
Esok harinya, aku berniat menyibukkan diri di kantor. Hanya saja, niatku tak sesuai apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku baru saja hendak pergi, bukan -- aku hendak pulang -- padahal aku baru sampai setengah jam yang lalu. Kalau saja Jessy dan Roby tidak kebetulan muncul saat aku membuka pintu, aku pasti sudah berada di rumah lagi. Langkahku tertahan karena mereka ingin bertemu dan bicara denganku. Tepatnya -- Jessy, dan Roby menemaninya. Baca: mewakili Jessy menyampaikan permohonannya. Sebab, Jessy sangat takut. Hanya mengucapkan sapaan selamat pagi saja, suaranya sudah terdengar gemetar.
"Kami kemari mau membahas soal yang kemarin kita bicarakan. Jessy masih boleh bekerja di sini, kan?" Roby mewakili.
Aku manggut-manggut. "Bagaimana soal...?"
"Kita berdua akan segera menikah, dua minggu lagi."
Kurasa aku harus mengatakan wow! "Oke, bagus kalau begitu."
"Ya, hanya pernikahan sederhana. Keluarga gue, keluarga Jessy, dan teman-teman kantor. Cuma acara akad."
Aku mengangguk. "Oke. Jessy masih boleh kerja. Mungkin sebaiknya setelah kalian menikah nanti sekretaris kita tukar posisi. Selama seminggu ini gue rencananya mau cuti dulu.
"Cuti?"
"Anggap saja begitu. Pokonya gue libur dulu."
"Mau ke mana?"
"Jangan kepo."
"Bikin penasaran aja lu!"
__ADS_1
"Bisa diam dulu?"
"Oke, oke."
"Jess?"
"Ya, Pak?"
Aku berdeham untuk memulai obrolan. "Selama seminggu ke depan, kamu imformasikan dan kamu ajarkan sekretaris Pak Roby tentang semua pekerjaanmu. Dan suruh dia menghadap pak Billy. Saya tidak mau tahu, begitu nanti saya sudah kembali masuk kantor, dia harus paham dan kinerjanya harus sebagus kinerjamu. Bisa dimengerti?"
"Baik, Pak. Akan saya usahakan seminggu ini semuanya beres."
Aku mengangguk. "Bagus. Masih ada yang perlu dibahas? Tidak ada? Bagus. Gue mau cabut."
"Ya ela, kita aja belum menyahut."
"Apa?" tanya Roby saat aku menoleh ke belakang.
Nyengir sebentar. "Cuma mau bilang, kalian boleh pakai ruangan pribadi gue, asal jangan berantakan. Oke?"
"Berengsek lu!"
A B C D bla bla bla.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, aku mampir sebentar ke toko bunga. Bunga asli, yang ditanam di dalam pot. Aku memilih mawar merah yang sudah berbunga. Kupikir, meski Suci tidak bisa melihatnya, tapi dia bisa mencium wanginya.
"Hai," sapaku, setibanya aku di kamar utama dan bertemu Suci. Seperti kemarin, dia hanya sedang mendengarkan musik, tapi kali ini tanpa earphone. Bibi Merry dan Anne sedang sibuk dengan pekerjaan mereka di dapur.
Suci sibuk merapikan dirinya. Nampaknya dia tadi sedang berbaring sebelum aku mengetuk pintu. "Hai, Tuan. Bukannya Tuan tadi pergi ke kantor, ya?"
Aku merindukanmu.
Huh! Andai saja aku punya nyali untuk mengucapkan kalimat itu.
"Tuan, sepertinya ada banyak orang. Ada apa, ya?" tanyanya sewaktu mendengar langkah kaki orang-orang yang membawakan pot-pot mawar yang tadi kubeli dan menaruhnya di beranda pribadiku. "Bunga mawar?"
Sekali lagi wow! Indera pendengaran dan penciumannya sangatlah tajam.
"Ya, mawar merah untukmu."
"untuk... saya?"
"Iya."
"Mawar merah?"
"Ya. Kamu suka, kan? Atau kamu tidak suka bunga mawar?"
__ADS_1
"Tidak, tidak, maksud saya... maksud saya bukan begitu. Tentu saja saya suka. Terima kasih."
Menggetarkan. Dia tersenyum tulus dan keceriaannya seakan menggelitik hatiku.