
Yap! Wanita cantik itu menghampiriku, merapat dan menyentakkan buah persiknya ke dadaku. "Aku akan memuaskanmu jauh lebih baik daripada siapa pun yang pernah bercinta denganmu," bisik wanita penggoda itu seraya membiarkan satu tangannya turun perlahan-lahan untuk menangkupkan tanganku ke lekuk *okongnya yang menggiurkan. Dia menyentakkan pinggulnya ke arahku, menyelipkan satu lutut di antara kedua kakiku yang terasa goyah. Kemudian dengan perlahan, dia membimbing tanganku yang satunya ke dada, dengan perlahan -- jari-jariku mengikuti gerakannya. Dia *elenguh, menikmati tanganku yang bermain-main liar di dadanya.
Setelah puas menikmati sentuhan tanganku pada dadanya, dia menurunkan tanganku dan mengarahkan ke sela pahanya, menggosok-gosokkan tanganku di sana. Lembut sekali. Ditambah *esahannya yang tak tertahankan, semakin menggugah hasra*. Pun dirinya, dia menggosok-gosokkan tangannya padaku. Dalam sekejap, celanaku terasa sesak. Sesuatu yang tersentuh jelas sudah bereaksi.
Tapi aku tetap aku, aku masih bisa mengendalikan pikiranku.
"Kamu wanita bayaran? Raymond yang membayarmu? Hmm?"
Dia tersenyum. "Tentu saja. Untuk itulah aku di sini."
"Well--"
"Ssst... jangan banyak bicara. Ayo."
"Wow... sabar, Baby Girl."
"Heh! Sabar? Celanamu bahkan sudah sesak."
"Aku tahu, tapi aku punya penawaran lain."
"Apa itu?"
"Aku akan membayarmu dua kali lipat."
"Syaratnya?"
__ADS_1
"Goda Raymond. Ajak dia bermain di depan mataku."
"Akan kulakukan, tapi nanti, setelah denganmu."
"Oh, tidak. Aku tidak ingin."
"Yakin?"
"Tentu. Aku hanya ingin jadi penonton."
"Lalu bayarannya? Apa kata-katamu bisa dipercaya?"
"Tentu saja. Kamu bisa segera mencairkan cek-nya."
"Deal."
"Hei, katakan kalau kita sudah selesai, dan kamu masih ingin...," seruku.
Wanita itu tersenyum penuh pengertian. Kerlingan matanya menjawab perintahku.
Tidak lama setelah itu Raymond pun masuk. "Sudah selesai, Bro?" Dia melintasi pintu, menggesernya menutup di belakang.
"Yap. Capek gue. Lu mau lanjutin?"
"Kenapa tidak? Dia kan belum puas. Lu cemen!"
__ADS_1
"Berengsek!"
"Lu mau tetap di sana?"
Aku bersandar ke kayu penyangga kandang. "Tidak jadi masalah, kan? Siapa tahu setelah melihat lu main, gue jadi kepingin lagi."
Dia mengedikkan bahu dengan sedikit cebikan bibir. "Oke. Lu liat kemampuan gue."
Yeah. Itulah tujuanku. Menonton pertunjukan.
《Masuk.
Dua pesan whatsapp terkirim ke Roby dan Roy. Hanya beberapa detik berselang, mereka berdua masuk.
"Wo, wo, woo... ada tontonan seru nih.:
"Mau nonton juga, Rob?"
"Yeah, tentu saja. Ini pasti seru. Mereka pasangan super liar, man...."
Oh, ternyata ini lebih dari yang aku tahu.
"Well, tugasku bukan untuk mendengar kalian mengobrol, kan?" pemilik buah persik menyela. "Biarkan aku melakukan tugasku."
Yap! Di saat itu juga, ikal-ikal merah itu tersentak. Mata hitam kelamnya membeliak selebar tatakan cangkir. Raymond menyentakkan wanita itu ke dada bidangnya yang telanjan* dan menekankan bibirnya dengan panas ke telinga wanita itu.
__ADS_1
"Manis, bila sahabatku tidak sanggup memuaskanmu, aku dengan senang hati akan meredakan kekecewaanmu. Aku akan memuaskanmu jauh lebih baik. Ingat, tunjukkan kegilaanmu padaku, Baby."
Roy, yang tidak buka suara -- dengan rakusnya menenggak anggur langsung dari botolnya beberapa tegukan. Dia pasti akan mabuk setelah ini. Tapi terserah, dia suka, meskipun dia juga ingin bermain, aku tidak akan menghalangi.