kira-kira ia berada sekarang? Mungkinkah dia punya keluarga yang tinggal di sini? Aku bertanya dalam hati. Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana dengan matanya? Apa benar dia sudah bisa melihat? Kenapa keluar dari rumah sakit? Apa untuk menghindari pembengkakan biaya rawat inap? Mungkinkah? Lantas, kenapa ponselnya tidak aktif?
__ADS_1
Tapi, apa pun itu, please... tolong jangan tinggalkan aku, Sayang.
Aku termangu-mangu di sini. Gelisah.