Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Rasa Frustrasi


__ADS_3

Aku masih terngiang-ngiang dengan jawaban Raymond tadi siang, saat Roby tiba-tiba masuk ke ruangannya -- membawa informasi rekomendasi dokter mata untuk membantu gadis yang bernasib malang itu.


"Sudahlah, Rob. Iya kalau dia bisa melihat lagi dalam waktu cepat, kalau tidak? Bagaimana? Masa gue harus menunggu dalam waktu yang sangat lama? Apalagi kalau gue diminta menikahi dia sebelum dia bisa melihat, ogah! Itu tidak akan pernah terjadi!"


Kan benar apa kataku. Dia benar-benar egois. Wajar jika kedua orang tuanya tidak memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin perusahaan.

__ADS_1


Menurutku, Raymond itu mau enak sendiri. Tidak sedikit pun berusaha menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Bagaimana kalau mereka sudah menikah? Bisa jadi dia main cerai begitu saja dengan dalih tidak ingin punya istri yang tidak bisa melayaninya dengan baik.


Sebenarnya, memang tidak seharusnya aku memikirkan masalah ini. Tapi, entah kenapa, aku tidak terima dengan sikap Raymond yang seenaknya pada gadis malang itu, kendati ia memang belum menjadi istrinya Raymond.


Dan perihal menyangkut Regina, aku memahami, meski sebenarnya agak tidak suka karena Regina seolah tidak punya kekuatan dari dirinya sendiri untuk menolak Raymond, yang seolah dia memang suka melayani Raymond. Padahal kalau dia meminta tolong kepadaku untuk melepaskan diri dari Raymond, aku bisa saja memindahkannya ke bagian lain, dan menggantikan posisinya sebagai sekretaris Raymond dengan gadis perawan, supaya Raymond tidak mengganggu sekretarisnya lagi. Tapi sudahlah, jika aku menawarkan bantuan tanpa ia yang meminta, aku terkesan ingin ikut campur dengan urusan pribadi mereka.

__ADS_1


Well, sendirian menatap ponsel di kamar tidurku malam itu, aku merasa sedih. Penyebabnya sama, kehidupanku yang sepi. Aku tahu aku punya segalanya dalam hal materi, aku tahu aku punya banyak pegawai dan orang-orang yang bekerja padaku, baik itu di rumah, di perusahaan property, bahkan di hotel peninggalan Mama Sania. Tapi, tetap saja aku merasa sepi, ada satu kekosongan -- lubang besar yang menganga di dalam hatiku. Lubang yang menggedor-gedor perasaanku dari dalam.


Mudah saja bila harus hidup dengan menggila demi mengusir kesepian. Aku bisa saja menghabiskan waktu dengan kertas-kertas berkas yang menumpuk, bahkan aku bisa menghabiskan uangku dengan pergi ke klub malam demi keramaian, dan lebih parahnya -- aku bisa menghabiskan malam yang panjang bersama Rhea, Stella, atau perempuan-perempuan yang bisa kukencani dan kubawa ke ranjang. Tapi sayangnya hatiku menolak, bukan itu yang kubutuhkan, bukan itu juga yang kuinginkan.


Dan sebenarnya hati kecilku tahu, aku ingin keluarga, kehangatan, cinta seorang istri, dan anak-anak yang mewarisi darahku. Tapi pertanyaannya: siapa, di mana, dan kapan aku akan menemukannya?

__ADS_1


Lalu, bagaimana aku bisa menyemangati diri sendiri dalam masa penantianku? Terlebih -- kehidupan di sekelilingku, selalu menyeretku ke dalam dunia yang penuh kekacauan. Setidaknya bagiku, kenikmatan-kenikmatan sesaat itu memang pantas kunamai kekacauan.


Demi tidak mengidap insomnia parah yang berkelanjutan -- yang disebabkan oleh pikiran tak terkendali, aku memilih tidur dengan bantuan obat-obatan. Setidaknya aku bisa tidur, begitu pemikiranku. Tapi siapa sangka, dalam ketenangan itu, ada sekelebat mimpi aneh -- yang aku yakini itu terlahir dari harapanku.


__ADS_2