
Yap! Raymond pasti juga tidak ingin melanjutkan perjodohannya dengan Suci kalau tahu Suci sudah tidak perawan. Tapi haruskah aku memberitahukan hal itu pada Raymond?
Membuka aib Suci? Tidak, Rangga. Jangan....
"Mas?"
Aku *endesah. "Oke, aku paham. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini. Tentang Raymond, nanti biar aku yang bicara padanya. Ini hanya masalah uang, kan?"
Suci terisak. "Maksudnya apa? Kamu mau membayarkan hutang keluargaku? Tidak usah, Mas...."
"Terus? Kalau mereka terus memaksamu, bagaimana?"
Dia hanya menggeleng bingung.
Sungguh, aku merasa gemas, tapi aku tahu aku harus sabar. "Sayang, kamu mau, kan, menikah denganku? Kamu mau jadi istriku, ya kan?"
"Mas, tanpa aku menjawab, kamu juga tahu jawabanku. Aku mau. Aku mau menikah denganmu. Aku mau jadi istrimu. Tapi masalahku itu...." Dia putus asa. "Hutang keluargaku itu sangat besar."
__ADS_1
Walau baru mengenalnya beberapa hari, tapi sedikit banyak aku tahu dan bisa memahami karakter gadis di depanku ini. Apa yang sudah dicekokkan oleh orang tua angkatnya itu pasti mampu menekan mentalnya. Dia merasa punya hutang dan kewajiban untuk membantu kedua orang tua yang selama ini membesarkannya.
"Berapa pun, Sayang. Biar aku yang tebus kebebasanmu. Aku tidak mau kehilanganmu. Dan seperti permintaanmu, aku akan memperjuangkanmu apa pun caranya. Apa pun yang terjadi, meski aku harus merebutmu dari sahabatku sendiri." Setelah itu aku tersadar. "Tidak, aku tidak merebut. Kamu bukan milik Raymond. Kamu milikku, dan aku ingin mempertahankan milikku."
Suci menghela napas berat, sangat dalam. Aku bahkan tahu dia merasa sesak. "Itu yang membuatku merasa berat menerima perjodohan itu. Aku tidak mau merasa seperti pengantin yang dibeli."
Astaga. Giliran aku yang merasa sesak. "Aku tidak bermaksud membelimu...."
"Aku tahu, Mas. Tapi aku akan merasa begitu."
"Aku mau mendengar, apa yang ada di hatimu? Apa yang kamu inginkan? Dan sekiranya kamu punya solusi, apa? Coba katakan padaku. Hmm?"
Dia masih saja menggeleng dengan air mata berurai. "Aku tidak tahu aku harus bagaimana. Di satu sisi aku mau menikah denganmu. Tapi di sisi lain, aku tidak mau melihat orang yang sudah membesarkan aku bingung sendiri dengan hutang-hutang perusahaan mereka. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan diriku sebagai...," --dia terisak hingga terguncang-- "aku merasa diriku dijadikan tumbal. Kenapa mesti aku?"
"Kamu tahu, kamu yang membuat keadaan ini menjadi lebih sulit. Secara materi aku bisa melunasi hutang orang tuamu, sekalipun itu berarti menebus seluruh kehidupan yang mereka berikan kepadamu. Apalagi tentang Raymond. Kamu tahu, kan, kalau dia menolakmu begitu kamu buta? Tahu, kan? Dia akan menolakmu lagi ketika dia tahu bahwa kamu sudah tidak perawan. Maaf kalau bicaraku kasar, dan mungkin ini salah, kata-kataku mungkin tidak pantas untuk diucapkan. Tapi kamu menang telak, Raymond sendiri yang akan mundur dari perjodohan ini kalau dia tahu soal itu. See, tinggal masalah uang, kan?"
Dia mengangguk. "Bagaimana aku bisa membayarnya? Sepanjang hidup aku akan merasa punya hutang pada suamiku sendiri. Aku tidak mau...."
__ADS_1
Bodoh! Dia membuatku sangat geram. "Jangan berpikir uang yang akan kukeluarkan itu sebagai hutang. Mengerti?"
"Lalu apa? Sebagai penebus kehidupanku? Membuatku merasa kamu membeliku?"
Berengsek! Aku meradang!
"Well, baik bersamaku ataupun bersama Raymond, sama saja, kan, kamu merasa dibeli? Tapi setidaknya bersamaku ada cinta. Kita saling mencintai. Terserah kalau kamu merasa dibeli, tapi bagiku tidak sama sekali. Aku tidak membelimu. Dan ingat, cinta tidak bisa dibeli. Kita bersama karena cinta, bukan karena uang. Karena cinta!"
Suci tak mampu bicara. Kupikir dia butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Aku pun berdiri, menyuruhnya untuk istirahat, lalu beranjak ke pintu.
Tetapi, begitu mendengar suara pintu terbuka, di saat itulah Suci buka suara, "Kamu mau ke mana?"
"Kembali ke kamar," kataku. "Kurasa kamu butuh waktu untuk sendiri. Tolong, pikirkan semua kata-kataku. Telepon aku kalau kamu sudah bisa memutuskan semuanya. Dan jangan sungkan meneleponku kalau kamu butuh sesuatu. Aku permisi."
Aku pergi, dan Suci sama sekali tidak menghalangi kepergianku.
Argh!
__ADS_1