Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Tak Berdaya


__ADS_3

"Meski kamu bermata juling atau wajahmu dipenuhi jerawat, aku tidak peduli. Aku punya rasa," singitnya, lalu ia berkata lebih pelan, "Kamu tahu, cintaku padamu bukan dari mata turun ke hati."


Aku mengangguk, dan mengingatkan diriku supaya tetap bersikap dengan lembut. Mengalah, mengalah, mengalah, itu yang harus kulakukan di hadapan gadis yang kucintai ini. "Aku tidak berpikir seperti itu, kok. Aku hanya tidak mau kamu mendadak illfeel karena tahu kalau aku ini adalah-"


"Bagaimana dengan vitamin dan suplemen itu?"


Aku tersentak. Bukan, hatiku yang tersentak. "Soal--"


"Kenapa kamu bohong?" Matanya memerah. "Aku minta pil pencegah kehamilan. Kenapa kamu beri aku vitamin dan suplemen daya tahan tubuh? Hmm? Kenapa?"


Jaga nada bicaramu, Rangga. Kalau tidak, dia akan lebih meledak-ledak. "Ehm, maaf, ya. Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin memiliki anak darimu."


"Berengsek!" cercahnya, air matanya mulai mengalir.


Dan di saat itulah aku tertunduk. "Dengarkan aku...," kataku lirih.


"Aku tidak mau hamil di luar nikah!"


"Aku--"


"Aku memang murahan!"


"Sayang--"

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau hamil! Cukup aku yang merasakan pahitnya terlahir tanpa ayah. Aku tidak mau anak-anakku bernasib sama. Aku tidak mau anakku merasakan sakitnya terbuang! Kamu ngerti?"


Aku mengerti, tapi aku tak mampu menyahut. Kuanggukkan kepalaku dan menelan ludah getir di tenggorokanku yang sakit.


"Aku tahu," katanya sedikit melunak, "kamu tidak akan lari dari tanggung jawab. Aku tahu kamu berniat menikahiku. Tapi tetap saja itu salah. Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir membelokkan nasib. Lihat sekarang, kamu dan aku terpisah. Bagaimana kalau aku hamil tanpamu? Bagaimana kalau aku mati sewaktu aku melahirkan? Anakku akan terbuang, tanpa ayah, tanpa ibu. Bagaimana?"


Tahan, Rangga. Biarkan dia meluapkan emosinya.


"Oke, aku yang salah. Aku yang mabuk di malam itu. Aku yang murahan dan ingin disentuh. Bukan salahmu."


Aku meraih tangannya dengan maksud menenangkannya, tapi ia menepis.


"Jangan sentuh aku!"


"Sayang...."


"Iya, Sayang."


"Ma-yang!"


"Ayang."


"Pakai M...!"

__ADS_1


"Iya, My Ayank."


"Menyebalkan!" Lalu ia melengos sambil menahan tawa.


Aku lega. Please, Tuhan, aku ingin kami berbaikan. Kali ini, berbaik hatilah padaku, sedikit saja.


"Baikan, ya?" pintaku seraya meraih dan menggenggam kedua tangannya.


Suci menggeleng. "Aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Aku tidak mencintaimu lagi."


"Aku tidak percaya," kataku santai.


"Terserah!"


"Ada yang kamu sembunyikan dariku?"


"Tidak ada. Aku hanya tidak bisa meneruskan hubungan kita."


Aku menghela napas dalam-dalam dan berusaha tetap santai, meski di dalam hati dan jiwaku rasanya perih tercabik-cabik. "Beri aku alasan yang masuk akal."

__ADS_1


"Tidak ada yang masuk akal," katanya, lalu ia menarik tangannya dengan kasar. "Hubungan kita mengorbankan banyak pihak. Papaku meninggal, ibuku meninggal bahkan sebelum aku sempat bertemu dengannya. Mamaku, beliau depresi karena kehilangan suaminya, dia juga kehilangan rumahnya, rumah di Bogor juga akan disita, dia hanya diberikan waktu dua bulan untuk mencari tempat tinggal lain. Mama juga tertekan karena informasi yang membuat dia terkejut." Dia berhenti bersuara seakan kehilangan pita suaranya. "Mas Raymond... Mas Raymond menolak Didie mentah-mentah untuk menggantikan posisiku. Alasannya sama, karena Didie... Didie juga tidak memenuhi syarat perjodohan itu. Dan kamu tahu, Didie sekarang luntang-lantung di Jakarta menjual diri demi uang. Dia baru lulus SMA. Masa depannya masih panjang. Harusnya... harusnya aku saja yang jual diri demi melunasi hutang Mama dan Papa. Bukan dia. Bukan adikku."


Melesak. Asap emosi serasa mengepul di atas kepalaku. Alangkah tidak bergunanya aku, pikirku.


__ADS_2