Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Lets Do It!


__ADS_3

"Aku merasa ada yang aneh. Rasanya panas. Seperti waktu itu."


Dahiku mengernyit. "Panas?"


"Em, tidak nyaman."


"Tidak nyaman bagaimana? Coba lebih detail." Aku mulai panik.


"Ada yang aneh dengan tubuhku, Mas. Aku... tolong bawa aku ke kamar mandi. Gerah."


Ya ampun. Apa-apaan ini? "Kamu makan apa saja tadi?"


"Tidak ada, setelah makan malam aku tidak makan apa-apa. Cuma donat itu."


Ceklek!


"Nak...." Bibi Merry mematung. "Kamu... ya ampun. Kamu sudah makan donatnya?"

__ADS_1


Bibi Merry dengan wajah pucat dan napasnya yang ngos-ngosan berdiri tegang. Aku melihat jelas kebingungan mendominasi di wajahnya.


"Ada apa, Bi?" selidikku.


Dia gugup, "Semuanya, Nak. Bibi terpaksa... Bibi sudah menyuruh semua orang pulang. Anne dan Haris... Bibi juga tidak bisa menghalangi mereka."


"Berengsek! Donat ini dari mana?" suaraku seketika meninggi.


Suci ketakutan, tiba-tiba terduduk. Dia merabai kakiku dan dalam sekejap memeluk kakiku. "Maaf, Mas. Aku yang minta Anne memesan semuanya. Aku yang salah."


"Ya ampun, Sayang. Berdiri. Jangan begini." Kuraih dia dan membantunya berdiri. "Bibi kunci semua pintu dan telepon Billy, suruh kirim penjaga ke sini. Jangan sampai ada kesempatan penyusup masuk."


Sesuai yang diinginkan Suci, aku membawanya ke kamar mandi dan memutar keran air. Tapi itu tak banyak membantu, rasa panas tetap merongrong dirinya dari dalam. Aku tahu dia merasa tersiksa, tapi aku tak punya keberanian menawarkan bantuan yang akan membuatku seolah memanfaatkan keadaan.


Aku serba salah, hanya berdiri bingung dan seperti orang tolol di bawah siraman air dingin. "Aku tidak tega melihatmu begini," gumamku lirih saat aku memutuskan untuk memeluknya.


"Apa kamu akan memandangku buruk kalau aku memintanya?"

__ADS_1


Tenggorokanku terasa tersumbat. Saat-saat yang menyiksa. Aku rasanya tak mampu menjawab pertanyaan itu -- pertanyaan yang aku tahu Suci terpaksa mengutarakannya. Kuhela napas dalam-dalam, dadaku terasa sesak. Kuulurkan tanganku memutar keran.


Air berhenti mengalir.


"Apa pun yang terjadi, itu tidak akan pernah mengubah pandanganku. Aku mencintaimu."


Aku menangkupkan tanganku ke wajahnya, mencium bibirnya sejenak dengan sepenuh perasaan, dan... membuka pakaiannya, membiarkannya terjatuh ke kaki kami. Pun pakaianku yang juga segera terlepas.


Aku meraihnya. Mendekapnya. Dan ia melingkarkan lengannya di sekitar leherku. Tubuh kami saling menempel. Lebih dekat. Lebih dalam. Aku mendekapnya dengan satu lengan, dan menggunakan tangan yang lain untuk mengangkat kakinya, melingkarkannya di pinggangku, lalu membelai bagian belakang lututnya. Dia mulai lepas kendali ketika jemariku menuruni punggungnya, membelai tulang belakangnya, dan ia melengkungkan tubuh seperti kucing di bawah sinar matahari yang hangat, berusaha menahan *rangan.


Dia seakan ingin berteriak saat itu.


Kami meraba-raba, mencicipi, dan merasakan satu sama lain. Dia terasa manis, semua yang ada pada dirinya -- sangat manis.


Cinta... milikku....


Lantai pun bergegas menyambut kami. Dan setelahnya, aku mendapati diriku berpikir bahwa: ternyata, ubin pun bisa menjadi tempat bercinta yang sangat nyaman.

__ADS_1


Malam ini untukmu, Sayang....


__ADS_2