Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Pagi Yang Hangat


__ADS_3

Alarm di ponselku berdering tepat pukul empat pagi, membangunkan aku dari tidurku yang lelap. Dengan perlahan, aku membuka mataku. Aku mengerjap beberapa kali agar terbiasa dengan silaunya cahaya lampu di langit-langit yang semalam tak sempat kupadamkan. Kepalaku masih berdenyut-denyut, agak berat. Di sampingku, Suci masih terpejam dengan damai di dalam dekapan tanganku.


Perlu sekian menit bagiku untuk menyadari kejadian semalam. Momen yang menyengat itu. Aku bahkan ingat kalau aku mengatakan itu bulan madu untuknya. Bulan madu sebelum pernikahan. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku pasti membuat Suci sangat kelelahan.


Aku berbaring miring menghadapnya dengan sebelah tangan menopang tubuh, mengamatinya. Mataku yang cokelat menjelajahi setiap senti tubuh Suci yang terbuka. Aku sengaja menyibakkan selimut dari tubuhnya yang seksi, hingga memperlihatkan bahunya yang indah, dada yang menggoda, pinggul langsing, perut rata, dan paha serta kaki yang jenjang. Bahkan, jari-jariku bergerak menelusuri pangkal paha gadis impianku itu hingga ke lutut.


Aku nyengir saat Suci membuka mata cokelatnya yang indah. "Tahu tidak?" tanyaku, sekarang jari-jariku menjelajahi perutnya, dan aku merasakan sensasi menggelenyar yang ia rasakan karena sentuhanku. "Aku mengagumi kecantikanmu. Sangat cantik."


"O ya? Masa?" tanya Suci tertawa nakal.


Spontan aku menariknya ke dalam pelukanku, menaikkan kepalanya hingga sejajar dengan kepalaku, dan ia pun merapatkan tubuhnya lebih dalam. Aku juga sempat mengecup pipi gadis itu dengan lembut. Lalu, tanpa mengerjap, aku menatap Suci dengan terpesona. Bagiku -- saat ini, Suci adalah hal nyata terindah yang pernah ada di dalam hidupku. Wajahnya, senyumannya, binar matanya, tubuhnya, semuanya membuatku kembali merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia.


"Aku mencintaimu," bisikku. Aku menunduk, mencium bibirnya dengan lembut, dan mendapat respons seperti yang kuinginkan. Dia balas menciumku. "Bulan madu belum berakhir, Sayang."


Dia tersenyum ceria. "Tentu. Kamu tahu, dulu teman-temanku sering bercerita tentang keromantisan mereka bersama pasangan."

__ADS_1


"Em, lalu?"


"Mereka selalu membuatku iri."


"Iri? Iri kenapa?"


"Iri pada kemesraan mereka. Aku...."


"Emm?"


Aku terkikik-kikik sampai Suci memberengut. Tapi sungguh, aku tidak sengaja. "Pengaruh alkoholku sudah hilang," kataku.


"Please, yang terakhir?" Suci sadar kalimatnya kurang pas, dia segera meralat sebelum aku sempat buka suara, "Maksudku, saat ini, sebelum aku bisa melihat. Aku benar-benar merasakanmu dengan mataku yang justru tidak bisa melihat. So, please...?"


Aku berpikir sejenak, memikirkannya, belum lagi kalau aku teringat ucapan ibuku. Rasanya...

__ADS_1


"Please...?" Suci merengek dengan manja. "Beri aku kenangan yang manis. Meski aku tidak bangun lagi setelah operasi, aku tidak akan menyesali apa pun."


Apa-apaan?


Aku geram. "Aku tidak suka kamu bicara seperti itu. Kamu akan menjalani operasi mata, bukan operasi jantung."


"Ya tetap saja ada risikonya."


"Please, stop."


"Oke, tapi kamu harus say yes, please...? Aku ingin kenangan yang manis."


Hmm... baiklah. Aku bangkit, turun dari ranjang dan memutar ke sisi Suci untuk menggendongnya, membawanya ke kamar mandi. "Nah, sekarang senang?" tanyaku ketika air hangat sudah mengucur menyirami tubuh kami.


"Belum, kita kan belum memulai," serunya dengan jujur. Dia tertawa, kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku. "Please, let's do it!"

__ADS_1


Dan persis di bawah pancuran air hangat itu, aku dan suci -- kembali menyatu.


__ADS_2