
Setelah mengantar Suci dan memastikannya aman bersama asisten rumah tangga di rumahnya, aku meminta Billy yang sekarang duduk di balik kemudi mobilku untuk segera melajukan mobil ke bar dan mencari informasi mengenai bartender yang menyajikan minumanku semalam. Aku masih ingat betul pada wajahnya.
Dalam perjalanan itu, aku fokus pada layar ponselku, mengganti wallpaper ponselku dengan foto Suci. Aku bahkan sempat tersenyum sendiri mengingat cantiknya dia saat tersenyum -- ketika aku memasangkan cincin ke jarinya, sesaat sebelum ia turun dari mobil.
"Aku punya sesuatu untukmu," kataku. Aku merogoh saku jasku dan mengeluarkan sebuah cincin batu berbentuk oval dengan warna rubi. Ornamen dari logam gelap meliuk-liuk di sekitarnya, menahan batu permata itu di tempatnya. Delapan batu permata dengan warna senada menghiasi tepiannya.
Lagi-lagi mata cantiknya berbinar dalam senyuman saat dia merasakan cincin itu menulusup dan meligkari jari manisnya dengan pas. Dapat kurasakan tangannya gemetar.
"Ini milik mamaku," kataku lembut. "Dan jujur, aku pernah memakaikan cincin ini ke jari perempuan lain, tapi... sebentar, aku belum menceritakan hal ini padamu."
Suci mengangguk. "Aku tahu," katanya. "Bibi Merry sudah menceritakan semuanya. Dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan soal itu. Masa lalu itu sudah berlalu. Sekarang kamu hanya milikku."
Aku lega. "Terima kasih."
"Em, aku yang berterimakasih karena kamu mempercayakan cincin ini padaku. Aku merasa berharga, Mas. Sejak buta, aku selalu merasa terbuang, tapi kamu...."
Aku mengusap wajahnya, menghapus air mata yang tak bisa ia tahan. "Lupakan semua kepedihanmu. Kita memang belum menikah, tapi aku mau kamu memiliki cincin ini sebagai janjiku atas selamanya."
__ADS_1
Dia mengulurkan tangan untuk menangkup wajahku dengan cincin yang solid di jarinya. "Aku juga menjanjikanmu selamanya. Semua kehidupanku dan kesetiaanku."
Untuk terakhir kali sebelum berpisah, aku memeluknya -- sekuat dan seerat yang kubisa, lalu aku berbisik, "Kamu tidak akan melaporkan aku ke polisi, kan?"
Nyessss...!
Meski tidak bisa melihat, Suci punya insting yang cukup bagus, dia bisa mencubit tepat di perutku. Aku menjerit kesakitan. "Polisi tidak akan menerima laporan pencurian hati, tahu...!"
"Tuan, Tuan baik-baik saja?"
Ah, Billy. Dia merusak lamunanku. Aku pun mengangguk dan menyadari -- kami sudah sampai.
Aku pun langsung bertanya pada salah satu dari mereka, dan dengan baik hati, seorang karyawan muda mau menanggapiku -- atau takut pada bodyguard-bodyguard di belakangku? Dia menunjukkan foto semua bartender yang bekerja di sana. Tapi tidak satu pun dari mereka yang menyajikan minumanku tadi malam.
"Atau mungkin orang ini?" tanya pemuda itu. Dia menunjukkan lagi foto di layar ponselnya: tepat, orang itu yang kucari.
Aku mengangguk. "Benar," kataku.
__ADS_1
"Sayang sekali, Tuan. Bang Niko ini ditemukan meninggal tadi pagi."
Pupus. Dan ini terlalu kebetulan.
"Meninggal kenapa?" tanya Billy.
"Sepertinya korban tabrak lagi."
"Oke, terima kasih informasinya."
Tidak ada gunanya mengusut tentang orang yang sudah mati. Dia sudah membawa rahasia itu ke alam baka.
"Ini terlalu kebetulan, Tuan," ucap Billy saat kami sudah kembali ke mobil.
Aku tahu, dan ini sangat janggal. Mungkinkah untuk menghilangkan jejak? Mungkinkah ada yang menyuruhnya menaruh obat perangsan* ke dalam minumanku? Kalau benar, itulah bodohnya kenapa dia mau mengikuti perintah orang yang menyuruhnya. Uang pasti didapat, tapi nyawa juga melayang. Aku tidak yakin dia meninggal dengan wajar. Pasti ada sesuatu. Instingku mengatakan demikian.
Tapi, menurutku -- itu berarti pelaku sebenarnya tidak mengincar nyawaku. Sebab, jika dia mau membunuhku, dia bisa menaruh racun untukku, bukan obat perangsan*.
__ADS_1
Iya, kan?