
Didorong oleh amarah, aku mengemudi kembali ke rumah bagaikan kesetanan. Aku tak bisa berpikir dan darahku mendidih penuh kejijikan pada permainan kotor -- yang beraninya menyerangku dari belakang.
Di saat yang bersamaan, aku juga dikepung pertanyaan tak terjawab, pertanyaan-pertanyaan yang berbahaya. Siapa yang menjahiliku?
Tidak mungkin orang yang tidak dikenal, tidak mungkin juga teman, dan tidak mungkin hanya sekadar bercanda. Pasti ada tujuan. Paling tidak, untuk menyiksaku yang tengah sendiri.
Yeah, pelakunya pasti orang di sekitarku. Dan kemungkinan: Stella.
Kenapa? Balas dendam? Well, siapa pun dia, tidak akan kulepaskan.
Sempat terbesit dalam benakku untuk ke paviliun samping dan menyelinap ke ruang bawah tanah untuk menemui Rhea. Tapi tidak kulakukan. Dia menjijikkan, dan aku sudah menceraikannya.
"Oke, terima siksaan ini, Rangga. Nikmati saja deritamu."
Aku keluar dari mobil dan bergegas masuk ke rumah, berlari -- melesat -- melewati tangga dan mengurung diri di dalam kamar. Orang-orang yang melihatku dalam keadaan kacau hanya melongo memperhatikan, tak bisa berbuat apa-apa.
Dalam siksaan yang menyiksa, kulepaskan semua pakaianku dan aku masuk ke dalam kamar mandi, kuputar keran air hingga mengucur, meyirami tubuhku.
"Tuan?"
Suci?
"Tuan baik-baik saja?" teriaknya. Aku menebak kalau ia sudah berada di dalam kamarku.
__ADS_1
Kututup keran air sejenak. "Kamu ngapain ke sini? Pergi!" kataku, aku balas berteriak.
Hening sesaat, lalu terdengar suara tubrukan keras dan benda jatuh ke lantai, pecah.
Asbak, pikirku. Asbak kaca.
Aku cepat-cepat keluar dari kamar mandi dan mendapati Suci tersungkur di lantai, di depannya berserakan pecahan asbak yang bahkan hampir mengenai telapak tangannya.
"Jangan bodoh!" bentakku. "Ngapain kamu ke sini?" Aku masih kesal, dan itu terbawa-bawa sampai aku seakan marah-marah kepada Suci. Padahal, apa salahnya? Dia sekadar masuk ke kamarku karena mengkhawatirkan keadaanku.
Oh, sial! Suci tidak menyahut, justru nampak ketakutan. Lalu ia menangis.
"Sori," kataku. Kubantu ia berdiri. "Saya tidak bermaksud memarahimu. Tolong jangan diambil hati."
Aku malu mengakuinya. "Em," kataku. Hanya begitu.
Dengan ragu-ragu, ia meraih tanganku dan menempelkan tanganku di pipinya. "Biar saya bantu," katanya.
Aku tertegun, jantungku yang sedari tadi berdenyut hebat -- hampir melompat dari tempatnya. "Maksudnya?"
"Saya paham. Saya mengerti keadaan Tuan. Dan... saya tidak mau Tuan tersiksa sepanjang malam. Tolong, terima bantuan saya. Saya tulus."
Aku menggeleng. "No, jangan gila," tolakku, kendati keringatku mulai kembali bercucuran dan kepalaku berdenyut hebat, sakit luar biasa. "Jangan memutuskan sesuatu yang akan membuatmu menyesal. Please, kamu keluar, ya?"
__ADS_1
"Saya mohon, jangan menolak. Biar saya mengorbankan diri saya untuk Anda, Tuan. Saya tidak akan menyalahkan Tuan untuk hal ini."
Pergi, Rangga! Lari idiot!
Tapi aku tidak lari. Meski gadis cantik di depanku ini menawarkan diri, tapi dia tidak nampak seperti perempuan yang sedang menggodaku. Dia tidak terlihat murahan di mataku. Dan meski hal itu salah, ketulusannya tidak bisa kuragukan.
"Kamu yakin?"
Dia mengangguk.
"Kamu tidak akan menyesal?"
"Tidak."
"Tapi...."
"Silakan. Saya ikhlas."
Kuhela napas dengan berat. "Maaf," kataku. Lalu aku menciumnya, lalu mulai menanggalkan pakaiannya, sambil melangkah ke tempat tidur, aku menggendongnya dengan lembut, seringan bulu bagi lengan-lenganku yang kuat. Aku membaringkan Suci di atas selimut dan memulai kehangatan bersamanya.
Mula-mula bercinta dengan perlahan, lalu habis-habisan, tak menahan apa pun. Menyatu, sempurna.
Setelah usai, kami berpelukan, tersenyum bahagia, dan aku berbisik, "Thanks."
__ADS_1
Suci mengangguk, hanya tersipu dalam senyuman, sementara mataku tak berkedip, aku ingin menikmati pemandangan ini. Dia, gadisku yang cantik, hangat dalam pelukan.