Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Selera Yang Sama


__ADS_3

Aku sudah mengenakan kembali jasku ketika ponselku berdering. Telepon dari Raymond.


"Lu di rumah Stella?"


Dia bertanya? Atau sekadar menebak?


"Halo, Ngga?"


"Oh, ya. Sori. Benar. Gue... di rumah Stella."


"Lagi pesta? Kok banyak motor di luar?"


Ah, sialan!


Aku cepat-cepat ke pintu depan. Membuka kembali jas dan kemejaku, juga ikat pinggangku sebelum membuka pintu. "Hai, lu ke sini?" Aku keluar menghampirinya.


Raymond masih berdiri di samping mobilnya. Dia mengamat-amati deretan motor dan sialnya dia pun mengenali mobil Billy. "Oh, waw!" dia berdecak melihatku bertelanjang dada. "Lagi sibuk?"


"Seperti yang lu lihat. Baru mau mulai."


"Gue ganggu, ya?"


"Em, ya. Bagus lu sadar."


"Oke... ini... Billy juga ada di sini?"


Sial! Gue mesti ngasih alasan apa? Ah, ganggu. "Yeah, perayaan kebebasan gue. Billy... seperti biasa, ngecek kerjaan karyawan Stella. Beberes di dalam. Pesta sih sudah selesai. Tapi gue yang belum selesai. Belum sampai ranjang. Gara-gara lu!"

__ADS_1


"Oke, deh... kalau begitu gue balik."


"Well, hati-hati, Bro. Cari mangsa lain," kataku.


"Setan, lu!" kata Raymond sembari menstarter mobilnya.


Aku tertawa. Tepatnya pura-pura tertawa. Bagus lu langsung pergi, Ray. Aku kembali masuk. Sungguh merepotkan. Kupakai lagi kemeja, jas, dan ikat pinggangku. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, pikirku.


Ceklek!


"Rangga?"


Aku nyaris saja terperanjat begitu mendapati sosok Roy di halaman rumah Stella saat aku membuka pintu hendak keluar dari sana.


Oh, sial! Kenapa hari ini aku begitu apes?


"Em, ya."


"Lu ngapain?"


"Gue...." Bingung sejenak. "Harusnya gue yang nanya, lu ngapain ke sini?"


Hening sesaat dalam kegelisahan satu sama lain.


"Gue...."


"Mau ketemu Stella?"

__ADS_1


"Em, ya."


Tenang, Rangga. Kendalikan keadaan. "Bro... jangan bilang lu mau mendekati Stella? Please, jangan jadi gunting dalam lipatan. Gue lagi deket sama doi. Nggak enak, dong, menikmati tubuh yang sama? Ini bukan si wanita bayaran di kandang kuda, lo, ya."


Ah, munafik memang. Aku sok meninggikan Stella, padahal di dalam dia sedang digilir anak buahku. Sori, tidak tepat. Stella yang sedang menggilir para lelaki kekar itu.


Roy mengangguk. "Oke. Sori sebelumnya. Gue nggak tahu--"


"Ok. No problem."


"Em, gue... permisi."


"Yap. Hati-hati. Gue juga mau balik sekarang."


Tetapi, Roy belum beranjak dari tempatnya berdiri, sama seperti Raymond, Roy juga mengenali mobil Billy, juga mengamati deretan motor yang berjejer di halaman rumah itu.


"Karyawan-karyawan Stella lagi beberes di dalam," kataku cepat. Klarifikasi sebelum ia bertanya lebih jauh.


Oh lolos tanpa suara dari bibir Roy yang nyaris bulat sempurna, hanya dibarengi dengan anggukan, dan dia langsung masuk ke mobilnya. "Gue duluan."


"Yap." Aku melambaikan tangan dan berbalas suara klakson. Roy pergi. "Fiuuuh... hampir saja." Aku menggeleng-gelengkan kepala. Kuakui, pesona wanita cantik memang susah ditolak. Tubuh seksinya selalu menjadi incaran. Bahkan teman-temanku pun punya selera yang sama.


Amazing girl, andai saja dia bisa menghargai kecantikan dirinya sendiri. Sudahlah, Rangga. Untuk apa memikirannya?


Kukeluarkan ponselku untuk mengirimkan pesan peringatan.


《Hati-hati. Kunci pintu depan. Kalau ada yang datang bertamu, bilang Stella sibuk di kamar. Pastikan tidak ada yang menerobos masuk.

__ADS_1


Oh, man. Kehidupanku semakin kacau. Kuhela napas dalam-dalam, aku masuk ke mobil. "Oke, Rangga. Mulai detik ini, benahi hidupmu. Jangan pernah lagi berhubungan dengan wanita seperti Stella."


__ADS_2