Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Yeah. Aku memerintahkan anak buahku untuk membawa Rhea dan lelaki selingkuhannya itu via jalur darat. Aku ingin menjadikan mereka seperti binatang peliharaan. Mengurung mereka di dalam satu ruangan, merantai kaki, dan membiarkan tubuh mereka polos tanpa kain walau sehelai. Aku ingin mewujudkan mimpi indah mereka -- menjadi sepasang binatang dengan hasrat yang liar. Hasrat yang benar-benar liar.


Di dalam ruangan pribadiku, sambil memain-mainkan bolpoin di tanganku, aku menyeringai licik. "Beri mereka makan tiga kali sehari, dengan minuman ekstra. Terserah, mereka mau mati karena kehausan, atau bertahan hidup dengan birah* yang selalu bangkit. Biarkan saja mereka yang menentukan pilihan. Kalian mengerti?"


"Mengerti, Tuan!"


"Kerjakan!"


"Baik!"


Kupejamkan mataku sesaat. "Ingat, jangan sampai meninggalkan jejak apa pun. Mereka harus berada di Jakarta sebelum saya kembali."

__ADS_1


"Siap, Tuan!" empat orang bertubuh besar itu menjawab dengan kompak, dan segera pergi -- melaksanakan tugas khusus yang kuperintahkan.


See, betapa baiknya aku. Dan kamu akan selalu bahagai, Rhea. Selalu bahagia. Akan kupersatukan kamu dan kekasihmu itu di atas ranjang yang empuk. Kalian bisa menggila sepanjang waktu tanpa harus bermain petak umpet di belakangku. Rhea... Rhea. Harusnya kamu jangan bermain-main denganku. Jangan pernah mengkhianati seorang Rangga Sanjaya.


"Apa ada yang harus saya kerjakan, Tuan?"


Aku mengangguk. "Yeah. Kamu hubungi pengacara, tolong urus perceraian saya dengan Rhea secepatnya. Ingat, tidak ada pembagian harta sepersen pun untuk wanita *alang itu. Dan satu lagi, suruh pelayan kemasi semua pakaian dan barang-barang pribadi Rhea. Kirim semua itu ke rumah orang tuanya."


Aku diam sejenak. "Untuk sementara, tempatkan Rhea dan Biktor di ruangan berbeda. Tunggu setelah saya resmi bercerai, baru jadikan mereka sepasang peliharaan di satu kandang yang sama."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Aku menyandarkan tubuh di kursiku dan menatap langit-langit. Langit-langit terbuat dari akustik putih yang cocok untuk dilempari pensil-pensil tajam. "Saya butuh istirahat. Sekarang kamu boleh pergi."


"Baik." Billy menunduk hormat. "Saya permisi, Tuan."


Ruanganku kembali sunyi. Sambil menikmati vodka di tanganku, aku kembali merenungi hidupku -- seperti lima tahun lalu sebelum bertemu Rhea, ingatan masa kecilku dan betapa perihnya kehidupan kembali memenuhi otakku. Selama beberapa tahun, aku berpindah-pindah dari satu rumah asuh ke rumah asuh yang lain. Dengan sedikit keberuntungan, aku diadopsi oleh keluarga Sanjaya. Entah apa yang dilihat oleh ibu angkatku, Sania Sanjaya -- terhadap diriku, bocah laki-laki yang dicap nakal dan selalu berulah, katanya dia menyukai tampangku yang menurutnya "blasteran" -- walaupun tidak tahu campuran negara mana, dia menginginkan aku menjadi putranya. Yeah, kehidupan lagi-lagi menipuku, aku mengira aku akan memiliki keluarga yang harmonis, bahagia dan penuh kehangatan, kukira aku akan mendapatkan kasih sayang kedua orang tua yang lengkap, tapi ternyata...


Jauh dari harapan.


Tommy Sanjaya, ayah angkatku, dia adalah seorang lelaki hidung belang, yang setiap malam pulang dalam keadaan mabuk sambil berteriak-teriak tak jelas dan melayangkan tangan ke istrinya -- saat itu aku tidak tahu apa dan mengapa, tapi aku sering melihatnya, wanita yang kupanggil mama itu hampir setiap malam menangis. Sampai suatu malam -- Rangga kecil, demi melindungi cinta pertamanya, dengan sengaja mendorong lelaki mabuk itu dari balkon lantai dua hingga tewas.


Keberuntungan berikutnya, Rangga kecil tidak divonis hukuman apa pun karena masih di bawah umur.

__ADS_1


Ck! Beruntung, bukan?


__ADS_2