Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Menghormatimu


__ADS_3

Bisa kutebak, jantung Suci berdegup dua kali lebih kencang. Dan menjadi tiga kali lebih kencang ketika aku mencium rambut cokelatnya, tepat di sisi telinganya. Lalu, aku bergerak untuk melepaskan pelukan, dan menatap gadis di depanku itu dalam-dalam. Tanpa kusadari, aku mendekatkan wajahku, mataku terpejam, dan mencium bibir merah itu dengan lembut. Kemudian menariknya hingga tubuhnya menempel padaku.


Entah bagaimana awalnya, dalam sekejap lidahku sudah menjelajahi rongga mulutnya. Kami hanyut dalam sentuhan, pelukan, dan ciuman. Setelah beberapa menit yang terasa lama bagi kami berdua, Suci menarik diri menjauhiku, tapi aku menahannya, dan mencumbui bibirnya lagi.


"Sudah," katanya sambil melepaskan diri dengan lembut.


Aku menatap kecewa. "Aku menginginkanmu," kataku.


"Mas...," katanya pelan.


Pura-pura tuli, tanganku menjelajahi punggungnya dengan gerakan *ensual.


Suci membeku, terbuai dengan sentuhan dari tanganku. Pun aku, yang mabuk oleh pesona gadis di hadapanku. Dia benar-benar cantik. Alisnya yang tebal, matanya yang bermanik cokelat persis seperti mataku, pipinya, hidungnya, bibirnya, dagunya, tubuhnya, semua yang ada di dalam dirinya tampak sangat sempurna di mataku.


Aku menyentuh wajahnya, merengkuhnya, dan berbisik, "Kamu sangat cantik...."

__ADS_1


Otakku lumpuh total, Suci juga -- kurasa. Ia tak sedikit pun menghentikanku lagi ketika aku merebahkan dirinya ke atas ranjang dan melepas tuntas semua pakaiannya satu per satu. Kami hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan.


Hmm... aku menyentuh semuanya, hampir tak seinci pun lolos dari tangan dan bibirku. Tetapi...


Ketika aku hendak membuka pakaianku...


Cara menghormati wanita adalah dengan tidak menyentuhnya sebelum dia resmi menjadi istrimu.


Glek!


Oh, Mam... tanggung sekali.


Maafkan Rangga, Ma....


"Kenapa?" tanya Suci sesaat setelah aku menyelubungi tubuh polosnya dengan selimut.

__ADS_1


Aku membelai wajahnya lalu mencium keningnya cukup lama. Setelah itu beringsut, merebahkan tubuhku di sampingnya. Kuangkat kepalanya sedikit dan menaruhnya di atas bahuku. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku minta maaf, ya."


"Maaf? Untuk apa, Mas?"


"Maaf karena sudah kurang ajar."


"Maksud... kamu... karena...?"


"Karena aku berniat menyentuhmu."


Suci menggeser tubuhnya sedikit, miring menghadapku. "Karena bukan dalam kendali alkohol atau obat-obatan?"


"Ya. Aku seolah tidak menghormatimu. Maaf, ya, aku sudah sangat lancang."


Suci mengeluarkan tangannya dari balik selimut, lalu menempelkannya ke dada kiriku yang telanjang. Tanpa dia tahu, tangannya berada persis di atas tatoku, ukiran nama Rhea. Untung dia tidak bisa melihatnya, batinku. Aku akan segera memodofikasinya nanti jika sempat. Jangan sampai saat Suci sudah bisa melihat, dia melihat tatoku dengan ukiran nama mantan istriku. Itu pasti akan mengganggunya, dan bisa-bisa dia tidak ingin aku bertelanjang dada di hadapannya.

__ADS_1


"Aku tidak merasa dilecehkan. Aku mau melakukannya dengan perasaan." Lalu ia terdiam dan mengatupkan bibirnya, dia tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan. "Emm... maaf... Mas. Aku...."


Aku paham. Dia gadis muda yang baru saja merasakan nikmatnya sentuhan serang pria. Jadi aku bisa memakluminya. Aku menganggap sikapnya itu wajar jika pada saat ini dia memiliki hasrat yang amat tinggi sampai-sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Walaupun sesungguhnya itu bukanlah hal yang benar.


__ADS_2