Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Hanya Rencana


__ADS_3

"Mas...?"


"Ssst...."


"Tapi...."


"Aku mengerti. Tapi tidak usah dibahas, ya. Aku menghormatimu. Di mataku kamu tetap gadis yang baik, yang suci. Kita hanya harus menunggu, setelah kita menikah, tidak akan ada lagi halangan. Kamu sepenuhnya milikku. Dan aku... akan bebas menyentuhmu, kapan pun."


Suci tersenyum, nyaris menahan tawa. Praktis aku bertanya kenapa. "Aku teringat kalimat yang kamu ucapkan kemarin, kekuatan lelaki tiga puluhan. Beruntung, ya, aku, bertemu denganmu," katanya sambil terkikik.


"O ya? Bukannya aku yang beruntung? Mendapatkan kamu yang cantik, muda, dan...."


Alisnya terangkat. "Apa?"


"Perawan...." Aku mencondongkan tubuh dan meniupkan kata itu ke telinganya.


Lagi-lagi tubuhnya gemetar. Dapat kurasakan bulu tengkuknya merinding.


"Mas...," *esahnya. Tangannya meraba turun. "Sebentar saja. Please, ya?"


Permintaan?

__ADS_1


"Apa?"


"Please...?"


"Kamu mau?"


"Em, aku mau."


"Sayang...."


Hmm... dia merengek, "Aku mohon? Aku tahu risikonya, mungkin kamu akan menganggapku murahan. Tapi aku mau."


"Aku pulang sekarang saja, ya?"


Dia berguling menyamping, memunggungiku. Merajuk, mungkin. Mungkin juga malu.


"Kamu hanya kepingin," kataku. "Mungkin tidak akan ada penyesalan. Tapi coba tanya pada lubuk hatimu yang terdalam, dalam keadaan normal, apa itu salah?"


Dia memutar tubuhnya lagi menghadapku. "Aku tahu itu salah. Tapi aku terlanjur menyukai sentuhanmu."


Tenggorokanku rasanya tercekat. "Kita akan segera menikah," kataku. "Sabar, oke?"

__ADS_1


Suci mengangguk. Kuulurkan tanganku untuk memadamkan lampu kamar, dan menyalakan lampu tidur di sampingku. Lau memeluknya, dia menaruh tangannya dengan nyaman di dadaku. Well, Kami meringkuk berpelukan dalam gelap, terlindung dalam selimut lebar yang nyaman. Andai secepatnya bisa terus seperti ini.


"Sayang, aku mau menyusulmu ke Singapura setelah kamu operasi." Suci hendak menyela, tapi aku mencegahnya. "Dengarkan aku dulu. Aku ingin bertemu denganmu dan orang tuamu langsung di sana. Aku khawatir kamu tidak bisa bicara langsung pada mereka. Jadi, biarkan aku saja yang melakukannya. Please?"


Suci masih terdiam untuk sesaat. Tapi akhirnya dia mengangguk. "Tapi setelah operasiku berhasil, ya, Mas? Aku tidak ingin kalau aku tidak bisa berkutik nantinya. Aku tidak ingin orang tuaku melerai hubungan kita hanya karena aku buta, dengan alasan aku belum pernah melihat wajahmu, dan tidak tahu apa-apa tentangmu karena aku belum pernah melihat rumahmu, di mana kamu tinggal, di mana tempatmu bekerja. Dan... jujur, orang tuaku pasti... mereka akan menilaimu dari segi materi. Aku...."


"Oke aku paham. Itu yang membuatmu ragu mempertemukan aku dengan mereka?"


Suci menyuruk ke dalam pelukanku lebih dalam. "Aku takut kamu tersinggung saat tahu orang tuaku... emm... sedikit matre. Maaf, bukannya aku menjelek-jelekkan mereka. Tapi...."


"Sudahlah. Aku paham, dan tidak mempermasalahkan soal itu. Yang penting kamu berbeda. Kamu mencintaiku dengan tulus, itu yang aku inginkan." Dan kamu juga bersedia menjadi teman hidupku dan mau memberikan keturunan untukku. Itu sudah cukup. Lagipula kamu bukan anak kandung mereka.


Suci berdeham. "Mas, aku mau kamu berjanji satu hal."


"Apa?"


Dia menghela napas dalam-dalam. "Kamu harus berjanji, apa pun yang terjadi nanti, bagaimanapun respons orang tuaku terhadap dirimu, please, jangan tinggalkan aku. Perjuangkan aku, Mas. Aku mohon... perjuangkan aku bagaimanapun caranya."


"Pasti. Aku akan memperjuangkanmu, dari apa pun dan siapa pun yang menghalangi kita untuk bersama."


Bahkan belum apa-apa, sekarang kita sudah berjuang bersama.

__ADS_1


__ADS_2