Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Kesialan...?


__ADS_3

Sebelum turun ke lantai menghampiri mangsanya, Raymond membisikkan sesuatu pada bartender, lalu ia mengajakku turun ke lantai namun aku menolaknya. Lagipula, itu hanya ajakan basa-basi.


Sementara DJ memainkan musiknya, Raymond sudah berdiri rapat di belakang gadis incarannya, menganggukkan kepala seiring irama musik, mereka bicara sejenak -- mungkin berkenalan, dan kedua lengan Raymond tahu-tahu sudah memeluk pinggang gadis itu. Yap, semudah itu.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala.


Kuakui, berdasarkan fisik, gadis itu menarik, dalam balutan tank top dan celana jeans bermanik-manik yang seperti ditempel ketat di kedua kakinya. Gadis itu memutar lalu menyalungkan tangan di leher Raymond. Jelas, Raymond mendapatkan balasan seperti yang ia harapkan, maka dalam hitungan detik kemudian, dada mereka saling menempel dan bibir mereka pun langsung bertaut. Dan itu berlangsung tidak terlalu lama, waktu jeda musik membuat mereka saling melepaskan bibir satu sama lain dan kembali ke meja bar. Waktu itu aku sudah menghabiskan beberapa gelas anggur, termasuk mencicipi milik Raymond. Keadaanku sudah setengah mabuk, tapi aku masih memiliki kesadaranku.


"Kenalin, ini sahabat gue, namanya Rangga Sanjaya."


Gadis itu mengulurkan jabat tangan, dan aku menyambutnya. Aroma alkohol sangat kentara dari mulutnya ketika ia menyebutkan nama, "Indie," katanya.


Yap, gadis itu bernama Indie. Tanpa ia menyebutkan namanya pun aku bahkan sudah tahu. Namanya terukir jelas dengan tatto yang menghiasi dadanya. Persis yang ia sebutkan. Indie.


"Pesanan gue mana?" tanya Raymond pada bartender.

__ADS_1


Dia mendekat ke Raymond, dan berbisik. Aku tidak bisa mendengarnya, tapi aku tahu dia mengatakan kalau aku yang meminumnya.


"Lu minum punya gue, Ngga? Waaaaah... lu sembarangan."


"Ya ampun. Cuma anggur, Ray...."


"Itu pake pil ekstra, Dodol!"


"Maksud lu?"


Aku terkejut -- dan cemas. Bagaimana ini? Kepada siapa aku harus menyalurkan hasrat?


Aku tidak tahu mesti ke mana. Hendak mencari Stella, tapi aku tidak tahu dia di mana, dan kupikir mungkin dia masih di rumah sakit, dan tentu saja pasti masih sakit. Terbesit pikiran untuk menemui Lady, tapi aku malu untuk meminta kontak ataupun alamatnya dari Raymond. Pikiran terakhirku mentok pada Rhea. Mau tidak mau aku harus menyalurkan hasratku pada tawananku satu itu.


Tetapi...

__ADS_1


"Ya ampun, hampir saja. Dasar sinting!"


Aku baru hendak melajukan mobilku ketika seorang gadis berjalan sempoyongan dan tiba-tiba terjatuh persis di depan mobilku. Aku tidak menabraknya, tapi posisinya terjatuh membuatku mesti turun dan menghampirinya -- dia menghalangi jalanku.


Awalnya aku mengira dia pingsan, ternyata bukan. Dia hanya mabuk berat. Saat aku menghampirnya, ia tengah memijat pelipisnya.


"Permisi, Anda baik-baik saja?"


Dia tidak menyahut. Aku diam sejenak, berdiri dengan satu tangan menggaruk kepala dan satu tangan bertengger di pinggang. Aku bingung, apa yang harus kulakukan? Tidak ada orang yang bisa kumintai tolong. Aku tidak mungkin menelepon Billy dan menunggunya datang hanya untuk menyingkirkan gadis itu dari jalanku.


"Mas, ceweknya jatuh, kok nggak ditolongin?" tanya seseorang yang tak kuperhatikan siapa dia, yang jelas -- sekilas -- bentukannya seperti perempuan meski suaranya ngebass, atau bisa jadi waria. Aku juga dalam keadaan mabuk waktu itu. Mana aku tahu.


Tetapi...


Suara di kepalaku berbisik: Mangsa di depan mata, Rangga.

__ADS_1


Gleg!


__ADS_2