Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Lagi!


__ADS_3

"Makan dan istirahatlah. Aku akan tidur di kamar lain."


Ia menatapku dengan pandangan kosong. Aku sudah menduganya. "Kenapa? Apa salahku?" Rhea menjaga ketenangannya dengan sangat baik.


Aku melengos. "Habiskan saja makananmu."


"Jawab aku," kata Rhea dengan suara datarnya dan tatapannya yang memelas. "Apa kamu sudah lupa pada janjimu? Kenapa sekarang kamu memperlakukan aku seperti ini? Kenapa kamu mengurungku? Tolong katakan, apa salahku? Please...?"


Lihat dia, air matanya mengalir membasahi pipi, matanya memerah dan seratus persen -- seakan dia dalam keadaan benar-benar sedih, maksudku sungguhan, bukan sedih yang dibuat-buat atau akting semata. Andai saja malam itu aku tidak melihat perselingkuhannya dengan mata dan kepalaku sendiri, pasti aku masih termakan dengan sikapnya yang lugu, saat ia berada di hadapanku -- dia seakan benar-benar sosok seorang istri yang polos. Dan, wow! Aku yang terlalu bodoh atau dia yang terlalu pintar memainkan perannya? Kugelengkan kepala karena keheranan.


Huh! Sebaiknya dia tidak perlu tahu alasanku mengurungnya sampai kami benar-benar resmi bercerai. "Diamlah. Kamu jangan banyak bicara. Dan ingat, kamu masih istriku, bersikaplah dengan baik agar aku tetap memperlakukanmu dengan baik."


"Apa maksudnya? Kamu akan terus mengurungku di sini? Aku bukan tawanan...."


Aku menatapnya dengan tajam. "Tutup saja mulutmu dan jangan cerewet. Sangat disayangkan kalau tanganku harus mendarat di wajahmu."


Rhea terkesiap, ketakutan. Lima tahun menikah, aku tidak pernah memarahinya walau sekali pun, apalagi main tangan -- sama sekali tidak pernah. Dan aku bisa melakukan itu jika aku tidak lekas pergi. Aku pun keluar, kendati Rhea mencoba keluar dan menyusulku. Tapi dua pengawal di depan pintu dengan sigap mencegah dan kembali mengurungnya.


Aku tidak bisa memaafkanmu. Tidak akan pernah bisa.

__ADS_1


Drrrt... drrrt... drrrt...


Ponselku bergetar saat beberapa langkah aku meninggalkan kamar itu dan aku masuk ke kamar lain. Panggilan dari nomor tidak dikenal. Aku mengangkatnya, mengira itu adalah telepon penting. Tapi...


Aku keliru. Benar-benar keliru.


"Dengan Rangga Sanjaya?"


"Benar. Siapa ini?"


"Stella," kata wanita di ujung seberang. "Stella Sanjaya."


Yah, rupa-rupanya wanita itu tidak kesulitan mendapatkan nomor ponselku. Percuma saja di kantor tadi aku pura-pura tidak punya waktu untuk menanggapinya dengan alasan ada tamu penting yang harus kutemui saat itu juga. Menyebalkan!


"Bagaimana? Pantas, kan, namaku disandingkan dengan namamu? Stella Sanjaya, cocok dan keren."


Aku tersenyum sendiri. Dasar wanita penggoda. "Yah, sayangnya sampai saat ini sudah ada seorang wanita yang masih menyandang namaku."


"Tidak masalah. Aku bisa menunggu untuk itu."

__ADS_1


"Oh, kuharap kamu tidak akan kecewa nantinya."


"Jangan khawatirkan itu."


"Mmm-hmm?"


"Dengar, aku pasti bisa menaklukkan hatimu."


"Oh, waw! Kedengarannya menarik."


"Mmm-hmm, akan seperti dugaanmu."


"Baiklah, kalau begitu, aku menantikannya."


Jawaban asal, tapi tetap membuat wanita itu merasa tertarik. Kurasa, otaknya rada-rada sengklek.


"Kurasa memang harus. Dengar, aku pernah merasakan berada di posisimu, kehilangan seseorang. Dan jujur, aku mengkhawatirkanmu Kamu baik-baik saja?"


Benar-benar agresif. "Terima kasih, Stell. Aku bisa bertahan. Aku benar-benar berterimakasih karena kamu mau menanyakan keadaanku. Dan sebenarnya aku baik-baik saja."

__ADS_1


"Kamu yakin?"


__ADS_2