
Nadaku, bahasa tubuhku -- kuatur agar hal ini tampak seperti keputusan yang mudah, bahwa bayangan untuk berduaan dengan Stella tidak pernah benar-benar terpikirkan olehku. Seandainya saja itu benar.
Jujur kuakui, sebagai lelaki normal yang kesepian, sesungguhnya hasratku terpancing akan keberadaan Stella. Dia wanita cantik yang memberiku penawaran luar biasa. Itu sangat menggiurkan. Dan hal ini membuatku mesti mati-matian menahan diri. Aku membutuhkan seluruh tekad bajaku untuk mengingatkan diri sendiri kenapa aku pertama-tama menemaninya.
Sekalipun begitu, aku tak bisa mengingkari ada sesuatu, semacam ketertarikan di antara kami. Apa yang aku yakin tak bisa dipalsukannya. Kalaupun dirinya bisa, apa peduliku?
Well, kami menempuh sisa perjalanan ke rumah Erlan Nasution dalam kebisuan. Saat kulirik dirinya, mau tak mau aku menyadari bahwa gaunnya telah tersingkap lebih tinggi. Paha yang putih mulus, ramping, dan kencang, menyebabkan aku teringat akan apa yang sudah kulewatkan tadi, dan sedikit menyesalinya.
Kuarahkan mobil memasuki jalan masuk melingkar dan berhenti. Pada saat itulah ia membebaskanku dari kewajiban.
"Aku mengerti," katanya. "Mungkin itu bukan tindakan yang baik. Tidak dalam situasi seperti sekarang."
Aku mengangguk. "Mungkin."
"Terima kasih untuk makan siangnya, aku sangat menikmatinya." Ia mencondongkan tubuh dan mengecup pipiku. Aku bisa merasakan rambutnya menyapu wajahku. Aku bisa mencium aroma parfumnya, sangat menyenangkan, sedikit bau sitrun.
Stella turun dari mobil dan perlahan melangkah menapaki tangga depan. Dan keluar dari hidupku?
Tidak. Itu terlalu mudah dan mustahil bagi Stella untuk menyia-nyiakan kesempatan. Kutunggu sementara ia mengambil kunci rumah dari tas tangannya. Kualihkan pandanganku beberapa detik untuk mengotak-atik tombol radio. Sewaktu aku berpaling kembali, ia masih saja berusaha membuka pintunya.
__ADS_1
Kuturunkan kaca jendela. "Ada masalah?"
Ia berpaling memandangku, menggeleng sambil *endesah penuh frustasi. "Kunci sialan ini macet. Ini semakin lama semakin memalukan."
"Tunggu."
Aku turun dari mobil untuk memeriksa. Benar saja, anak kuncinya hanya menancap separuh di lubangnya. Hanya separuh. Bagaimana bisa berhasil jika hanya terbenam separuh?
Huh! Hanya pancingan, kuncinya sama sekali tidak macet.
Begitu kupegang, anak kunci itu langsung masuk ke lubangnya dengan mulus. Seluruhnya, dan sekali putar -- pintu pun terbuka. Yap. Aku berbalik, dan...
Stella berdiri hanya beberapa senti dariku.
Pada saat itulah naluri mengambil alih dan tekad bajaku gagal total. Pertahananku runtuh.
Aku membalas ciuman Stella.
Ah, kacau!
__ADS_1
Kau gila, Rangga. Dasar lelaki idiot! Payah!
Ayo, Rangga. Masih ada waktu untuk menghentikannya. Kesempatan untuk menarik diri. Kau hanya perlu berhenti mencium Stella.
Tapi aku tak mampu berhenti. Ia terasa begitu lembut, begitu menyenangkan dalam pelukanku. Dan bibirnya... begitu menggoda untuk berhenti kucicipi.
Stella meraih tanganku dan membimbingnya menyusuri gaunnya di sepanjang paha. Napasnya tersentak. Dan...
Aku berhenti.
"Sori. Aku minta maaf. Ini...."
"Ssst...." Dia hendak menciumku lagi.
"Stell, please! Stop it!" Aku mendorongnya.
"Rangga, please. Aku mohon?"
"No. Ini tidak seharusnya. Permisi."
__ADS_1
Aku pergi. Cepat-cepat aku membuka pintu mobilku dan melompat ke balik kemudi. Kulajukan mobil secepat kilat.
Oh, untunglah, aku berhasil mengalahkan diriku sendiri. Hasratku!