
Mayang.
Ternyata aku yang salah kaprah. Namanya Mayang. Kusadari maksudnya dalam mimpiku itu adalah "May." Dia memperkenalkan namanya, bukan berarti dia memintaku memanggilnya My atau Yang yang berarti Sayang. Tapi, toh aku benar-benar sayang. Sayang dan cinta mati kepadanya.
Aku tahu, ada banyak pahit di antara kami. Tapi tidak akan pernah bisa mengalahkan rasa manis yang ada. Biarlah dunia menentang seperti apa, bahkan Tuhan sekalipun, aku ingin Suci tetap bersamaku. Semua yang terjadi, siapa pun yang terkorban, itu sudah menjadi takdir, bukan berarti aku akan melepaskan Suci dari hidupku. Aku sangat yakin, aku akan menemukannya. Pasti.
Malam itu, sembari menunggu kabar dari orang-orangku yang mencari keberadaan Suci, aku sengaja mengajak Mbok Sari mengobrol di ruang makan. Aku sengaja meminta Mbok Sari untuk tinggal di rumahku supaya aku tidak kesulitan untuk menanyakan informasi mengenai Suci, seandainya ada yang perlu kutanyakan tentangnya pada Mbok Sari.
Dan mumpung dia belum ke kamarnya untuk istirahat, aku punya waktu untuk bertanya tentang masa lalu Suci, bagaimana dia bisa diadopsi dan tinggal di Jakarta, sementara orang tuanya ada di Sumatera.
Sebelum menjawab pertanyaanku, Mbok Sari kelihatan sangat ragu dan enggan menceritakan hal itu padaku. Tapi aku berhasil meyakinkannya. "Saya hanya ingin tahu masa lalunya, Mbok. Dan apa pun yang akan Mbok ceritakan, sama sekali tidak akan mempengaruhi keputusan saya. Saya hanya ingin lebih mengenal Suci, mengenalnya lebih jauh. Termasuk masa lalunya."
__ADS_1
"Emm... baik, Tuan."
"Panggil nama saja, Mbok."
"Maaf, tapi...."
"Apa saja asal jangan panggil saya tuan."
"Ya, boleh. Monggo, tolong Mbok cerita."
Tapi Mbok Sari tetap saja nampak bingung. "Tapi Den Rangga janji, ya, tolong tetap cari Non Suci?"
__ADS_1
Aku mengangguk dan berjanji dengan takzim, "Saya berjanji akan mencari Suci sampai ketemu. Mbok bisa pegang janji saya. Sekarang Mbok bisa ceritakan masa lalu Suci pada saya?"
"Iya," katanya. Dia menunduk sejenak, menghela napas dalam-dalam. "Non Suci itu anak seorang TKW, Den. Ibunya pulang ke Indonesia dalam keadaan hamil besar. Tuan dan Nyonya Nugraha bertemu Bu Niar di rumah sakit sewaktu dia lahiran. Bayi itu diberi nama Suci Mayang Sari, nama di akta kelahirannya. Waktu itu... Bu Niar... dia tidak berani membawa bayinya pulang ke kampung halaman, karena... kakeknya Non Suci tidak mau dipermalukan karena bayi itu terlahir tanpa ayah, tanpa ikatan pernikahan. Tuan dan Nyonya Nugraha yang waktu itu belum punya anak, meminta bayi kecil itu baik-baik dari Bu Niar. Jadi begitulah, bayi kecil itu diadopsi oleh keluarga Nugraha. Tapi Tuan dan Nyonya Nugraha tidak pernah merahasiakan identitas Non Suci, sebagaimana mestinya, Non Suci diberitahu semua hal tentang identitasnya. Non Suci juga sering pulang ke kampung ibunya setelah kakeknya meninggal. Kira-kira begitu cerita yang Mbok tahu. Aden tidak akan mempermasalahkan masa lalu Non Suci, kan?"
Sama sekali tidak. Masa lalunya malah sedikit lebih baik daripada aku yang sama sekali tidak tahu siapa ayah dan ibuku. Setidaknya, Suci tahu siapa ibu kandungnya dan di mana kampung halamannya. "Tenang saja, Mbok. Saya tidak akan pernah mempermasalahkan masa lalu Suci. Dan saya--"
"Permisi, Tuan. Ada laporan yang harus segera saya sampaikan."
Billy, berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang kusut. Pasti bukan berita bagus.
Ada berita apa?
__ADS_1