
Hampir tidak ada kursi kosong di kabin kelas ekonomi. Dalam situasi normal, aku pasti menyayangkan bila kursi kosong itu tidak tepat di sampingku, sebab aku tidak pernah berbagi sandaran lengan dengan wanita cantik mana pun. Maksudku, selain dulu -- dengan si masa lalu. Tapi tidak kali ini, aku senang berada di samping gadis cantik yang sudah menempati ruang kosong di hatiku.
Selama -- sebelum lepas landas, aku duduk diam di kursiku sendiri, sampai Billy akhirnya berhasil mendapatkan kursi penumpang lain yang posisinya persis di samping Suci. Aku pun segera pindah dan duduk di sana.
Kalau diingat-ingat, sebegitunya aku dan caraku mencintai gadis ini. Sampai Billy harus ikut-ikutan melakukan tindakan-tindakan konyol, memohon pengertian seorang wanita parubaya untuk menukar kursinya denganku, atas nama cinta. Seolah menjunjung tinggi nama cinta -- atau tidak ingin duduk di deretan belakang, wanita itu bersedia memberikan kursinya untukku -- kursi di samping Suci, di mana saat itu ia duduk di tengah.
Well, akhirnya, dalam penerbangan ini, aku bisa duduk tepat di samping kekasihku tanpa ia tahu, kejutan yang manis, bukan? Pesawat pun lepas landas.
"Mau minum apa?"
Aku menengadah memandang pramugari itu -- letih, lelah, bosan setengah mati, tapi tetap berusaha bersikap ramah. Ia dan kereta minumannya akhirnya sampai juga ke tempatku di bagian belakang. "Saya minta ginger ale," kataku.
Spontan Suci menegakkan bahu, jantungnya pasti nyaris terlonjak mendengar suaraku tiba-tiba ada di sampingnya.
"Kamu mau minum apa?" tanyaku pada Suci selagi pandangan pramugari itu menyapu kaleng-kaleng terbuka di atas kereta, lalu membungkuk dan mulai membuka laci demi laci.
Suci menoleh. "Mas Rangga? Kamu di sini?"
"Siapa, Ci?" tanya wanita di sampingnya.
Tanpa kusadari, itu ibunya. Ibu angkat. Dasar Rangga bodoh! Mana mungkin gadis buta dibiarkan duduk sendirian di dalam pesawat.
"Maaf, Pak. Kami kehabisan ginger ale," kata si pramugari.
__ADS_1
Aku mengangguk. "Ada minuman kaleng lain?"
"Masih ada satu kaleng sprite."
"Sekarang tidak ada lagi."
"Mas...sih...."
Ia membutuhkan waktu sedetik untuk menyadari bahwa itulah caraku mengatakan, "Ya, terima kasih."
Setelah aku mendapatkan minumanku, juga dua wanita di sebelahku dengan pesanannya masing-masing, si pramugari mendorong keretanya pergi, aku kembali menoleh ke dua wanita yang duduk di sebelahku.
"Ini Rangga si photographer itu?"
"Iy--"
Harus cepat, sebelum Suci mengiyakan dan mengarang-ngarang cerita bodoh di depan wanita yang ia panggil mama itu.
"Nama saya Rangga Sanjaya, Tante."
"Pemilik Sania Property," timpal Suci cepat.
"Oh, Sania Property?"
__ADS_1
Kupikir -- ekspresinya itu menyiratkan ketertarikan, kupikir ia tertarik mengenalku lebih jauh hingga aksesku untuk masuk ke dalam keluarganya terbuka lebar. Ternyata tidak.
Aku keliru.
"Itu kantor tempat Raymond kerja, lo, Ci."
Damn!
"Raymond?"
Aku tercengang. Tapi seharusnya tidak, mengingat aku sudah menebak hal ini dari awal. Tapi tetap saja -- fakta ini membuat jantungku serasa melorot ke perut.
"Ya, Raymond Dwi Anggara. Dia bekerja di kantor Nak Rangga."
Wait, aku harus mereguk minumanku dulu. Tenggorokanku rasanya kering dan tercekik.
"Ya, saya mengenal Raymond, Tante. Dia salah satu karyawan terbaik di kantor saya, sekaligus sahabat saya dari zaman kuliah."
Suci menunduk lemas, di dalam hati dan batinnya pasti sangat tegang.
"Tante mengenal Raymond? Kerabat?"
"Iya, dia itu tunangan Suci."
__ADS_1
"Oh," kataku -- berusaha setenang mungkin sementara Suci terdiam seribu bahasa.
Yap! Gadis itu tidak menyahut. Dia hanya mematung. Jadi patung!