
"Aku tidak suka hujan, bahkan aku sangat benci hujan."
Entah umpatan atau sekadar gerutuan spontan yang meluncur dari mulutku, ketika mengetahui sore ini hujan turun sangat deras. Curah hujan semakin rapat dan di langit yang kelam petir menyambar-nyambar. Di luar sana, aku melihat orang-orang berlarian untuk berteduh di mana saja, sebagian besar sambil berupaya melindungi kepala mereka dengan apa saja.
Sesaat aku tertegun di lobi gedung kantor, menatap sekeliling dengan gamang. Ragu-ragu untuk membuat suatu keputusan. Apakah aku harus kembali ke ruanganku, atau menunggu saja di lobi menanti hujan hingga berhenti? Terus terang, sejatinya aku ingin segera pergi ke suatu tempat, menemui seseorang yang sangat menantikan status baruku. Menantikan kelajanganku. Tapi aku tidak ingin dan tidak akan pernah mau menerobos hujan. Apalagi berkendara, aku mengingatkan diriku sendiri: berkendara saat hujan memiliki risiko kecelakaan dan kematian yang sangat besar.
"Lebih baik hujan."
Tiba-tiba aku menangkap suara seseorang bergumam. Suara yang tidak asing. Mungkin juga ia menjawab gerutuanku. Aku memalingkan wajah ke arah kiri sumber suara. Tentu saja bukan orang asing. Itu Jessy, sekretarisku yang cantik.
"Kamu suka hujan, Jess?" tanyaku.
"Tidak juga, Pak."
"Kenapa kamu bilang lebih baik hujan kalau kamu sendiri tidak suka hujan?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
Jessy sedang sibuk membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah payung lipat.
Beberapa hari belakangan ini, mendung tebal selalu menggelayuti langit Jakarta, oleh karenanya, tidak aneh kalau orang-orang telah menyiapkan sebuah payung lipat utuk mengantisipasi hujan yang sering mendadak runtuh dari langit. Seperti kata pepatah: sedia payung sebelum hujan, maka mereka adalah orang-orang yang cukup patuh dengan pepatah tersebut. Termasuk Jessy. Dan ternyata sore ini hujan benar-benar menyiram bumi Jakarta. Pepatah itu begitu mujarab bagi mereka yang menyediakan payung sebelum hujan.
"Bapak butuh payung? Pakai saja punya saya."
Jessy menyodorkan sebuah payung lipat berwarna merah dengan tangan kirinya. Tangan kanannya memegang payung yang lain. Rupanya ia membawa dua buah payung lipat. Kuperhatikan ia sepertinya ingin meminjamkan payungnya kepadanya dengan tulus.
Kenapa mesti warna merah? batinku.
Aku menggeleng. "Trims, saya tidah butuh payung. Biar saya tunggu hujan reda. Saya anti menerobos hujan."
Jessy hanya manggut-manggut, mungkin terbesit untuk bertanya kenapa, tapi dia segan. Mungkin.
"Saya tidak suka jarak pandang yang terhalang curah hujan. Apalagi jalanan pasti macet karena banjir."
__ADS_1
Yeah, itu alasan lain selain risiko rawan kecelakaan. Aku tidak menyebutkan alasan utamaku itu supaya aku tidak terkesan penakut di hadapan sekretaris cantik itu. Padahal menurutku tidak juga.
Jessy mengangguk paham, lalu ia menyimpan lagi kedua payungnya. "Kenapa disimpan semua?" tanyaku.
"Biar saya temani Bapak di sini."
Eh?
"Maksudnya?"
Ugh! Kurasa aku mulai geer. Entah kenapa aku tersenyum senang.
"Ya... masa saya membiarkan atasan saya di sini sendirian? Saya tidak enak meninggalkan Bapak sendirian di sini."
Please... Rangga, jangan geer. Dia hanya bersikap diplomatis sebagai sekretaris pribadi pada atasan. Oke?!
__ADS_1