Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Milikku


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh, tapi aku masih belum bisa tidur, bahkan aku tidak merasakan rasa kantuk sedikit pun. Aku disergap rasa takut berlebih, tentang -- kehilangan yang andainya terjadi -- berarti itu untuk ke sekian kali.


Malam itu aku diam-diam mengendap ke kamar utama, membuka pintu sepelan mungkin. Tapi tetap saja, pendengaran Suci sangatlah tajam.


"Mas? Apa itu kamu?" tanyanya.


Suci juga belum tidur saat itu, masih duduk termangu di atas tempat tidur dengan kedua kaki ditekuk dalam dekapan kedua tangannya.


"Ya," kataku. "Kenapa kamu belum tidur?"


Aku duduk di sisinya, merangkulkan tanganku ke pundaknya dan menyandarkan kepalanya ke dadaku.


"Belum mengantuk," sahutnya. "Kamu?"


"Sama. Rasanya aku tidak bisa tidur."


"Karena memikirkan kepulanganku besok?"


Aku mengangguk. Aku bukannya tidak percaya pada perasaan Suci terhadapku, tapi aku tidak percaya pada lingkungan tempat tinggalnya, pada adiknya yang culas, juga pada orang tuanya yang menjodohkannya dengan lelaki pilihan mereka. Terlebih dengan ketidakberdayaan Suci untuk melindungi dirinya sendiri.


"Kamu diam, artinya iya?"

__ADS_1


"Em, kamu lebih aman bersamaku."


"Maksudnya...? Aku akan hati-hati, Mas. Aku akan sigap menelepon kalau aku kenapa-kenapa."


Ya, pada kenyataannya aku memang tidak bisa menahannya lebih lama.


"Daripada bengong, daripada memikirkan yang tidak-tidak, mending kita makan donat, yuk? Aku tadi pesan online. Tadi kata Anne ditaruh di atas meja."


Aku menoleh, ada sekotak kecil donat dengan aneka topping. Suci minta diambilkan donat dengan topping cokelat bertabur kacang.


"Suapi aku," katanya.


"Apa perlu aku menjawab kalau kamu bahkan sudah ngapa-ngapain aku? Jadi mau jijik apa lagi, Mas?"


Ck! Aku terkekeh. "Iya, iya. Pertanyaanku yang salah. Tapi aku pada alergi kacang."


"O ya?"


"Em, jadi, kamu mau rasa apa lagi?"


"Mau rasa cinta."

__ADS_1


Dahiku mengernyit. "Yang mana? Stroberi? Yang topping warna pink?"


"Kamu ini Mas, aku hanya bercanda," katanya sambil terkikik. "Aku mau mengajak kekasihku berdansa untuk mengenang malam ini. Aku mohon. Mau, ya?"


Aku tersenyum. "Tentu." Aku langsung memutar musik dari ponselku dan menyambungkannya ke speaker mini di atas nakas. Musik jazz pun seketika memenuhi ruangan, dan ketika aku kembali kepada Suci, aku langsung meraih tangannya.


Kami berdansa sampai dua lagu, dan aku tak menginginkan hal itu berakhir. Andai dia bisa melihat, ia pasti mendongakkan kepala dan menatapku. Tapi apalah daya, dia hanya menyandarkan kepalanya di dadaku.


"Hanya kamu," tuturnya. "Aku hanya merasa bahagia bersamamu. Merasa hangat, dan seakan ada rasa manis di dalam jiwaku. Tolong jangan permainkan aku, Mas."


Ya ampun... dia membuatku mendesa*, terasa sesak. "Tolong percaya padaku, Sayang. Aku sama sekali tidak mempermainkanmu. Tidak ada niat sedikit pun dan tidak akan pernah kulakukan. Aku juga bahagia bersamamu. Percaya padaku. Aku serius padamu."


Tanpa kusangka, dia mendongak, lalu memejamkan matanya. Dan di saat yang bersamaan gelombang perasaan yang mengejutkan melandaku. Aku membelai wajahnya dengan jemariku, pipinya, bibirnya, alisnya, dagunya, aku menyentuh setiap bagian wajahnya. Dengan perlahan. Menyiksa. Dan sepanjang waktu itu aku merasa gila, terbakar api dari dalam yang mencabik-cabik diriku. Yah, perlahan jemariku menelusur ke dalam helaian rambutnya hingga menangkup bagian belakang kepalanya, dan...


Gelombang emosi yang manis dengan cepat menenggelamkanku.


Aku menciumnya. Dan aku tersesat.


Sungguh, demi apa pun di dunia ini, aku telah menemukannya, belahan jiwaku -- dan dia milikku.


Milikku. Selamanya akan menjadi milikku.

__ADS_1


__ADS_2