INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 121 : KERAGU-RAGUAN


__ADS_3

yang benar saja


Saat menerobos barisan monster melalui lubang yang tercipta di dinding, apa yang Impian lihat adalah segerombolan monster lain yang begitu banyak telah memenuhu ruangan itu. Tidak ada sama sekali dark elf yang tercampur dan sudah tidak ada lagi tipe monster guardian.


Sepertinya dark elf yang ada telah di kirim ke titik sarang lain, sedangkan yang tersisa hanya dark elf kuat yang berada di kedalaman sarang. Monster guardian yang tercampur di antara monster-monster ini sepertinya hanya yang berada di paling depan, saat Impian telah menyembuhkannya.


"tidak ada lg yang perlu di selamatkan, habisi mereka semua"


Itu adalah instruksi Impian. Tentu saja informasi itu di ketahui dengan skil [The One Who's See The Truth] yang selalu aktif.


Akan tetapi, Istina, Teleri, dan para dark elf yang telah diselamatkan merasa ragu dengan instruksi Impian. Insting mereka sebagai ras elf yang berbeda dengan ras lain tidak bisa melakukan itu.


Hal yang diperintahkan Impian merupakan instruksi pembantaian, berbeda dengan perbuatan selama ini. Mereka menghabisi monster bukan untuk membantai, tetapi menghabisi satu-satu bukan dalam bentuk untuk membantai.


*Shing!


*Buk!


Para elf dan dark elf masih ragu dan hanya memukul mundur setiap monster. Tubuh dan pikiran mereka tidak dapat mengikuti arahan Impian.


"cih!"


Jika tidak bisa, aku akan bergerak sendiri!


Bukan berarti Impian begitu sombong dengan kemampuannya saat ini, bertarung melawan kumpulan monster yang memiliki level jauh diatasnya, tetapi Impian memaksakan pergerakan yang akan membuat dirinya terpojok dan mengalami situasi yang membahayakan dirinya.


"jika kalain tidak bergerak dengan benar, aku akan mati!"


Itu adalah tindakan pancingan dengan mempertaruhkan nyawa, tindakan yang akan membuat mereka mendapatkan alasan untuk bertindak menghabisi monster-monster ini. Tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang pemain yang tidak takut mati.


Memberikan alasan untuk bertarung bukan demi membantai mereka yang ada dihadapannya, tetapi alasan untuk menghancurkan musuh untuk melindungi orang lain. Jika tidak dapat melakukan apa yang tidak ingin tubuh lakukan, maka beri alasan lain agar tubuh dan pikiran dapat melakukannya.


Pikiran dan cara sembrono yang Impian pikirkan tidak masuk akal jiga dilakukan oleh seorang makhluk hidup, tetapi suatu rencana yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang disebut sebagai seorang Player.


*Trang!


bergeraklah sialan....!


Posisi Impian sudah tidak menguntungkan. Impian yang menangkis pukulan dari seorang Orc besar di udara, terjepit diantara empat monster lainnya. Tidak ada jalan keluar kecuali menerima pukulan langsung dari keempat monster yang datang.


*Sring! Sring! Sring! Sring!


*Tras!


*Jleb!


*Bang!

__ADS_1


Para elf dan dark elf datang tepat waktu. Mereka menyerang keempat monster yang akan memberikan pukulan langsung ke arah Impian.


Serangan itu sangat tajam dan dua dari keempat monster berubah menjadi debu cahaya dan menghilang ke ketiadaan. Dua dari monster terbunuh oleh mereka.


"berhenti melakukan hal yang tidak masuk akal!"


"kami juga dapat marah jika anda melakukan hal seperti ini tuan Impian"


"kugh!"


Para elf dan dark elf memprotes perilaku absurd Impian. Mereka merasa seperti di permainkan olehnya, bahkan mereka merasa bahwa tindakan Impian yang tidak memperdulikan nyawanya sendiri sangat membuat mereka marah.


Ras elf yang merupakan ras terkenal dengan pemikiran naif mereka yang cunta damai, merasa terguncang atas tindakan Impian yang tidak memperdulikan nyawanya sendiri. Wajah mereka marah dan diharuskan melakukan tindakan yang melawan insting mereka sendiri.


"jika kalian tidak bisa melakukannya, aku akan terus melakukan hal itu. jangan naif! jika alasan yang kalian butuhkan tidak masuk akal, maka buat alasan lain untuk melakukannya!"


""...""


Meski mereka mengatupkan gigi mereka, mereka tidak mencoba membalas Impian. Memang benar apa yang dikatakan Impian, hanya saja alasan untuk membantai tidak bisa tubuh mereka terima.


Impian masih melakukan hal yang sama dan para elf dan dark elf melakukan sisanya. Dengan tindakan itu, mereka berhasil membuat beberapa monster berubah menjadi butiran cahaya dan menghilang.


"jika alasan itu tidak cukup, maka buat alasan lain mengapa kalian harus melakukannya"


*Trang!


*Shing!


*Trang!


*Trang!


"Menyelamatkan para dark elf yang tergeletak disana!"


Tubuh-tubuh para dark elf yang telah dikalahkan dan tidak sadarkan diri, tergeletak cukup jauh dari lubang dinding.


"pikirlah! kenapa tubuh mereka bisa berada disana, padahal sewaktu kita kalahkan seharusnya berada disekitaran sini"


Istina dan Teleri melihat tubuh dark elf itu yang tergeletak di tanah. Mereka melebarkan mata mereka seakan memahami apa yang terjadi.


"kalian pikir para monster ini perduli dengan tubuh yang ada di tanah disekitar mereka? tujuan mereka sudah jelas hanya untuk menghabisi penyusup, mereka tidak perduli dengan teman dan kawan mereka. Lalu apa yang terjadi jika ada tubuh yang tergeletak di tanah dan menghalangi mereka untuk masuk!?"


Tidak hanya Istina dan Teleri yang mengatupkan gigi mereka, tetapi para dark elf juga mulai menggeram setelah mendengar Impian.


"mereka hanya akan menginjak-injak tubuh itu. Lalu kalian yang tidak bergerak dengan cepat dan benar, akan tahu hasilnya jika dibiarkan terus menerus"


Itu adalah kata-kata dari logika pengandaian, logika yang akan terjadi jika situasi menjadi 'andai'. Tubuh dark elf yang tergeletak di ruangan ini memang telah berpindah dari letak sebelumnya. Tidak ada luka yang menunjukan bahwa mereka telah terinjak-injak monster-monster ini.

__ADS_1


Hal tersebut menandakan bahwa tubuh mereka hanya tergeser oleh langkah-langkah monster.


Akan tetapi, tubuh-tubuh itu adalah tubuh yang berada di ruangan ini. Meski banyak monster yang terlihat, tetapi tidak memenuhi seutuhnya ruangan.


Lalu bagaimana dengan satu tubuh dark elf yang berada di pintu masuk?


Apakah akan sama dengan nasib dari tubuh-tubuh dark elf yang tergeletak di ruangan ini?


"Arghhhhh!"


"serang!!!!"


Jika telah satu terpicu, maka akan membuat rantaian yang lain. Teriakan seorang dark elf yang ingin menyelamatkan temannya, memicu emosi lainnya.


Tubuh dan pikiran mereka sudah tidak ragu. Mereka menyerang dengan menghabisi monster yang mereka lihat.


Tidak ada keraguan lagi yang terlihat di mata mereka. Mereka bergerak sepenuhnya untuk menghabisi para monster.


Melihat empat dark elf yang bertarung seperti orang bar-bar dan tidak dapat terlihat seperti seorang elf seharusnya, Istina dan Teleri mengatupkan gigi mereka dan bergerak mengahabisi para monster sepenuhnya.


*Shing!


*Trang!


*Trang!


Hal itu memang harus dilakukan. Mereka memaksakan diri meski pemandangan tidak sedap di pandang bagi seorang elf. Jika mereka tidak melakukannya, apa yang terbayang di benak mereka tidak menginginkan hal itu terjadi.


"bagus, kita bergerak ke tubuh terdekat terlebih dahulu!"


Melihat hal itu, mereka bergerak ke arah tubuh dark elf yang menggunakan pedang besar. Tubuh terdekat dari posisi mereka saat ini.


Tindakan Impian telah berhasil. Rencana licik dan terlihat seperti tidak manusiawi dilakukannya.


Sedari awal, sebenarnya Impian bisa saja dengan mudah menghindari serangan dari kepungan monster di udara. Kemampuannya untuk bergerak di udara masih ada, tetapi dia memilih untuk tidak melakukannya.


Impian memilih untuk menempatkannya dalam situasi yang berbahaya untuk menggerakan para elf naif ini.


Apakah para pemain akan menempatkan dirinya dalam situasi yang bisa merenggut nyawanya sendiri meski mereka dapat kembali hidup?


Dalam event besar seperti ini?


Tidak mungkin!


Lagi pula, itu hanya bisa di lakukan Impian yang masih memiliki kartu lain di lengan bajunya. Skil yang mencegah kematian langsung dari skil Avatar miliknya.


Skil yang mempertahankan diri selama skil tersebut aktif.

__ADS_1


Meski begitu, rencana egois Impian berjalan sebagaimana mestinya.


__ADS_2