Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Perdebatan


__ADS_3

Tetapi Suci tetap menggeleng.


Sesak sekali rasanya. Aku terisak. Berlutut di hadapannya. "Aku sadar aku salah, My. Andaikan bisa aku mau memperbaiki semuanya. Tapi... semuanya sudah terlanjur. Stella terlalu sakit hati dan terlanjur dendam."


"Siapa pun akan sakit hati kalau mengalami hal seperti itu," singitnya pelan.


Aku mengangguk -- tetap berusaha untuk mengendalikan diri. Aku tidak boleh menyikapi Suci dengan pembenaran diri. Aku harus mengalah dan mengaku salah. "Please, aku menyesali semuanya, My. Jangan membenciku karena kesalahan di masa laluku. Tolong?"


Dia sudah sedikit tenang, tapi masih sesenggukan. "Aku tidak tahu," katanya. "Duniamu menakutkan. Duniamu seperti buah simalakama untukku."


"Maksudmu apa? Ada yang mengancammu?"


Suci menatap tajam padaku dengan matanya yang sembab dan merah. "Ya," sahutnya. "Seseorang yang kamu sakiti hatinya, Dia tidak ingin kamu bahagia. Dia akan membuatmu merasakan apa yang dia rasakan. Ayah dari anak itu, bayi yang sudah kamu bunuh, dia sangat dendam padamu. Dia tahu, aku sumber kebahagiaanmu. Sebab itu, dia tidak ingin kita bersama."

__ADS_1


Mataku terpejam. Siapa orang itu?


"Please, aku tidak ingin keluargaku celaka karena keegoisanku untuk bertahan bersamamu. Aku mencintaimu, tapi aku juga sayang pada keluargaku. Walau bagaimanapun juga, aku menyayangi Mama, aku juga sayang pada adikku. Mereka satu-satunya keluarga yang kupunya. Kamu mengerti itu, kan? Jadi, please, kamu harus kembali ke Jakarta tanpa aku. Lupakan semua tentang kita. Di antara kita sudah tidak ada anak. Tidak ada lagi alasan untuk kita hidup bersama. Aku ingin kamu pergi. Tolong, tolong tinggalkan aku."


Mulutku setengah terbuka dan kering. Aku tidak bisa bicara. Di depanku, Suci kembali menangis sesenggukan. Dia menyembunyikan wajahnya di antara dua lututnya yang tertekuk.


Kupejamkan mataku dan menarik napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan amarahku pada musuh yang berani mengusik gadisku -- hanya untuk meneror dan membalaskan dendamnya padaku.


Perlahan-lahan aku mendekatinya, mendekapnya dan memeluknya erat-erat. Cukup lama hingga ia tenang dan membalas pelukanku. "Aku mencintaimu, My," kataku parau. "Aku minta maaf atas semua yang terjadi, dan semua kelalaianku. Aku janji, mulai sekarang aku akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pengawasanku, walau sedetik. Tidak akan pernah."


Jariku menempel. "Ssst... kamu mencintaiku, kan? Hmm?"


Dia mengangguk. "Ya."

__ADS_1


"Kamu ingin hidup bersamaku?"


"Sangat," jawabnya lemah.


"Pulang bersamaku ke Jakarta, oke?"


"Ak--ku," terhenti, dia menggeleng.


Baiklah, kutangkup wajahnya dan kutatap matanya dalam-dalam. "Dengar aku," kataku, "entah kamu bersamaku atau tidak, mereka tetap akan mengusikmu demi membalasku. Kenapa? Karena aku mencintaimu, melihatmu menderita, itu juga akan membuatku menderita. Jadi, mereka tidak akan berhenti mengganggumu demi membalasku. Meski kita tidak bersama, mereka akan tetap mengganggumu. Jadi, please, semuanya sudah terjadi, biarkan aku melindungimu, mamamu dan adikmu juga. Itu yang harus kita lakukan sekarang."


"Aku... aku tidak tahu. Aku belum ingin kembali ke Jakarta. Maaf."


Sabar, Rangga. Pelan-pelan. "Aku masih punya banyak waktu untuk menemanimu di sini," sahutku. "Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, tidak masalah. Asal jangan terlalu lama karena aku tidak mungkin memindahkan kantor induk perusahaanku ke tempat terpencil seperti ini. Oke?"

__ADS_1


Dia hanya tersenyum sedikit. Tapi tidak apa. Aku masih bisa bersabar.


__ADS_2