Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Inilah Waktunya!


__ADS_3

Seperti diriku sendiri, Raymond tak begitu yakin bahwa dia ingin bergulingan di dalam sebuah kandang kuda berdebu meski dengan seorang wanita cantik di bawahnya dan tumpukan jerami yang menjadi alas yang terasa empuk. Tapi ia tetap melakukannya, hasratnya yang menggebu sudah mengambil alih kesadarannya. Dengan menurunkan sedikit celananya, dia masuk dan memulai dengan gaya yang santai.


Kuakui, ketika wanita itu terguncang dan buah persiknya bergoyang-goyang, mulutku mengering, napasku tersekat, dan keriuhan lapangan pacu memudar ke dalam kehampaan *ensual. Mata wanita itu besar dan indah. Wangi tubuhnya memikat, bahkan di dalam kandang kuda. Hampir semua pikiran warasku terbang.


"Oh!"


Itu Oh-nya Raymond. Dengan sedikit terkejut, aku menyaksikan wanita itu mencengkeram lalu menggigit bahu Raymond. Kuat-kuat. Kemudian kukunya menekan kuat kulit belakang tubuh Raymond. Rasa sakit membuat gairah Raymond semakin bangkit dengan liar. Di bawahnya, wanita itu beringsut saat mulut Raymond mencari-cari dan merangkapnya. Mereka berciuman panas. Pinggulnya melengkung lembut ke arah Raymond.


Well, aku menyadari sesuatu. Raymond sakit. Keinginannya bercinta dengan liar dan kasar, ini sudah di luar batas kegilaan terhadap *eks.

__ADS_1


Aku tidak memperhatikan lagi. Satu-satunya pertanyaan di dalam benakku: kenapa dan bagaimana sehingga Raymond sampai seperti itu?


Aku memilih keluar dari kandang kuda itu sebelum Raymond selesai dengan kegilaannya, disusul Roby yang entah kenapa ikut keluar, itu di luar dugaanku. Sementara Roy masih menunggu giliran, aku tidak heran, dia mabuk, seperti itulah dia kalau pikirannya di bawah kendali minuman keras.


Meski sedikit, ada rasa sesal di hatiku, tak seharusnya aku memenuhi ajakan teman-temanku. Kalau sudah begini -- aku merasakan sesaknya sendiri. Mau pulang untuk menyalurkan *asrat, tapi aku sudah tidak punya istri. Meski ingin, tapi hatiku keberatan untuk melakukan hubungan dengan wanita bayaran, juga enggan melakukannya dengan wanita seperti Stella.


Seperti keinginanku, makan malam bak pertama kali Rhea masuk ke rumah kami sebagai pengantin baru, maksudku dulunya, sekarang itu rumahku sendiri. Dia bukan lagi nyonya di rumahku, bukan lagi ratu di istanaku.


Aku memandang dari seberang meja makan malam yang diterangi cahaya lilin kepada Rhea. "Kamu menyukai ini?"

__ADS_1


"Tentu, ini mengingatkan aku sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Dan, yeah, kamu masih sama romantisnya. Aku suka," kata Rhea, sambil memandang sekitarnya. Dekorasi sederhana dan anggun dengan taplak meja linen putih, peralatan makan perak mengilap, dan pencahayaannya yang lembut.


Rhea berusaha menyamakan bahasa tubuhnya dengan kata-katanya. Itu membutuhkan akting serius. Tapi tidak, aku tetap bisa melihat ketegangan Rhea. Ia merasa seperti kuda pacu di gerbang yang menolak untuk membuka.


Benar, di sinilah aku dan Rhea sekarang berada, di ruang makan rumahku yang bak istana, rumah yang kupersembahkan untuk istri tercinta, yang seharusnya kami ramaikan dengan kehadiran anak-anak, makhluk kecil yang mewarisi darahku. Tapi ini justru menjadi makan malam terakhir yang layak ia dapatkan.


"Omong-omong, ini dalam rangka apa? Ini bukan hari ulang tahun kita, bukan anniversary, juga bukan valentine. Jadi?"


Tentu saja untuk menghukummu, Sayang....

__ADS_1


__ADS_2