Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Ups!


__ADS_3

"Jadi, mana hadiahku?"


"Oh, oh, tukang tagih!"


"Untuk itulah aku datang kemari, bukan?"


"Well, baiklah jika kamu menagih, aku akan memberikannya untukmu."


Dia menyambarku tanpa aba-aba hingga kami berdua terhuyung ke sofa. Itu terjadi karena aku tidak siap, apalagi sigap, plus tidak fokus padanya. Sedangkan Stella nampaknya sudah ahli, dia persis di atasku, menindihku, dan langsung menyerang bibirku.


"Hadiah untukmu," bisiknya.


Ugh! Bagaimana ini? Munafik sekali jika aku menolaknya.


Well, aku menerima ciuman Stella. Kami berciuman, dalam, dan penuh gairah. Tidak cukup sampai di situ, Stella menurunkan ritsletingnya -- memberikanku akses menjelajahi tubuhnya. Aku terlena. Mau tidak mau tanganku ikut refleks menyentuhnya.


"Kamu menyukaiku?"


Aku hanya menatap matanya, tidak menyahut. Walau sebenarnya ingin, aku ingin mengatakan: ya, pada tubuhmu. Aku tertarik pada tubuhmu. Tapi tidak kukatakan, aku tidak sampai hati melukai perasaannya. Tapi bagi Stella, setiap sentuhanku dan tanda merah yang kujejakkan di dadanya merupakan jawaban ya.


Stella *elenguh, dia menyukai setiap sentuhanku. Setelah beberapa menit berlalu, dia pun berdiri, melepaskan celan* *alamnya dalam gerakan cepat, lalu melemparkannya kepadaku.


Aku tak bergeming, hanya menyeringai licik dengan tatapan lurus ke tubuhnya yang nyaris tak tertutup. Dan...

__ADS_1


Ugh!


Stella duduk bersandar di sofa dengan lutut terangkat-terlipat, dengan inti dirinya terarah kepadaku. Jujur saja sedikit ada rasa jijik aku melihatnya, jelas karena aku tidak punya perasaan apa-apa pada wanita itu. Aku tidak mencintainya. Di mataku, melihatnya dengan pose dan ekspresi seperti itu, dia terlihat seperti wanita penggoda. *elacur. Nampak begitu jalan*.


"Lakukan, please...?"


Aku berpikir sejenak. Dan sekali lagi, jujur, di dalam celanaku rasanya sudah sesak. Tapi tidak. "Jangan goyahkan prinsipku."


"Please... I need you, Rangga. Aku tidak tahan."


"Well, kuberikan sedikit bantuan."


"Bagus. Aku menantikan kehebatanmu."


"Masuk, Ngga. Please...."


Masuk? Oke!


Cusss...!


"Ah...."


Hanya jariku.

__ADS_1


"Ngga... please... aku mau milikmu...."


Aku hanya tersenyum, tapi tak berhenti. Semakin Stella mengeran*, semakin aku menyerang. Sampai dia kelelahan.


"Jahat kamu. Aku mau kamu seutuhnya."


Kutahan bibirku, meski sedikit tidak bisa. Aku tidak tahan tidak menertawainya. "Belum saatnya, Stell. Setidaknya aku sudah membantumu, kan?"


"Berengsek! Pria menyebalkan!" Dia merengut dan naik ke atas, mungkin ke kamarnya.


Sementara itu aku pergi ke dapurnya, ke wastafel untuk mencuci tangan. Well, aku butuh sabun.


Hah!


Malam itu Stella menunjukkan kebolehannya, dia memasak sendiri makan malam kami, makaroni dengan saus vodka, pasta, salad dan sebotol Brunello dari gudang anggur pribadi milik mendiang Erlan Nasution. Makan malam disajikan. Segalanya tepat seperti yang kusukai.


Kami makan dan bercakap-cakap mengenai perjalanan Stella. Dia baru saja kembali dari Paris beberapa hari sebelumnya.


"Tahu tidak, aku sedang memikirkan sesuatu," kata Stella sambil menyerokkan garpu ke sisa makaroninya. "Bagaimana kalau kita bepergian bersama? Liburan ke luar kota misalnya?"


Aku tersenyum kecil. "Sepertinya kamu bermaksud mengajakku berbulan madu. Iya?"


"Kalau kamu bersedia, kenapa tidak? Mungkin ke Bali? Atau ke luar negeri? Yang dekat-dekat saja. Bulan madu ke Singapura, misal?"

__ADS_1


Kami tertawa. Selain cantik, Stella memang sosok yang asyik untuk diajak bercanda. Hanya saja, terkadang aku merasa ada sesuatu yang mengerikan dari dalam dirinya. Sesuatu yang tidak dapat terlihat.


__ADS_2