
Memberikan pelajaran pada wanita itu memang memerlukan sikap yang cukup manis, tepatnya berpura-pura manis untuk membuatnya terbuai sejenak -- tapi ini sudah keterlaluan. Aku sudah bertindak melebihi batasku. Sikapku terlalu manis bak seorang kekasih. Aku menempelinya terlalu berlebihan, hingga aku merasa butuh mandi. Kubersihkan tubuhku di bawah pancuran air.
"Rangga, kamu baik-baik saja?"
Stella memanggilku dari balik pintu kamar mandi. "Yeah, aku akan keluar sebentar lagi. Airmu menghangatkan."
"Bagus," katanya. "Makananmu akan siap sekejap lagi. Omong-omong, bagusnya tidak perlu mandi."
Aku menyeringai sambil mengeringkan tubuh sixpack-ku dengan handuknya yang wangi. "Kenapa?"
"Harusnya kamu selesaikan dulu tugasmu, setelah itu kita bisa mandi bersama."
Kamu benar-benar sudah tidak sabar rupanya.
Well, aku menyisir rambutku lurus ke belakang, mengenakan pakaianku lagi, dan keluar dari kamar mandi untuk bergabung dengan Stella di dapur. Oh, man, dia benar-benar menawan, hanya mengenakan bra dan *elana *alam sambil membawa spatula. Benar-benar tubuh yang indah, dan senyum yang menawan.
"Untukmu. Makanlah sampai kenyang."
Aku mengangguk, kemudian menyadari bahwa tatanan di meja hanya untuk satu orang. "Itu untukku? Kamu tidak makan?"
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya makan buah malam hari." Dia tersenyum, lalu mengangkat sebotol air. "Dan aku punya minumanku yang biasa. Menjaga lingkar pinggang. Aku menjaga tubuhku untukmu. Kamu tidak perlu cemas. Tapi... aku tidak keberatan makan beberapa suapan dari tanganmu."
Aku duduk dan memperhatikan sementara ia mengurusi masakannya di atas kompor. Atau lebih tepat, menatapnya. Dari belakang ia sama mempesonanya seperti dari depan.
"Ini dia," katanya.
Kutatap steak besar yang baru saja diletakkan Stella di hadapanku. "Tampaknya lezat." Dan aku memang lapar, kentang goreng di kedai kopi tidak cukup untuk memberikan rasa kenyang bagi perutku. Kuambil garpuku dan mengambil sepotong. "Spektakuler."
Ia menelengkan kepala. "Kamu tidak akan membohongiku, kan?"
"Siapa? Aku?"
"Bohong apa? Sama sekali tidak."
"Oke, lanjutkan makanmu."
Stella mencondongkan tubuh mendekat dan mengelus rambutku. "Kamu mau bir, atau apa?"
"Air mineral jika ada." Aku sama sekali tidak membutuhkan alkohol lagi, apalagi dicampur obat.
__ADS_1
Ia berjalan ke lemari mengambil gelas, sementara aku terus menyantap steak buatannya. Bicara sejujurnya, steak ini memang benar-benar lezat.
"Kamu bisa menginap?" ia bertanya saat kembali membawa airku. "Please, menginap, ya?
Pertanyaan itu mengejutkanku, sekalipun mungkin tidak seharusnya begitu. Aku berpaling memandang sekeliling dapur, semakin menyadari di rumah siapa aku berada.
Stella melirik ke arah sofa. Gaunnya masih tergeletak di lantai marmer. "Kurasa seharusnya begitu. Bukankah kita akan melewati malam yang panjang?"
Aku mengangguk, lalu Stella mendekat, ia duduk di pangkuanku.
"Aku sangat menyukaimu, Rangga."
Aku tahu. Bagaimana mungkin tidak tahu? Kutatap matanya dengan intens. "Jangan terburu-buru," kataku. "Kita masih punya waktu yang panjang untuk memastikan segalanya. Hubungan tidak hanya didasari dengan *eks. Aku harap kamu mengerti maksudku."
Dia tidak menjawab, malah meraih tanganku dan menyelipkannya ke balik *elana *alamnya. "Bisa melakukannya sambil makan? Aku sudah tidak tahan."
Mungkin kalau ia tidak hanya mengenakan bra dan *elana *alam. Mungkin kalau saat itu ia tidak sedang berada di pangkuanku, aku bisa menolak. Tapi...
Ya sudahlah. Kuraba-rabai ia seperti keinginannya sampai piringku kosong.
__ADS_1