
Jengkel. Itu yang kurasakan. Ingin sekali rasanya aku mengamuk di hadapan ayah mertuaku yang berengsek itu. Tapi aku sadar aku mesti mampu mengendalikan diriku sendiri.
"Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, Pa. Lelaki itu Biktor, mantan pacar Rhea."
Reno Dirgantara menggaruk hidungnya yang mendadak gatal. Tatapannya menyiratkan ketidakpercayaan. Namun, aku juga dapat melihat sedikit raut kesal tercetak di wajahnya. "Begini saja, nanti Papa bicara dulu dengan Rhea. Kita coba dengarkan klarifikasinya dulu, ya."
Sekali lagi. Itu sangat menjengkelkan! Aku berdecak, menatapnya seolah dia baru saja melakukan debus. "Saya rasa tidak ada yang perlu diklarifikasi, karena yang saya lihat itu jelas sebuah perselingkuhan. Mereka berdua bukan sekadar berpelukan atau berciuman. Mereka berdua berhubungan badan, Pa. Saya melihat adegan ekslusif itu di kamar hotel, di Bali. Persis, yang Papa lakukan dengan sekretaris Papa tadi. Hanya saja, mereka berdua benar-benar telanjan*."
Reno manggut-manggut. "Tapi tidak bisa begitu juga, Rangga. Harusnya kita tidak mencampurkan urusan pribadi dan urusan bisnis. Papa percaya kamu orangnya profesional."
__ADS_1
Aku *endesah. Aku tahu yang dia katakan itu benar. "Oke, saya rasa begitu. Tapi Anda, maksud saya Papa. Apa Papa bisa bersikap profesional ke depannya nanti meski hubungan kita berdua sebagai mertua dan menantu sudah usai? Bisa?"
Drrrt... drrrt... drrrt...
Ponselnya bergetar, menyela pembicaraan kami. Dan mataku awas meliriknya, tertulis RHESMI di layar ponsel itu -- nomor yang melakukan panggilan telepon. Namun Reno memilih opsi reject.
"Papa tidak masalah. Kalaupun kamu dan Rhea akhirnya bercerai, ya mau bagaimana lagi? Tapi Papa pastikan -- Papa akan bersikap profesional untuk bisnis kita. Kamu juga, kan?"
Deal. Jabat tangan bersambut. Pikiranku sedikit lega dan aku langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Well, aku pun melanjutkan perjalananku ke tempat tujuan berikutnya. Aku melangkah di sepanjang jalan setapak pemakaman, kakiku sudah hafal ke mana tujuannya. Aku pernah ke sini berkali-kali sebelumnya sehingga aku tidak perlu melihat ke mana arah kakiku melangkah. Kedatanganku, selalu sama seperti sebelumnya, dengan buket mawar merah yang kucengkeram erat-erat. Mawar merah, bunga dan warna favoritnya.
Di depan sana, batu nisan tujuanku mulai tampak, permukaannya tampak halus dan mengilat. Aku berlutut, meletakkan rangkaian mawar itu dengan khidmat di sebelah kata-kata yang merangkum seluruh kehidupan cinta pertamaku. Kutelusuri namanya yang diukir dalam huruf tebal, SANIA SANJAYA.
"Hai, Ma," sapaku seraya menarik kaca mata hitam yang melekat, menutupi mataku. "Rangga rindu, Ma. Andai Mama ada di sini." *esahan berat lagi-lagi lolos dari bibirku. "Rangga sekarang sendiri. Sebatang kara lagi seperti dulu. Dan sekarang rasanya lebih berat. Sangat berat."
Aku termenung sendiri selama beberapa saat, cukup lama. Hingga akhirnya kuputuskan untuk beranjak dari sana. Aku tahu aku tidak boleh larut dalam kesedihan.
"Rangga pulang, ya, Ma. Mama jangan khawatir, Rangga janji, Rangga akan baik-baik saja. Kalau Mama bertemu Tuhan, tolong Mama pintakan sosok istri seperti Mama untuk menemani Rangga. Mungkin saja Dia masih bersedia memberikan satu keberuntungan untuk anak Mama ini. Ya, mungkin Dia masih baik. Mungkin saja."
__ADS_1
Aku pun berdiri, mengenakan kembali kaca mata hitamku lalu menghela napas dengan berat, melangkah pergi....