Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Terjadi....


__ADS_3

Dia sangat cantik. Setara kecantikan Rhea dan Stella, meski rambutnya tak terlalu panjang, dan -- aku tidak tahu namanya, mungkin itu jenis rambut bergelombang. Meski tidak hitam, lurus, dan mengilap seperti rambut Rhea dan Stella, tapi rambut kecokelatan itu sangat cocok untuknya. Keindahan tubuhnya pun sebanding dengan Stella. Dan, meski ia tak seputih dua wanita itu, tapi gadisku ini menang telak, sebab dia jauh lebih muda. Lebih menggairahkan. Terlebih, sungguh, dia nampak cocok dengan bra cokelat tua yang ia kenakan.


Yeah, aku mulai mencium bibirnya. Dan, wow! Aku seperti lelaki yang baru jatuh cinta -- aku bisa merasakan rasa manis bibir cantik itu di mulutku. Lalu kupejamkan mataku, aroma melati menarikku menyusuri lehernya. Wangi -- aroma yang membangkitkan sisi kanibalku dalam sekejap.


"Eum....," dia *elenguh merasakan *sapanku di lehernya.


Well, naluri semakin mengambil alih kesadaranku, tahu-tahu tanganku sudah berada di atas dadanya. Merasakan sensasi asing -- yang masih original. Aku menyadari perbedaan sahara itu dengan yang selama ini kusentuh. Rhea, Stella, ataupun Lady, sahara mereka tak sekencang itu. Seakan ada sesuatu di dalamnya yang masih utuh. Aku membuat diriku percaya, itulah buah persik yang belum pernah tersentuh tangan jahil kaum lelaki. Dan waw! Rasanya aku sangat gembira. Entahlah.


"Aku ingin merasakannya, Sayang."


Seolah minta izin. Padahal, bukan. Sama sekali bukan. Aku tahu gadis itu dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh alkohol. Tapi, yah, aku mengajaknya bicara -- seolah hanya untuk memperhalus kelancanganku yang ingin menyentuh dan menjelajahi puncak sahara-nya. Toh, ia *elenguh semakin jadi -- semakin membuatku ingin *enjamahnya, lebih dan lebih. Yap, dengan rakus, mulutku ikut menikmatinya. Kuakui, dia benar-benar nikmat, melebihi wanita mana pun yang pernah kusentuh.


Kalau dadanya saja senikmat ini, apalagi...


Aku turun, dan melepaskan kain terakhir itu.


Dan, lagi. Aku tidak tahan. Diawali dengan jemariku yang nakal, lalu lidah yang ikut liar, sampai bibir dan mulut yang lancang. Oh, man... gadisku semakin menggelia*. *esahan seksi terus lolos dari bibirnya. Menggoda.

__ADS_1


"Sayang, aku masuk, ya? Kamu butuh aku, aku juga membutuhkanmu. Boleh, kan?"


Lagi-lagi dia *elenguh -- seolah menjawabku, memperbolehkan aku menyentuhnya dan menjamahnya dengan gila. So, what, itu memang jawaban untukku, pikirku -- membenarkan diri sendiri.


Dia juga sama menginginkannya sepertiku. Aku tersenyum. "Well, aku akan mengakhiri penderitaanmu, Sayang."


Kutanggalkan semua pakaianku tanpa terkecuali, lalu naik lagi ke tempat tidur. Kurenggangkan kaki gadisku dan mengarahkan diriku ke dalam singgasananya. Dan...


"Eum...."


"Uh... oh, sakit...." Wajahnya menyeringai, dan ia menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit itu. "Hmm... uh!"


Aku suka. Suara *esahan itu menggairahkan. Terdengar seksi sekali. Aku semakin tak sabar untuk berhasil terbenam seluruhnya.


Perlahan, aku kembali menekan...


"Sakiiiiit...," ia meringis.

__ADS_1


"Tahan, Sayang."


"Sakiiiiit...."


"Sedikit lagi. Please, tahan."


Dan...


"Eummmmmmm... sakiiiiit...!" dia menjerit dengan suaranya yang tersengal dan lemah. Kesakitan. Bulir bening pun menetes dari sudut matanya.


Yap, benar saja, tidak terlalu lama -- aku sudah berhasil merobek lapisan yang menghalangiku. Aku pun terbenam seluruhnya.


"Maaf, Sayang. Aku membuatmu meneteskan air mata."


Bahkan lebih dari itu, aku membuatnya kesakitan hingga ia berdarah di bawah sana.


"Maaf," kataku lagi. Kemudian kuhapus air mata yang menetes dari sudut matanya -- efek sakit dari kegadisannya yang terenggut olehku.

__ADS_1


__ADS_2