
"Permisi, Pak," kata Jessy.
"Ya?"
"Ada Bu Regina ingin bertemu dengan Bapak."
"Suruh masuk."
"Baik."
Dengan wajah tertunduk, Regina memberanikan diri menghadapku. Sebelum dia bicara, aku sudah bisa menebak apa yang hendak ia bicarakan kepadaku.
"Silakan duduk."
"Terima kasih, Pak."
"Ada apa?"
Wajah sekretaris cantik di depanku itu mendadak pucat. "Emm... soal tadi, Pak," katanya gugup. "Yang... Pak Rangga lihat di ruangan Pak Raymond. Saya minta maaf. Tolong, Bapak jangan pecat saya."
Aku menatap Jessy yang duduk dengan anggun di depan monitornya, seolah dia sibuk dengan pekerjaannya. Padahal mataku baru saja menangkap basah dirinya yang fokus menyimak obrolan kami. "Jess, bisa tolong keluar dulu?"
__ADS_1
"Oh, baik, Pak."
Jessy langsung keluar, tapi itu justru membuat Regina jadi risih. Dia nampak lebih gugup. Mungkin dia berpikir kalau aku akan mengambil keuntungan darinya jika kami hanya berdua di dalam ruanganku, seperti yang dilakukan Raymond padanya. Atau itu hanya ada dalam pikiranku?
"Sudah berapa kali?"
Aku tahu pertanyaan itu tidak pantas untuk kuajukan, tapi aku sengaja bertanya.
"Sering, Pak."
"Kenapa kamu mau?"
"Emm...."
Regina mengangguk, masih dengan keraguan yang sama. "Maaf, Pak, awalnya, maksud saya -- pertama kali itu terjadi saat saya pusing dengan biaya rumah sakit. Dua tahun yang lalu anak saya mengalami kecelakaan, tabrak lari. Pengendara motornya kabur, anak saya dibawa warga ke rumah sakit. Di saat itu saya benar-benar tidak punya uang. Saya minta tolong pada Pak Raymond, saya pinjam uang dari beliau. Tapi... setelah anak saya sehat dan keluar dari rumah sakit, Pak Raymond langsung menagih hutang saya, tapi bukan dengan uang. Dia tidak ingin dibayar dengan uang. Dia... dia terang-terangan... meminta saya bersedia untuk melayaninya setiap kali dia menginginkan tubuh saya."
"Kenapa kamu tidak menolak?"
"Saya takut kehilangan pekerjaan saya, Pak."
"Dia mengancam?"
__ADS_1
Dia menggeleng. "Tidak," katanya. "Tapi Pak Raymond bilang dia ingin mencari sekretaris lain kalau saya tidak bersedia mengiyakan semua tugas yang ia berikan, termasuk dalam hal pelayanan hasrat. Saya butuh pekerjaan, Pak. Saya harus menghidupi anak dan orang tua saya, juga menyekolahkan adik saya."
"Tapi kamu suka malayani Pak Raymond? Apa kamu senang melakukan hal itu?"
Regina diam sesaat, lalu berkata, "Sama sekali tidak, Pak. Tapi saya ini orang biasa. Sebelum saya bekerja di sini, saya hanya ibu rumah tangga, tidak punya pengalaman pekerjaan. Bahkan saya sudah lama mencari pekerjaan kantoran, tapi selalu ditolak. Untuk pekerjaan lain, saya takut kalau penghasilan saya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya. Emm... maaf, Pak. Saya kesini bukannya mau mengeluhkan tentang ini. Saya hanya ingin memohon kepada Pak Rangga, tolong, Bapak jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
"Saya tidak akan memecat Bu Regina. Hanya saja, lain kali kalau Raymond meminta, dan kamu ingin menolak, tolak saja. Jangan takut."
Dia mengangguk. "Baik, Pak."
Hanya itu -- tidak ada kata-kata lain.
Mau tidak mau, jawaban itu mengarahkan aku kalau wanita di depanku ini memang suka beradu tempur dengan Raymond. Apalagi *esahannya saat beradu dengan Raymond. Sepertinya dia juga benar-benar menikmati momen itu. Ya, itu haknya.
"Masih ada yang ingin disampaikan?"
"Tidak ada, Pak."
"Kamu boleh pergi."
"Baik. Permisi."
__ADS_1
Kesan ini akan berbeda jika Regina sendiri mau berusaha melepaskan diri dari jerat asmara sang atasan.