
"Karena mereka serakah. Mereka tidak tahu cara menghargai pasangan. Maaf, Bapak...?"
Aku menoleh sekilas sebelum kembali menyesap kopi. "Istri saya selingkuh." Aku tertawa kecut. Tubuhku yang semula tegak -- kusandarkan ke sofa.
Jessy tidak menyahut, tentu karena dia sudah menebaknya dari awal saat kami membahas topik tentang pengkhianatan ini. "Saya ikut prihatin, Pak," ujarnya.
Aku mengangguk, lalu *endesah. "Menurutmu, Jess, apa yang kurang dari saya?"
"Tidak ada, Pak. Bapak sempurna."
"O ya?"
"Iya. Serius. Itu dari kaca mata saya sebagai perempuan. Menurut saya, semua perempuan yang mengenal Bapak pasti punya pemikiran yang sama. Apalagi saya tahu betapa Bapak mencintai istri Bapak, Bu Rhea, dan bagaimana romantisnya sikap Bapak selama ini terhadap istri. Saya pun berharap kelak mendapatkan pasangan sebaik dan seromantis Pak Rangga."
__ADS_1
Aku tersenyum masam, lalu kembali menegakkan punggung, membuang puntung rokok, dan menginjaknya untuk mematikan bara yang tersisa. "Lantas, apa yang membuat istri saya berselingkuh?"
Jessy menggeleng. "Maaf, Pak, tapi saya rasa saya tidak pantas untuk mengomentari hal itu."
Aku tersenyum getir. "Tidak apa-apa, Jess, katakan saja apa yang terlintas di dalam pikiranmu. Hmm?"
"Maaf, tapi mungkin ini tentang perasaan, Pak. Tentang hati. Untuk yang satu ini, siapa yang bisa mamaksakan? Tapi bagaimanapun juga, selingkuh itu tetap salah. Harusnya seorang pasangan bicara saja apa adanya, kalau sudah tidak bisa bersama, maaf, lebih baik berpisah baik-baik. Sekali lagi maaf, itu hanya menurut pendapat saya."
Seulas senyum terbit di bibirku. "Jadi, saya harus bagaimana?"
Aku tersenyum lagi. "Santai saja, saya mau dengar. Saya tidak akan masalah dengan apa pun yang nanti kamu tuturkan."
"Kalau begitu maaf, menurut saya... anggap saja kalau Bu... maksud saya, anggap saja kalau dia sebenarnya memang bukan jodoh Bapak. Saya rasa Bapak tidak perlu menyesali apalagi sampai menangisinya. Bisa jadi jodoh Bapak yang sebenarnya sedang menantikan kehadiran Bapak, kan? Mana tahu, mungkin dia perempuan yang jauh lebih baik dan lebih cantik, bisa jadi jauh lebih muda tapi bisa berpikir dewasa, yang bisa mencintai Bapak setulus hati, segenap jiwa raga dan sepenuh perasaan. Aduh... ngomong apa, sih, saya? Maaf, ya, Pak. Saya jadi nyerocos begini."
__ADS_1
Aku tertawa melihat tingkah sekretaris di depanku ini. Aku bahkan baru tahu seperti itu aslinya dia kalau sudah membicarakan hal di luar pekerjaannya. "Tidak apa-apa, kok. Mungkin kamu benar. Kata-katamu membuat saya lega. Trims."
Jessy mengangguk seraya tersenyum. "Sama-sama, Pak." Aku tidak menyadari kapan ketegangan yang tadi kulihat sirna dari wajahnya.
"Ayo, silakan habiskan makanannya. Saya sudah merasa lebih baik. Sekali lagi terima kasih. Maaf, sudah membuatmu ikut kelaparan."
Kali ini dia tersenyum lebar. "Tidak apa-apa. Asal jangan keseringan, ya, Pak. Nanti kita menderita asam lambung."
Ck! Lucu juga sekretarisku ini. Ternyata dia humoris juga.
"Maaf, Pak. Saya hanya bercanda."
Aku balas tersenyum. "It's ok. Omong-omong, menurut pandanganmu, bagaimana kalau saya menduda?"
__ADS_1
"Maaf, Pak, kalau saya lancang. Tapi menurut saya tidak apa-apa, kok. Duda keren memang lagi musimnya. Eh, maaf, Pak. Maaf, saya bukannya bermaksud menganjurkan Bapak menceraikan Bu Rhea. Tapi...." Dia nyengir. "Bapak masih muda, tampan lagi. Jadi tidak masalah."
Begitukah?